Kenapa Tito Layak Jadi Calon Tunggal Kapolri?

Oleh Nafiysul Qodar pada 15 Jun 2016, 20:01 WIB
Diperbarui 15 Jun 2016, 20:01 WIB
20160321- Pisah Sambut Kapolda Metro Jaya- Tito Karnavian dan Moechgiyarto-Jakarta- Herman Zakharia
Perbesar
Mantan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Tito Karnivian (kiri) berpose sebelum acara Pisah Sambut Kapolda Metro Jaya di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (21/3). Tito akan digantikan oleh Moechgiyarto (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat kepolisian Adrianus Meliala turut mengomentari usulan Presiden Joko Widodo tentang Komjen Tito Karnavian menjadi calon tunggal kapolri. ‎Menurut dia, Tito merupakan pilihan terbaik bagi Jokowi ketimbang jenderal bintang tiga lainnya.

‎"Saya kira memang karena stok bintang tiga yang dimiliki Polri semua serba terbatas," ujar Adrianus saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Rabu (15/6/2016).

Adrianus menjelaskan, posisi Komjen Budi Gunawan di hadapan Jokowi masih seperti tahun lalu. "‎Bahwa Pak Jokowi tidak suka dengan Pak BG," tutur dia.

Sedangkan Kepala BNN Komjen Budi Waseso alias Buwas dianggap tidak memiliki kesamaan gaya dengan Jokowi.‎ Sementara Komjen Nur Ali sebentar lagi akan dihadapkan dengan masa pensiun.

"Kalau Pak Putut (Putut Eko Bayuseno) karena legacy SBY maka tidak mau, dan juga Pak Putut sadar sehingga tidak ambisi menjadi kapolri. Lalu Pak Syafrudin (Kepala Lemdikpol) karena mungkin kalau bicara politik lebih ke JK, sehingga dikhawatirkan tidak loyal. Kemudian Pak Suhardi (Sestama Lemhanas Suhardi Alius) mungkin sama dengan Pak BG. Jadi tinggal Pak Tito," beber mantan komisioner Kompolnas itu.

Tito merupakan kandidat termuda di antara jenderal bintang tiga lainnya. Jika nanti dilantik menjadi kapolri, maka Tito akan melangkahi lima angkatan di atasnya. Namun Adrianus yakin Tito mampu memimpin korps Bhayangkara itu dengan baik.

"Dia akan menanggung beban mental (memotong generasi). Namun dengan dukungan presiden, masyarakat, dan DPR, Tito akan mampu menanggulanginya," kata Adrianus.

Adrianus beranggapan, selama ini presiden tidak bisa lepas dari dukungan petinggi Polri dan TNI. ‎Karena itu, sang pemilik otoritas kerap menempatkan orang-orang dekatnya di posisi tersebut.

‎"Mana ada presiden yang mau melepaskan grip pada dua kaki, yakni kaki TNI dan Polri, maka dia akan memilih orang yang loyal betul pada dia," ucap Adrianus.

"Nah saya rasa Tito sudah menunjukkan pada beliau (Jokowi) keloyalannya waktu dia menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, bersinergi dengan loyalis lainnya yaitu Ahok. Ini bicara politik ya," sambung dia.

Alasan lain, kata dia, Jokowi tidak ingin lagi memilih Kapolri 'ganjel pintu' atau alternatif, seperti yang terjadi pada Jenderal Badrodin Haiti yang naik secara otomatis dari posisi Wakapolri.

Saat itu situasi di tubuh Polri sedang goyang di mana BG sebagai calon tunggal tengah diterpa kasus rekening gendut.

‎"Sebetulnya Pak Dwi bisa juga sebagai ganjel pintu yang kedua, tapi itu kan membuat Presiden berada pada posisi jangka pendek terus. Padahal dia butuh teman jangka panjang memikirkan bangsa ini," kata Adrianus.