Hasta Brata di Atas Kanvas ala Kabareskrim

Oleh Audrey Santoso pada 21 Mar 2016, 21:15 WIB
Diperbarui 21 Mar 2016, 22:16 WIB
Komjen Anang Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Menjadi polisi bukan berarti tidak bisa berkarya di bidang seni. Seperti yang dilakukan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisaris Jenderal Anang Iskandar.

Bersama pelukis ternama asal Surabaya Cak Kandar, Anang memamerkan hasil karya lukisan bertema 'Dua Tanda' di lobi Hotel Sultan, Sudirman, Jakarta Pusat hari ini hingga 24 Maret 2016.

Dari 13 lukisan karya Anang, ada 1 lukisan alam semesta yang dinilai dia sangat bermakna. Lukisan beraliran abstrak tersebut diberi judul Hasta Brata. Dalam kisah pewayangan, Hasta Brata merupakan 8 perilaku atau sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin.

"Ini saya sebutkan Hasta Brata. Sesungguhnya imajinasinya ajaran kepemimpinan bahwa hidup itu memang seperti ini, semrawut dan berputar," kata Anang kepada Liputan6.com di Hotel Sultan, Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (21/3/2016).

"Tidak ada orang hidup di satu lini, pasti berputar-putar. Ada pengaruh dari benda-benda alam," sambung dia.

Dalam lukisan tersebut, terdapat gambar bulan bulat, dikolaborasikan dengan wajah manusia yang memiliki mata teduh.

Menurut polisi yang hobi melukis sejak duduk di bangku SMA ini, gambar tersebut memiliki makna, kepemimpinan manusia seharusnya dapat menjadi terang bagi masyarakat yang dipimpinnya.

"Wajah bulat mengisyaratkan bulan, memberikan pepadangi (penerang) jagat. Mengimajinasikan ajaran kepemimpinan, supaya manusia seharusnya bisa membuat terang alam semesta ini, dunia ini, di kala mereka kegelapan," kata Anang.

Di sudut paling atas lukisan, Anang juga menggambar bulatan putih kecil yang diinterpretasikan sebagai pusat tata surya, Matahari.

Maknanya, pemimpin seharusnya dapat memberi kekuatan bagi orang-orang di sekitarnya, laiknya Matahari yang memberi energi untuk bumi.

"Lalu ada bulat putih, matahari, harus bisa memberikan energi. Kalau menjadi pemimpin harus bisa memberikan energi kepada orang-orang di bumi," kata Anang.

Sementara, goresan tinta kuning paling atas lukisan menggambarkan bintang. Filosofinya, pemimpin harus menjadi petunjuk berperilaku rakyatnya, karena bintang sejatinya petunjuk arah.

"Ini ada gambar bintang, bintang itu patokan. Pemimpin itu harus bisa jadi patokan," kata Anang, sambil menunjuk ke arah sisi lukisan bagian atas.

Di bagian tengah lukisan, sang jenderal menorehkan bulatan kecil yang ia interpretasikan sebagai bumi. Maknanya, seorang pemimpin harus seperti bumi yang memberi kehidupan.

"Lalu ada seperti bumi, pemimpin itu harus seperti bumi, ditanam apa saja tumbuh. Memberi berkah rahmat bagi masyarakat," ujar lulusan Akademi Kepolisian 1982 itu.

Anang juga menggoreskan tinta merah dan kuning bergelombang di bagian bawah lukisan ini, yang melambangkan api dan air.

Filosofi goresan terakhir itu, menggambarkan, seorang pemimpin harus bisa mengalir ke segala arah seperti air, dan harus bisa berkomunikasi dengan semua kalangan. Tak hanya masyarakat kalangan atas.


"Hasta Brata ini alam semesta, makanya ada api dan air. Air harus waroto-warata, harus meluap ke mana-mana. Harus bisa komunikasi ke segala arah. Jangan hanya ke orang hebat saja, orang-orang di bawah juga," tutup Anang.

Menyambut Pensiun

Karya Anang, mendapat komentar dari Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti, yang membuka peresmian pameran lukisan ini.

"Orang itu kan punya talenta masing-masing. Kalau kita bisa mengidentifikasi diri, kita bisa mengembangkan," kata Badrodin kepada Liputan6.com, usai peresmian pameran ini.

"Mungkin beliau menekuni kembali menjelang pensiun, daripada kerjaan-kerjaan lain, ia tekuni bakatnya," sambung dia.

Badrodin ternyata sudah lama mengetahui bakat jenderal kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1958 itu.
Namun baru kali ini, ia dapat menikmati lukisan-lukisan karya Anang.

"Sebelumnya saya pernah mendengar, tahu dia belajar melukis. Tapi belum pernah lihat hasilnya," kata dia.

Namun, jenderal bintang 4 ini tak paham betul makna karya-karya lukisan Anang, saat pertama kali melihat.

"Setelah tadi lihat, benar kata Pak Anang, semau-maunya pelukis aja. Dibuat ruwet dikasih judul. Dia sendiri yang bisa menerangkan," ujar Badrodin, sambil tertawa.

"Itu namanya seni," imbuh Kapolri.

Selain mengetahui bakat melukis anak buahnya itu, Badrodin juga mengenal sahabat Anang, Cak Kandar. Bahkan, dia sudah membeli lukisan wajahnya hasil karya Cak Kandar, saat dia berdinas di Jawa Timur.

"Kalau Cak Kandar saya sudah kenal lama, dari saya di Jawa Timur. Ini sudah saya beli, sudah ada di rumah," ucap Badrodin, seraya menunjuk lukisan wajahnya.