Pemberi Pungli Tidak Bisa Dipidana, Ini Penjelasannya

Oleh Liputan6 pada 31 Okt 2016, 11:04 WIB
Diperbarui 31 Okt 2016, 11:04 WIB
Jangan Main-main, Saber Pungli Akan Disebar ke Daerah-daerah
Perbesar
Jika ada praktik yang menyimpang, jangan ragu untuk melaporkannya ke Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). (Ilustrasi: Tv Liputan6 Petang/Arnaz Sofian)

Liputan6.com, Semarang - Belakangan ini marak operasi tangkap tangan (OTT) pungutan liar (pungli) hampir di semua daerah di Indonesia. Namun, tahukah jika masyarakat yang memberikan sejumlah uang yang masuk kategori pungli kepada aparat negara tidak bisa dijerat secara pidana?

Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Semarang Theodorus Yosep Parera di Semarang, Senin (31/10/2016), menanggapi pemasangan spanduk imbauan yang berisi "Pemberi dan Penerima Pungli Bisa Dipidana" di berbagai tempat.

"Aturan soal pungli sebenarnya sudah diatur dalam Undang-undang Tipikor," kata dia.

Menurut dia, aturan tentang pungli terdapat pada Pasal 12 huruf e Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Yosep mengutip pasal 12 huruf e, "Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri".

Ia menilai dari penjelasan pasal 12 tersebut diketahui jika pungli berbeda dengan suap.

Menurut dia, dalam pungli masyarakat yang memberikan uang berada dalam keadaan terpaksa karena memerlukan sesuatu yang harus segera diperolehnya. Adapun dalam suap, ada kesepakatan antara pemberi dan penerima.

"Berbeda lagi dengan gratifikasi aturannya," ujar dia, seperti dilansir Antara.

Oleh karena itu, ia menyarankan spanduk imbauan semacam itu dipertimbangkan kembali. Sementara masyarakat yang mengalami pungli dipersilakan untuk melapor dengan bukti yang lengkap.

Menurut dia, jangan sampai jadi laporan palsu yang justru akan menyebabkan berurusan dengan hukum.