Jenazah Istri Bung Tomo Diterbangkan ke Surabaya Lewat Halim

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 31 Agu 2016, 11:14 WIB
Diperbarui 31 Agu 2016, 11:14 WIB
Pernikahan Bung Tomo
Perbesar
Pernikahan Bung Tomo dan Sulistina di Masa Revolusi

Liputan6.com, Jakarta - Istri mendiang Pahlawan Nasional Bung Tomo, Sulistina Sutomo meninggal dunia pada pukul 01.42 WIB Rabu (31/8/2016). Ia menghembuskan napas terakhirnya pada usia 91 tahun.

Sulistina meninggal dunia karena sakit di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta. Almarhumah sempat disemayamkan di Jalan Haji Muhasyim Buntu 45, Terogong, Fatmawati, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Kini jenazah Sulistina tengah dibawa ke Bandara Halim Perdana Kusuma untuk diterbangkan dan dimakamkan di daerah Ngangelrejo, Surabaya. Di Tempat Pemakaman Umum Ngangelrejo itu, jenazah Bung Tomo juga dikebumikan.

"Sekitar pukul 10.00 WIB tadi, almarhum langsung dibawa ke Halim untuk diterbangkan ke Surabaya. Rencananya, berangkat pukul 12.45 WIB. Dan dimakamkan di daerah Ngangelrejo," ucap cucu almarhumah, Riska di rumah duka.

Menurut Riska, sebelum meninggal dunia, sang nenek sempat dirawat selama dua pekan di rumah sakit.

"Namanya sudah sepuh. Nafas kan juga susah. Dan memang sempat dirawat dua minggu di rumah sakit," Riska mengungkap.

Romantisme Si Jenderal Kancil

Bung Tomo, pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 ini menjadi tokoh penting di balik perlawanan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 'Battle of Surabaya' melawan agresi pasukan sekutu yang dimotori Inggris dan ditunggangi Belanda pada 10 November 1945.

Di balik sosoknya yang heroik, tegas dan cenderung keras, Bung Tomo ternyata mempunyai sisi kelembutan luar biasa. Dia dikenal sangat romantis kepada istrinya. Sejak menikahi Sulistina pada 19 Juni 1947, pria yang dijuluki Jenderal Kancil oleh Bung Karno itu, selalu memperlakukan belahan jiwanya itu dengan kelembutan.

Berbagai macam panggilan sayang diberikan kepada Sulistina, salah satunya adalah Tiengke. Dalam setiap surat yang dikirimkan kepada sang istri, Bung Tomo selalu menyebut Sulistina dengan, Tieng adikku sayang, Tieng bojoku sing denok debleng, Dik Tinaku sing ayu dewe, Tieng istri pujaanku, dan masih banyak lagi.

Bung Tomo juga selalu membukakan pintu mobil untuk istrinya setiap kali bepergian. Kebiasaan yang selalu dilakukan sepanjang kehidupan mereka.