Beginilah Pengaturan Pintu Perlintasan Kereta

Oleh FX. Richo Pramono pada 08 Des 2015, 15:55 WIB
Diperbarui 08 Des 2015, 15:55 WIB
Beginilah Pengaturan Pintu Perlintasan Kereta
Perbesar
Walau dibantu alat, tugas penjaga tidak berkurang karena alat yang dimiliki PT KAI masih harus dikendalikan secara manual. (FX. Richo Pramono/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat sadar, pintu perlintasan kereta berfungsi melancarkan lalu lintas perkeretaapian dan menjaga keselamatan para pengguna jalan lain yang hendak melintasi rel. Tapi, tidak banyak yang tahu bagaimana sistem pintu perlintasan kereta itu bekerja.

Liputan6.com menemui Endang, petugas pos perlintasan Tubagus Angke, Jakarta Barat, untuk mengetahui lebih jauh tentang cara kerja sistem buka tutup palang pintu. Endang merupakan penjaga perlintasan yang menjadi saksi tabrakan maut antara commuter line rute Jatinegara-Bogor dan Metro Mini B80, Minggu 6 Desember 2015.

Endang menerangkan, setiap petugas yang berjaga di pos perlintasan dilengkapi alat sistem perlintasan kereta. Walau dibantu alat, tugas penjaga tidak berkurang karena alat yang dimiliki PT KAI masih harus dikendalikan secara manual.

"Enggak ada yang otomatis, Mas. Semuanya serba manual. Kecuali sistem peringatannya saja yang otomatis nyala, seperti alarm. Kalau buka tutup palang, harus dilakukan sendiri," ujar Endang, Selasa (8/12/2015).

Sambil menunjuk panel kontrol, ia menerangkan arti kode yang tertera pada lampu alarm. Setiap kode, kata dia, menunjukkan asal dari kereta yang akan lewat. Lampu dan alarm itu menyala jika jarak kereta 700 meter menuju perlintasan. Pertanda itu merupakan pemberitahuan bagi semua petugas perlintasan kereta.


"Kalau dilihat di sini, ada lampu alarm bertuliskan 'Dari KPB dan Dari AK'. Kalau lampu dari KPB nyala, berarti ada kereta dari Kampung Bandan. Kalau dari AK nyala, berarti ada kereta dari Angke. Lampu dan alarm nyala kalau jarak kereta ke sini sudah 700 meter. Ada sensornya," terang Endang. #

Setiap kode pada panel menunjukkan asal dari kereta yang akan lewat.

Setelah pertanda diterima, ia tidak bisa langsung menutup palang. Ia harus menunggu telepon dari ruang kontrol PT KAI yang mengabari jika kereta sudah dapat izin lintas dan lampu peringatan sudah berwarna hijau.

"Baru deh saya bunyikan alarm peringatan yang bunyinya keluar di toa (pengeras suara) perlintasan, terus tutup palangnya, mencet tombol Gate," lanjut Endang.

Tugas Endang tidak berhenti sampai menutup palang pintu perlintasan kereta. Ia tetap harus mengontrol apakah ada kendaraan yang berada di bawah palang dan berpotensi terhimpit palang.

Ia sengaja melambatkan kecepatan menutup palang menggunakan tombol darurat. Namun, banyak pengendara justru mempercepat laju kendaraannya saat palang pintu hendak menutup.

"Saya pakai tombol Emergency Stop. Saya pencet pelan-pelan. Takutnya kan ada mobil yang kegencet palang, padahal pengendara sudah harus berhenti kalau ada peringatan bunyi. Tapi kan masih banyak yang nekat juga," keluh Endang.

Setelah palang tertutup sempurna, Endang tetap berdiri di luar pos untuk menyambut kedatangan kereta. Selain itu, ia berjaga untuk memastikan tidak ada kendaraan yang menerobos masuk palang pintu perlintasan kereta.

"Saya selalu sambut kereta datang sambil ngarahin kendaraan kalau ada yang masuk atau nerobos pintu. Kalau kereta sudah lewat, saya buka pintu dan kasih laporan ke atas lewat telepon kalau kereta sudah lewat," pungkas Endang.