Komjen Budi Gunawan Tak Jadi Kapolri, tapi Dipercaya Pimpin BIN

Oleh TaufiqurrohmanAhmad Romadoni pada 09 Sep 2016, 18:09 WIB
Diperbarui 09 Sep 2016, 18:09 WIB
20160907-Budi-Gunawan-Jalani-Uji-Kepatutan-dan-Kelayakan-Jakarta-JT
Perbesar
Komjen Pol Budi Gunawan saat mengikuti uji kepatutan dan kelayakan sebagai calon Kepala BIN, dengan Komisi I DPR, di Jakarta, Rabu (7/9). Budi Gunawan merupakan Calon tunggal yang di tunjuk oleh Jokowi sebagai Kepala BIN. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Ia mengantikan Sutiyoso atau Bang Yos yang menjabat sejak 8 Juli 2015.

"Komisi I DPR telah mengambil keputusan bahwa Komjen Pol Budi Gunawan layak dan patut menjadi calon Kepala Badan Intelijen Negara," ujar Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari, di ruang rapat paripurna DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 8 September 2016.

Nama Budi Gunawan tidak lepas dari kontroversi rekening tambun. Namun, penyelidikan internal kepolisian menyatakan rekening milik jenderal bintang tiga tersebut tidak ada indikasi tindak pidana.

Budi Gunawan adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1983. Meski tidak meraih bintang Adhy Makayasa atau lulusan terbaik Akpol, jenderal kelahiran Surakarta 11 Desember 1959 ini dikenal cerdas.

Budi yang pernah menjabat sebagai ajudan presiden ke-5 RI, Megawati, sempat diusulkan Presiden Jokowi sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman. Saat usulan tersebut tiba di DPR, KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka.

Di internal kepolisian, beberapa jenderal dimutasi. Kabareskrim saat itu, Komjen Suhardi Alius dimutasi menjadi Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas. Saat ini Suhardi menjabat Kepala Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT). Kursi Suhardi diisi oleh Komjen Irjen Budi Waseso.

Seiring bergulirnya penyelidikan di bawah kepemimpinan Abraham Samad, Polri pun bergerak membidik dua pemimpin KPK, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, sebagai tersangka.

Gesekan antara dua lembaga ini pun tidak terelakkan. Budi Gunawan lalu mempraperadilankan kasus yang membelitnya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hakim tunggal Sarpin Rizaldin menerima permohonan gugatan yang dilayangkan Budi Gunawan. Dengan demikian, status tersangka yang diterapkan KPK dan kini masih menjadi misteri itu gugur.

Sementara itu, Jaksa Agung HM Prasetyo mengesampingkan kasus yang menjerat dua pemimpin KPK tersebut. Di sisi lain, Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan Komjen Badrodin Haiti sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman.

Karier Budi Gunawan terus moncer setelah menjadi ajudan Presiden Megawati. Bintang satu di pundaknya dia dapat saat menjabat Kepala Biro Pembinaan Karir Asisten Sumber Daya Manusia Polri pada tahun 2004-2006 dan dipercaya memimpin Selapa (di bawah Lemdikpol) dari tahun 2006 hingga 2008.

Setelah memimpin Selapa, dia didapuk menjadi Kapolda Jambi pada tahun 2008-2009 dan dipromosikan di jabatan bintang dua atau inspektur jenderal sebagai Kepala Divisi Pembinaan Hukum.

Pada 2010, Budi dipercaya mengemban jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam). Dua tahun mengemban jabatan tersebut, Budi kembali menduduki posisi kapolda, yaitu di Bali.

Kariernya kian moncer, sehingga dia lalu dipromosikan menjabat Kalemdikpol Polri atau jabatan bintang tiga. Jabatan tersebut membawahkan sekolah-sekolah kepolisian. Batal menjadi orang nomor satu di kepolisian, Budi Gunawan terpilih menggantikan Badrodin Haiti sebagai Wakapolri.

Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono menilai, sosok Budi Gunawan cocok mengisi posisi Kepala BIN.

"Budi Gunawan itu piawai, adanya administrator yang baik, itu manajemen yang baik, dan manajemen yang baik saya kira leadership-nya baik, saya kira enggak ada masalah," kata Hendropriyono, Kamis, 8 September 2016.

Sementara Kepala BIN Sutiyoso mengatakan, pergantian Kepala BIN merupakan hal biasa. Sebagai prajurit, sudah biasa berpindah dari satu jabatan ke jabatan lainnya. Terlebih, sejauh ini dia tak pernah merasa ada masalah selama menjalankan tugas.

Dia menilai, keputusan presiden itu sudah dipertimbangkan matang oleh Presiden Joko Widodo.

"Tentu keputusan Presiden itu telah dipertimbangkan matang-matang dan dikonsultasikan, sehingga itu menjadi keputusan terbaik," ujar Sutiyoso.

Usai disetujui DPR, Budi mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang sudah memberikan kesempatan kepadanya untuk memimpin BIN.

"Tentu juga dalam kesempatan yang sangat baik ini saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI Joko Widodo, yang telah memberi amanah kepercayaan kepada saya untuk menjadi Kepala BIN," ujar Budi kemarin.

Kepada Kepala BIN saat ini, Sutiyoso, Budi juga mengucapkan terima kasih. Sebab, mulai tahap persiapan hingga tahap akhir, seluruh jajaran BIN membantunya.

"Ini membuktikan memang di BIN solid dan mendukung suksesi pergantian kepemimpinan di BIN. Kita akan bekerja bersama untuk memajukan BIN untuk lebih profesional dan lebih baik lagi," ujar Budi Gunawan.