Panglima TNI Kirim Karangan Bunga ke Rumah Duka Istri Bung Tomo

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 31 Agu 2016, 12:32 WIB
Diperbarui 31 Agu 2016, 12:32 WIB
Karangan bunga
Perbesar
Karangan bunga wafatnya istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo (Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra)

Liputan6.com, Jakarta - Sulistina Sutomo, istri mendiang Pahlawan Nasional Bung Tomo, wafat pada usia 91 tahun. Almarhumah mengembuskan napas terakhir setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Beberapa karangan bunga terlihat di rumah duka, Jalan Haji Muhasim Buntu 45, Terogong, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Rabu (31/8/2016).

Pantauan Liputan6.com, karangan bunga berasal dari Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Karangan bunga dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono juga terlihat menyusul.

Menurut cucu almarhum, Riska, beberapa pejabat sempat datang ke rumah duka, sebelum jenazah dibawa ke Bandara Halim Perdanakusuma untuk diberangkatkan ke Surabaya, Jawa Timur.

"Saya enggak tahu, siapa saja. Tapi memang tadi ada beberapa yang hadir. (Tokoh terkenal) enggak merhatiin ya, soalnya sudah sibuk," tutur Riska.

Karangan bunga wafatnya istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo (Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra)

Sulistina Sutomo meninggal dunia karena sakit dan sudah tua di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta. Perempuan 91 tahun itu akan dimakamkan tepat di samping pusara Bung Tomo di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Surabaya, Rabu sore ini.

Romantisme Si Jenderal Kancil

Bung Tomo, pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 ini menjadi tokoh penting di balik perlawanan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 'Battle of Surabaya' melawan agresi pasukan sekutu yang dimotori Inggris dan ditunggangi Belanda pada 10 November 1945.

Karangan bunga wafatnya istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo (Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra)

Di balik sosoknya yang heroik, tegas dan cenderung keras, Bung Tomo ternyata mempunyai sisi kelembutan luar biasa. Dia dikenal sangat romantis kepada istrinya. Sejak menikahi Sulistina pada 19 Juni 1947, pria yang dijuluki Jenderal Kancil oleh Bung Karno itu, selalu memperlakukan belahan jiwanya itu dengan kelembutan.

Berbagai macam panggilan sayang diberikan kepada Sulistina, salah satunya adalah Tiengke. Dalam setiap surat yang dikirimkan kepada sang istri, Bung Tomo selalu menyebut Sulistina dengan, Tieng adikku sayang, Tieng bojoku sing denok debleng, Dik Tinaku sing ayu dewe, Tieng istri pujaanku, dan masih banyak lagi.

Bung Tomo juga selalu membukakan pintu mobil untuk istrinya setiap kali bepergian. Kebiasaan yang selalu dilakukan sepanjang kehidupan mereka.