Mengintip Kesakralan Air Mancur Gedung DPR

Oleh Liputan6 pada 12 Nov 2015, 20:24 WIB
Diperbarui 12 Nov 2015, 20:24 WIB
20151105- Gedung Nusantara DPR RI-Jakarta- Johan Tallo
Perbesar
Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta, Rabu (4/11/2015). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Marjan (54) sudah bekerja di Gedung DPR selama sekitar 25 tahun. 11 Tahun terakhir, ia bekerja di bagian pengatur air mancur.

"Tugas saya membersihkan, menguras dan menjaga sehari-harinya, jangan sampai kekurangan air. Menghidupkan dan mematikan air mancur yang ada di DPR," ujar Marjan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/11/2015).

Marjan menceritakan setiap hari sudah harus tiba di Gedung DPR sebelum pukul 06.30 WIB guna menghidupkan air mancur. Pada sore harinya, ia harus menunggu Ketua DPR untuk pulang terlebih dulu.

"Setelah Ketua DPR pulang, saya baru matikan air mancur. Kalau belum pulang, ya saya mesti bersabar," kata ayah dua anak ini.

Marjan yang merupakan putra asli Blora, Jawa Tengah begitu menikmati pekerjaan tersebut. Menurut dia, ada kesakralan di gedung DPR.

"Air Mancur di DPR ini adalah bagian dari sakral DPR. Bila air mancur itu tak ada, Gedung DPR sepertinya tak sakral. Kesakralan itu yang menjadi tugas saya," jelas Marjan.

Untuk menjaga kolam air tersebut, ia melakukannya selama 2 kali dalam sepekan. Kadang dengan dibantu anaknya, ia menguras dan membersihkan kolam sepanjang 140 meter dan lebar 22 meter itu.

"Anak saya pernah membantu saya untuk menguras, membersihkan dan membuang lumut yang ada di tugu yang terdapat di kolam. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak minder atau malu karena bapaknya hanya penjaga air mancur," tukas Marjan. (Ant/Ali/Mut)