Kisah Fitri 'Spiderkid' Sebelum Tewas di Stasiun Pondok Ranji

Oleh Pramita Tristiawati pada 04 Feb 2016, 14:34 WIB
Diperbarui 04 Feb 2016, 14:34 WIB
Makam Fitri
Perbesar
Makam Fitri sang Spiderkid (Liputan6.com/ Pramita Tristiawati)

Liputan6.com, Jakarta - Fitri Aulia (14), gadis yang sering memanjat menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), meninggal dunia di Stasiun Pondok Ranji, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Menurut keterangan sang ibu, Sumarni (46), sebelum tewas, anaknya itu sempat dipukuli warga dan terjatuh dari atap rumah salah satu tetangganya.

Saat didatangi di rumahnya, Jalan Menjangan RT 05/04, Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Kamis (4/2/2016), Sumarni tengah duduk-duduk santai dengan anak bungsunya. Tak ada lagi suasana duka. Fitri, yang kerap dipanggil Pipit semasa hidup, telah dimakamkan pada Rabu, 3 Februari kemarin.

Tidak ada tenda yang dipasang di depan rumah, bangku plastik juga tidak ada. Para tetangga pun tidak ada yang berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa. Barulah pada pukul 13.00 WIB sehabis hujan turun, kakak kandung ibunda Pipit berdatangan.

Di sela duka citanya, Sumarni menceritakan awal mula kejadian sebelum anaknya itu tewas secara mengenaskan.

"Rabu pagi Pipit beli nasi uduk dekat rumah sini. Dia enggak sengaja menjatuhkan nasi di sana milik salah satu tetangga," ujar Sumarni.

Mendadak sontak para tetangga kompak memarahinya. Seperti stres karena dimarahi, Pipit pun berlari mencari apa yang bisa dinaikinya.

Akhirnya, ada mobil yang melaju di jalan raya dekat rumahnya. Langsung dia membuka pintu mobil dan naik. Aksi Pipit ini membuat kaget si pemilik mobil yang kontan menyuruhnya untuk turun.

Dia pun terus berlari dan naik ke atap rumah salah satu tetangga. Warga lalu menyuruhnya untuk turun. "Di sana kata sejumlah warga dia dipukuli, saya enggak lihat," tutur Sumarni sembari terisak.

Saat Sumarni datang, dia hanya melihat Pipit sedang dinasihati warga sana. Entah karena merasa malu atau emosi, Sumarni ikut memarahi Pipit, tanpa melihat ternyata tubuh anaknya itu sudah penuh dengan luka lebam.

Keluarga Fitri sang Spiderkid (Liputan6.com/ Pramitha Tristiawati)

Tidak Semangat

Pipit pun sempat pulang ke rumah, sebab siang harinya dia ada jadwal untuk latihan olahraga panjat tebing. "Alhamdulillah dia ada yang mengarahkan. Tapi hari itu dia enggak semangat, seperti kesakitan," ujar dia.

Sepulang dari latihan panjang tebing, Sumarni melihat Pipit muntah sebanyak 2 kali di depan rumahnya. Dia pun mengajak anaknya itu untuk berobat ke dokter. Belum sempat berangkat, Pipit sudah berlari-larian ke jalan raya.

Sumarni berusaha mengejar. Bukan anaknya yang didapat, malahan potongan-potongan pakaian yang dikenakan anaknya itu. Pertama, kaosnya, lalu berlari sedikit lagi celana sampai pakaian dalamnya.

Menyadari anaknya telanjang sambil berlari, Sumarni memacu larinya dengan cepat. Namun yang dia dapat, tubuh anaknya yang sudah tergeletak di rel kereta Stasiun Pondok Ranji.

"Kata orang-orang di sana dia coba mengejar kereta. Ada lagi yang bilang dia manjat bangunan di sana, tapi terjatuh dan tubuhnya langsung ke peron," ucap Sumarni.

Dia melihat Pipit sudah membuka dan menutup mulutnya, seperti berusaha bernapas dengan terengah-engah. Hingga akhirnya dia melihat mulut anaknya itu benar-benar tertutup rapat. Tidak ada lagi embusan napas keluar.

Namun saat orang-orang menyuruhnya untuk membawa ke klinik atau rumah sakit, Sumarni menolaknya. Dia berkeyakinan kalau anaknya itu sudah tewas. Sumanrni memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah.

"Di rumah saya panggil dokter untuk benar-benar memastikan, Pipit memang sudah meninggal," ujar Sumarni.

Barulah pada pukul 18.45 WIB, gadis yang kerap memanjat menara SUTET itu dimakamkan di TPU yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya.