Tunggu Sponsor untuk Ganyang Junk Food

Oleh Liputan6 pada 16 Nov 2016, 15:01 WIB
Diperbarui 16 Nov 2016, 15:01 WIB

Liputan6.com, Jakarta World Health Organisation (WHO) sudah menyatakan junk food, si makanan sampah, yang banyak dikonsumsi anak-anak dan remaja kita, terbukti berbahaya. Sayangnya, tak ada kampanye anti junk food. Belum ada sponsor kah?

Mari ambil kopi dan nyalakan rokok. Tarik nafas dan kosongkan pikiran sejenak. Merenung menyimak, karena di negeri ini, sungguh susah mengajak untuk berlaku adil sejak dalam pikiran, seperti ajakan almarhum Pramudya Ananta Toer. ‘Ketidakadilan’ itu terasa ketika membincang isu tembakau atau lebih tepatnya rokok. ‏

Ya, tembakau yang dua puluh tahun lalu ‘aman-aman saja’, kini, seperti ‘barang najis’. Padahal, kalau mau dikritisi lebih jauh, kampanye anti rokok itu, juga tak luput dari kucuran pendonor seperti Bloomberg Initiative.

Maka, tak heran, kritik pedas yang disampaikan budayawan Sudjiwotedjo melalui akun twitter ‏@sudjiwotedjo sungguh mengena. Saya kutipkan lengkap tweet-nya, “Slamet pagi para pembenci rokok. Kapan kalian berani benci ke junk food? Takut ma Amrik dll ya? Rokok dan Junk Food sama2 merusak,”.

Ya, rokok dan junk food, dua komoditi itu meski sama-sama ‘nikmat’ tapi diperlakukan beda. Dalam bungkus rokok, tertulis jelas segala macam ‘tuduhan’ seperti menyebabkan impotensi, hingga kematian hingga gambar menyeramkan. Sementara junk food, dalam bungkusnya tak satu pun terselip kata-kata bahaya. Malahan senyum tawa anak-anak. Padahal, dampak pada kesehatan, luar biasa buruk.

Sejatinya, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti dilansir TIMES, secara resmi sudah dengan gamblang dan jelas menyebut bahwa junk food punya bahaya yang sama dengan rokok. Warning PBB itu disampaikan pakar Hak Pangan PBB, Oliver De Shcutter.

“Diet tak sehat dengan junk food sekarang menjadi ancaman yang lebih besar daripada tembakau. Sama seperti dunia yang mengatur risiko tembakau, kerangka konvensi diet harus segera disepakati,” kata De Schutter.

Salah satu yang disorot, bahaya obesitas akibat mengonsumsi junk food. Menurut dia, jika tembakau disorot di level global, maka sudah seharusnya bahaya junk food juga menjadi perhatian dunia internasional karena dari obesitas memicu diabetes, penyakit jantung, dan masalah kesehatan lainnya.

De Schutter, seperti dilansir TIMES, sudah meluncurkan Strategi Global pada Diet Aktivitas Fisik dan Kesehatan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak sepuluh tahun yang lalu. Namun respon WHO sangat berbeda dibanding menghadapi isu tembakau.

Cuek dan tidak peduli. Itulah sikap WHO terhadap junk food. Berbeda dengan tembakau dimana WHO dan kemudian Kementerian Kesehartan Republik Indonesia membebek begitu saja. “WHO dan Pemerintah harusnya telah fokus pada peningkatan ketersediaan kalori yang sehat, tapi mereka seringkali tidak peduli,” kata De Schutter.

Polesan media

Tentu saja, konsumsi junk food yang berlebih juga tak bisa dilepaskan dari faktor iklan yang tayang di media, baik dalam bentuk konvensional hingga new media, seperti jejaring sosial, turut membuat virus junk food menyebar luas.

Riset Centre of Behavioural Research in Cancer, Australia, menemukan fakta, iklan junk food yang wara-wiri di di media, mengubah perilaku anak-anak sehingga kian kecanduan junk food. Nah, penelitian yang mengambil sampel sebanyak 898 anak berusia 10-11 tahun ini menerapkan empat perilaku pada anak-anak tersebut.

Perilaku pertama, anak-anak diberikan iklan junk food secara penuh. Perilaku kedua, diberikan iklan junk food dan makanan sehat secara seimbang. Perilaku ketiga, diberikan iklan makanan sehat 100% penuh. Dan yang terakhir tidak diberikan iklan makanan sama sekali. Hasilnya, mudah ditebak, anak yang dicekoki iklan junk food, menunjukkan kecanduan.

Tentu saja, perusahaan junk food raksasa selalu berlindung di balik janji untuk melindungi anak-anak dengan beragam kampanye, seperti terlihat di restoran-restoran mereka.

Padahal janji tinggal janji. Di Amerika Serikat, produsen junk food kelas dunia. rata-rata anak prasekolah melihat tiga iklan untuk makanan cepat saji, setiap hari, dengan dalih iklan untuk menciptakan loyalitas merek.

Pada 2009, raksasa brand junk food juga berjanji untuk mengurangi pemasaran yang tidak sehat untuk anak-anak. Faktanya, di tahun sama, anak-anak usia enam sampai 11 melihat iklan junk food 26 persen lebih tinggi. Sementara iklan Burger King naik 10 persen. Artinya, janji sekadar janji saja.

Profesor kesehatan publik dari Universitas Yale, Kelly Brownell, mengingatkan, keluarga jangan diam saja ketika anak-anak ‘diracuni’ iklan-iklan junk food. Kata Kelly, saat ini, isu kesehatan publik bukan soal perang melawan rokok namun masalah pengaturan pola makan yang rusak karena gempuran iklan junk food.

“Kita sering kesal dengan iklan-iklan rokok yang mudah dilihat oleh anak-anak, tapi kita hanya diam saja ketika perusahaan makanan melakukan hal yang sama. Padahal, boleh dikatakan bahwa perang dalam kesehatan publik saat ini bukan lagi melawan rokok, tapi pengaturan pola makan."



(Adv)

 

Sumber: http://www.kretek.co/

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya