VIDEO: Wisata Taman Kupu-Kupu dan Tangkuban Perahu Ramai

Oleh Liputan6 pada 02 Jan 2016, 08:32 WIB
Diperbarui 02 Jan 2016, 08:32 WIB
Melihat Keindahan Tangkuban Perahu
Perbesar
Gunung Tangkuban Perahu ini terakhir kali meletus pada tahun 2013, tetapi hingga saat kini masih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang menyukai tempat eksotis tersebut. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Kebumen - Sebuah taman kupu-kupu yang terletak di Desa Alian, Kecamatan Krakal, Kebumen, Jawa Tengah memang masih tergolong tempat wisata baru. Jadi, tak ada salahnya jika Anda bersama keluarga mengunjungi objek wisata ini.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (2/1/2016), cukup membayar Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per orang, Anda bisa menikmati ratusan jenis kupu-kupu yang cantik.

Anda juga dapat menyaksikan langsung proses metamorfosa mulai dari ulat menjadi kepompong hingga kupu-kupu mengepakkan sayap cantiknya.

Para wisatawan diperbolehkan menangkap kupu-kupu, tetapi tidak boleh dibawa pulang melainkan harus kembali dilepas ke alam bebas. Setelah puas bermain di area taman kupu-kupu, para pengunjung juga bisa melihat museum serangga.

Lalu, berwisata rasanya tak lengkap tanpa cinderamata. Para pengunjung pun bisa membeli aneka cinderamata cantik dari kupu-kupu yang sudah diawetkan. Harganya bervariasi dari Rp 10.000 sampai Rp 100.000.

Sementara itu, hujan yang kerap mengguyur sejak pagi tidak menyurutkan minat pengunjung untuk berwisata di kawasan Gunung Tangkuban Perahu di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Selepas pintu masuk kawasan Tangkuban Perahu, antrean kendaraan sudah terlihat hingga 2 km menuju pos parkir terdekat. Bahkan untuk menujuk puncak Kawah Ratu, banyak wisatawan yang terpaksa berjalan kaki atau naik ojek.

Banyak pengunjung yang berasal dari luar daerah sengaja memilih gunung api yang masih aktif ini untuk mengisi libur tahun baru bersama keluarga.

Menurut legenda masyarakat Sunda, Gunung Tangkuban Perahu berasal dari perahu yang dibuat Sangkuriang. Perahu dibuat sebagai syarat agar bisa menikahi Dayang Sumbi yang tidak lain adalah ibunya sendiri.

Namun, Sangkuriang gagal membuat perahu sebelum fajar seperti yang disyaratkan. Karena marah, perahu itu ditendang oleh Sangkuriang dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.