Mencari Rupiah di Antara Kejaran Satpol PP

Oleh Liputan6 pada 01 Agu 2016, 19:20 WIB
Diperbarui 01 Agu 2016, 19:20 WIB
Badut Jalanan
Perbesar
Edy saat beraksi menjadi badut jalanan. (Liputan6.com/Winda Priscillia Lee)

Liputan6.com, Tangerang - Belakangan ini banyak muncul badut-badut lincah menyerupai berbagai karakter film kartun. Mereka mencari rupiah dari tangan-tangan para pengendara di traffict light atau lampu lalu lintas. Seperti badut di Jalan Veteran, Kota Tangerang, Banten.

Adalah Edy, lelaki di balik bisnis badut jalanan Tangerang ini. Pria 47 tahun itu mengaku sudah delapan bulan menekuni pekerjaan ini sebagai sumber pundi-pundinya untuk keluarganya.

"Awalnya, saya beli kostum ini nyicil, pesan dari Jakarta. Beli pisah masing-masing seharga Rp 1,3 juta," ujar Edy, mengawali cerita kepada Liputan6.com, di Jalan Veteran, Kota Tangerang, Senin (1/8/2016).

Semula, Edy merintis pekerjaan ini untuk memberdayakan keluarga dan anak-anak jalanan asuhannya. Namun, perlahan peminat pekerjaan sebagai penghibur jalanan ini berkurang.

"Dulu totalnya yang ikut gilir kostum badutnya itu ada 18 orang, sekarang tinggal setengahnya. Empat di antaranya anak saya sendiri," kata Edy.

Edy menggunakan sistem bagi hasil dalam usahanya ini. Namun, dia menambahkan honor Rp 10 ribu kepada setiap pekerjanya.

"Misal, kalau si badut dapat Rp 50 ribu, saya kasih dia Rp 30 ribu, saya Rp 20 ribu aja," jelas dia.

Namun, menjalani usaha badut ini tidaklah mudah. Selain cuaca buruk, Edy bersama anak-anak asuhnya harus berhadapan dengan Satpol PP.

Tak jarang Edy harus membayar uang tebusan, jika anak asuhnya terjaring razia Satpol PP. Namun, Edy harus bersahabat dengan hambatan ini demi menafkahi keluarga dan anak-anak asuhnya.

"Kalau usaha kayak gini pasti ada kendala, dirazialah, hujanlah. Tapi yang namanya cari nafkah, anak-anak butuh makan," tutur kakek empat cucu itu. (Winda Priscillia)