Jeritan Korban Kejahatan Seksual di Pancoran Dikira Kuntilanak

Oleh Nafiysul Qodar pada 13 Mei 2016, 18:39 WIB
Diperbarui 13 Mei 2016, 18:39 WIB
Ilustrasi Pencabulan
Perbesar
Ilustrasi Pencabulan (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Jakarta - Rabu malam, 11 Mei 2016, Suparman bersama tiga rekannya, yakni Suroto, Wardiyo, dan Waya tengah duduk-duduk di pelataran rumah sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok. Saat itu pria yang menjabat sebagai Ketua RT 10/RW 06 Kelurahan Pancoran, Jakarta Selatan, tersebut sedang kesulitan tidur.

‎Dia pun memilih menghabiskan malamnya bersama beberapa warga lainnya, sekaligus memantau keamanan lingkungan. Jam menunjukkan pukul sekitar 00.30 WIB dinihari. Saat asyik mengobrol, tiba-tiba keempat bapak tersebut dikejutkan dengan suara jeritan perempuan.

Setelah didengarkan secara seksama, suara tersebut ternyata berasal dari kuburan wakaf milik H Naseh di RT 14/ RW 06, Kelurahan Pancoran. Jarak kuburan tersebut hanya berkisar 50 meter dari lokasi Suparman berada.

"Awalnya saya mengira itu suara kambing. Soalnya di sebelah kuburan itu kan ada kandang kambing," ujar Suparman saat berbincang dengan Liputan6.com di lokasi, Pancoran, Jumat (13/5/2016).

‎Suparman bergeming di tempat duduknya. Dia dan tiga pria paruh baya itu tetap melanjutkan obrolan mereka.

Namun suara jeritan kembali terdengar. Kali ini suara tersebut terdengar lebih kencang ‎dari sebelumnya. Suparman mengungkapkan, suara tersebut seperti kucing yang tengah bertengkar. Lama kelamaan, suara berubah seperti orang menangis.


"Saya kira kucing berantem, saya diemin lagi. Tapi kok lama-lama seperti orang nangis. Saya kira itu anak tetangga sebelah yang nangis," dia bercerita.

Rasa penasaran pun menghampiri Suparman dan tiga rekannya. Keempat bapak itu lalu menghampiri sumber suara. Sempat terbesit rasa takut kala keempat warga itu mencoba menembus kegelapan kuburan. Bahkan mereka sempat khawatir apabila sosok yang didekati itu merupakan makhluk halus, seperti kuntilanak.

"Ya sebenarnya ada rasa takut. Perasaan ke sana (mengira suara kuntilanak) ya ada juga. Sempat merinding juga, namanya ada suara jerit di kuburan," ucap Suparman sambil mengusap-usap tengkuk lehernya.

Suparman kaget bukan kepalang saat mendapati seorang gadis belia tergeletak di salah satu sudut kuburan. Apalagi saat pertama kali ditemukan, sang gadis yang belakangan diketahui bernama Y (12) dalam kondisi setengah telanjang.

"Pas kita temuin dia sendiri, kayaknya mabuk berat soalnya mulutnya bau tuak (sejenis minuman keras)," ungkap dia.

Keempat warga tersebut kemudian membawa Y ke pos kamling RT 14/RW 06 Kelurahan Pancoran. Sekitar pukul 03.30 WIB, korban mulai sadar dan menceritakan apa yang telah dialaminya. Beberapa warga lainnya mencari keluarga korban.

"Sekitar jam 4 Subuh, ada warga yang jemput ibunya dibawa ke pos kamling. Di situ dia (korban) cerita kronologisnya, terus dibawa pulang sama ibunya," jelas Suparman.

‎Paginya, Kamis, 12 Mei 2016 ibu korban berinisial M (35) melaporkan kejadian yang dialami putrinya ke Polsek Pancoran. Perempuan yang bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Senayan ini juga mengantarkan putrinya ke RS Fatmawati untuk divisum.

Benar saja, dalam waktu cepat polisi berhasil mengamankan empat pria yang diduga telah mencabuli Y. Keempat laki-laki tersebut, yakni IP (18), AS (28), MR (22), dan AI (19) digelandang ke Mapolres Metro Jakarta Selatan.

Setelah diperiksa intensif, polisi akhirnya menetapkan dua orang, yakni IP dan AS, sebagai tersangka pencabulan. Sementara dua orang lainnya, MR dan AI, masih diperiksa sebagai saksi.

Atas perbuatannya tersebut, IP dan AS kini mendekam di balik sel tahanan Polres Metro Jakarta Selatan. Keduanya dijerat dengan UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.