Pantang Menyerah: Kisah Preman Tobat yang Bangun Panti Asuhan

Oleh Liputan6 pada 08 Apr 2016, 14:27 WIB
Diperbarui 08 Apr 2016, 14:27 WIB
Pantang Menyerah: Kisah Preman Tobat Membangun Panti Asuhan
Perbesar
Sekarang ini Priyo dikenal sebagai pengasuh anak-anak dan pendiri sebuah panti asuhan.

Liputan6.com, Sleman - Bermodal doa dan keyakinan, pria asal Sleman, Yogyakarta, ingin bisa menjadi pribadi yang baru dan lebih baik.

Dia adalah Priyanggono alias Priyo yang ingin meninggalkan sepenuhnya kehidupan gelap sebagai preman dan penagih utang.

"Di saat saya keluar dari debt collector selama 8 tahun saya keluar, dalam posisi nyaman, karena minimal waktu itu saya keluar itu gaji saya Rp 4 juta, bahkan bisa lebih," ujar Priyo.

Setelah melepas ptofesi sebagai penagih hutang, pria bertato ini sempat berjualan soto dan menggambar di kos-kosan.

"Akhirnya saya keluar (dari debt collector) saya jualan soto, di kos-kosan itu saya menggambar, yang sebenarnya saya juga tidak tahu apakah akan jadi nyata atau tidak, tetapi kan karena memang saya hanya punya keyakinan sama Allah saja, akhirnya saya gambar." kata Priyo.

Terlepas dari keterbatasan sumber daya, ternyata Priyo mampu mewujudkan harapannya.

Priyo merasa takut saat ingin membangun Panti Asuhan Daarul Qalbi, karena latar belakang hidupnya sebagai seorang preman.

"Dari Qolbi itu sebenarnya, mimpi saya, tekad saya, merasa ketakutan akan usaha saya. Tapi karena back ground-nya saya, satu penuh dengan dosa, yang kedua apa yang akan saya bawa di saat mati," ujar Priyo.

Sekarang Priyo dikenal sebagai pengasuh anak-anak dan pendiri sebuah panti asuhan. Ia tidak ingin anak-anak terjerumus seperti dirinya dulu.

"Kalau ada tantangan besar, berbaik sangkalah sama Allah. Berarti kau akan menjadi orang besar," kata Priyo.

Saksikan kisah Priyo selengkapnya dalam Pantang Menyerah yang ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Jumat (8/4/2016), di bawah ini.