Sulistina Dimakamkan di Samping Pusara Bung Tomo

Oleh Dian Kurniawan pada 31 Agu 2016, 09:59 WIB
Diperbarui 31 Agu 2016, 09:59 WIB
20160831-bung tomo-jakarta-nikah
Perbesar
Bung Tomo dan istri saat menikah. (Istimewa)

Liputan6.com, Surabaya - Istri Pahlawan Nasional Bung Tomo, Sulistina Sutomo, meninggal dunia. Perempuan 91 tahun itu akan dimakamkan tepat di samping pusara Bung Tomo di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Surabaya, Rabu (31/8/2016) sore ini.

"Cak, Ibu diberangkatkan dari Bandara Halim Perdana Kusuma dengan Batik Air jam 12.50 WIB dan sampai di Suroboyo (Surabaya) disalatkan di Masjid Agung suroboyo. Baru ke Makam Ngagel, suwun," kata kerabat Bung Tomo, AH Tony, membacakan pesan singkat dari Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo-Sulistina, di Surabaya,.

Dia pun mengajak seluruh lapisan masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk ikut mengantar dan mendoakan Sulistina. "Bagi kawan-kawan yang ingin ikut menyalatkan, memberi penghomatan terakhir dengan cara ikut menghantarkan almarhumah, titik kumpulnya bisa di Masjid Agung pukul 14.00 WIB," ujar Tony.  

Sulistina meninggal dunia pada usia 91 tahun pada pukul 01.42 WIB Rabu (31/8/2016), setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Jakarta.

Sulistina meninggal dunia karena sakit dan sudah tua di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta. Sebelum dimakamkan di Surabaya, Sulistina akan disemayamkan di Jalan Haji Muhasyim Buntu 45, Terogong, Fatmawati, Cilandak Barat.

Romantis

Bung Tomo, pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920, menjadi tokoh penting di balik perlawanan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran Battle of Surabaya melawan agresi pasukan sekutu yang dimotori Inggris dan ditunggangi Belanda pada 10 November 1945.

Di balik sosoknya yang heroik, tegas, dan cenderung keras, Bung Tomo ternyata mempunyai sisi kelembutan luar biasa. Dia dikenal sangat romantis kepada istrinya. Sejak menikahi Sulistina pada 19 Juni 1947, pria yang dijuluki Jenderal Kancil oleh Bung Karno itu selalu memperlakukan belahan jiwanya itu dengan kelembutan.

Berbagai macam panggilan sayang diberikan kepada Sulistina, salah satunya adalah Tiengke. Dalam setiap surat yang dikirimkan kepada sang istri, Bung Tomo selalu menyebut Sulistina dengan "Tieng adikku sayang, Tieng bojoku sing denok debleng, Dik Tinaku sing ayu dewe, Tieng istri pujaanku", dan masih banyak lagi.

Bung Tomo juga selalu membukakan pintu mobil untuk istrinya setiap kali bepergian. Kebiasaan yang selalu dilakukan sepanjang kehidupan mereka.