Jokowi: Sinergi Pusat dan Daerah Kunci Memenangkan Persaingan

Oleh Rinaldo pada 07 Mei 2016, 23:47 WIB
Diperbarui 07 Mei 2016, 23:47 WIB
jokowi
Perbesar
Presiden Jokowi Menutup AITIS 2016 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/5/2016). (Tim Komunikasi Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menutup Apkasi International Trade and Investment Summit (AITIS) 2016 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta. Acara tahunan yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) tersebut berlangsung sejak 5 Mei 2016 dan bertujuan mempromosikan potensi sektor unggulan dari seluruh kabupaten. 

Presiden yang didampingi Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam penutupan acara tersebut mengatakan, kunci untuk memenangkan persaingan pada era kompetisi sekarang ini ialah adanya kesinambungan antara pemerintah pusat dan daerah. 

"Kita sudah masuk era persaingan. Salah satu kunci memenangkan persaingan ialah adanya sinergi pusat dan daerah," kata Jokowi dalam keterangan tertulis Tim Komunikasi Presiden, Sabtu (7/5/2016). 

Jokowi menjelaskan, bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan daerah di antaranya dapat dilakukan dengan cara merombak regulasi-regulasi penghambat. Regulasi-regulasi yang ada saat ini sudah terlalu banyak sehingga menghambat proses pengambilan tindakan. 

"Kita negara besar, tetapi kecepatan kita untuk bertindak dihambat aturan sendiri. Saat ini ada sekitar 42.000 aturan pusat dan daerah. Dengan aturan sebanyak ini, kecepatan bertindak jadi lambat. Padahal perubahan global sangat cepat," jelas Presiden.

Dia mengharapkan paket kebijakan ekonomi yang saat ini telah berjalan, mampu ditindaklanjuti daerah dengan baik, dalam bentuk implementasi aturan daerah yang berkualitas dan tidak menghambat.

"Sekarang ada paket deregulasi ekonomi satu sampai dua belas. Mestinya paket-paket tersebut ditindaklanjuti oleh daerah dalam implementasi aturan daerah. Jangan buat aturan yang justru menghambat gerak kita. Saat ini ada 3.000-an perda yang justru menghambat investasi," imbau Jokowi.

Pembangunan Infrastruktur

Selain perombakan regulasi-regulasi penghambat, Presiden menjelaskan, sinergi antara pusat dan daerah juga dapat dilakukan dengan percepatan pembangunan infrastruktur di daerah. Percepatan pembangunan tersebut dapat dilakukan bila daerah memberi kemudahan dalam mengeluarkan izin investasi. 

"Saya titip percepatan pembangunan infrastruktur, misalnya jalan tol dan pelabuhan. Harus pandai-pandai memasarkan daerah, sampaikan ke calon investor, kemudian tindak lanjuti dengan percepatan perizinan sehari bahkan sejam selesai," tegas Jokowi. 

Namun demikian, dia kembali mengingatkan kepada pemerintah daerah untuk selalu menyiapkan sumber daya manusia yang andal, untuk mengimbangi percepatan pembangunan infrastruktur tersebut. 

"Begitu infrastruktur jadi, daerah harus antisipasi dengan SDM yang baik. Tambang Masela delapan tahun lagi, maka anak-anak lulus SMA langsung sekolahkan saja ke luar negeri, begitu selesai siap. Antisipasi seperti ini yang harus dilakukan," tegas Jokowi. 

 

Terkait dengan kemudahan investasi dan bisnis, Presiden kembali menekankan harapannya agar Indonesia mampu mengejar negara-negara lain dalam peringkat kemudahan bisnis. Tahun lalu, Indonesia berada di peringkat 109 dari 189 negara. 

"Jauh sekali dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Saya minta ke Menko Perekonomian, target saya tahun ini ranking 40," sambung Jokowi. 

Pengembangan Daerah Harus Fokus 

Dalam kesempatan yang sama Presiden juga mengharapkan agar saat ini daerah mulai berfokus pada potensi yang unggul di daerahnya masing-masing. Hal ini bertujuan untuk efisiensi dan memunculkan ciri khas dari masing-masing daerah. 

"Harus berani fokus, super fokus. Jangan semua dikerjakan, kita akan kehilangan efisiensi. Saya berikan contoh, sebuah kota di Amerika, Sunnylands, kota itu hanya konsentrasi pada lapangan golf, satu kota ada 37 lapangan golf. Setiap hari ada ratusan jet pribadi," ujar Presiden. 

Lebih lanjut Presiden mengatakan, terlalu banyak berkosentrasi di berbagai bidang pekerjaan justru akan mempersulit pemerintah daerah itu sendiri dalam manajemen pengawasannya.

"Kabupaten khusus ngurusin bola, menjadi kota bola. Jangan semua dikerjakan, semakin fokus, semakin baik. Kekuatan kabupaten apa? Diurus betul, nelayan diurus betul, industri diurus betul," tandas Jokowi.