Antropolog se-Indonesia Serukan Darurat Keindonesiaan

Oleh Liputan6 pada 17 Des 2016, 10:31 WIB
Diperbarui 17 Des 2016, 10:31 WIB
20161120-Karnaval Cinta Budaya NKRI-Jakarta
Perbesar
Peserta membentangkan bendera merah putih raksasa pada Karnaval Cinta Budaya NKRI di MH Thamrin, Jakarta, Minggu (20/11). Karnaval ini bertujuan merawat dan menyiram perdamaian, toleransi, harmoni dan persaudaraan kebangsaan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 300 antropolog dari seluruh Indonesia menyatakan Darurat Keindonesiaan. Hal ini tercetus setelah mereka memperhatikan adanya kelompok yang mempertajam perbedaan dengan melakukan politik identitas.

"Nilai keindonesiaan kita terus digerus. Kami menganggap penting menyatakan darurat keindonesiaan, agar semua pihak menyadari bahwa ini bukan soal kecil. Ini soal siapa dan apa kita sebagai Indonesia," kata salah satu perwakilan Gerakan Antropolog untuk Indonesia yang Bhineka dan Inklusif, Meutia Farida Hatta Swasono, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat, 16 Desember 2016.

Menurut dia, sering terlihat upaya yang justru menegaskan perbedaan, serta menarik garis batas antara satu dan lainnya, maupun mengucilkan pihak berbeda. Ada pula pemaksaan kehendak atas mereka yang dianggap berbeda.

Padahal, kata dia, Indonesia merupakan rumah dari keragaman agama, ras, etnis, gender, kepercayaan, keyakinan, kelas sosial, dan sudut pandang. Hal tersebut terangkum dalam semboyan persatuan bangsa, Bhinneka Tunggal Ika.

Meutia pun meminta penegak hukum bertindak tegas terhadap pemecah belah bangsa itu. Kampus dan institusi pendidikan juga harus ikut bertindak dengan mengajarkan tentang nilai kebangsaan.

"Para antropolog dari sejumlah kota di Indonesia bertukar pikiran dan pekan lalu mencapai kesamaan pandangan. Antropologi mengajarkan Indonesia yang bineka dan beragam adalah konstruksi sosial. Kekerasan, penyingkiran, pembungkaman adalah ancaman pada keindonesiaan kita," Meutia menegaskan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya