1 Orang Tewas dan 4 Rumah Tertimbun Akibat Longsor di Bogor

Oleh Liputan6 pada 08 Nov 2015, 23:56 WIB
Diperbarui 08 Nov 2015, 23:56 WIB
Ilustrasi Tanah Longsor-2
Perbesar
Ilustrasi Tanah Longsor

Liputan6.com, Jakarta - Hujan yang turun terus menerus menyebabkan longsor di beberapa tempat di Kota Bogor, Jawa Barat. Longsor yang terjadi pada pukul 15.00 WIB ini menimpa 1 rumah dan menewaskan 1 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban tewas bernama Ade Ismail (18), warga Pancoran Mas RT 01 RW 08 Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat.

"1 Orang meninggal dunia atas nama Ade Ismail (18), 1 orang kritis atas nama Muh Aldi Saputra (18) dirawat di Rumah Sakit TNI AU," ujar Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/11/2015) malam.

Sutopo menjelaskan, longsor yang terjadi kali ini bukan longsor besar, tetapi longsor talud atau tebing yang kecil. Namun, karena menjadi permukiman, maka saat longsor menimbun warga.

Menurut Sutopo, selain di Kelurahan Semplak, longsor juga melanda 3 tempat berbeda di Bogor dan menimbulkan korban. Pertama, di Kampung Cincau RT 02 RW 02 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

"Longsor ini terjadi pada pukul 01.00 WIB, menimpa rumah milik  Yuda (1KK, 6 jiwa). Korban dievakuasi dan dikontrakkan di Kampung Cincau RT 03 RW 02," ujar dia.

Kedua, lanjut Sutopo, longsor turap di Blok Bambu RT 03 RW 09, Kelurahan Sukadamai, Kecamatan Tanah Sareal. Longsor ini menimpa dapur milik Sadi (1KK, 3 jiwa). "Korban luka atas nama Utin dirawat di Rumah Sakit Islam," imbuh dia.

Ketiga, kata Sutopo, longsor turap di RT 05 RW 13, Kelurahan Curug, Kecamatan Bogor Barat. Longsor ini mengakibatkan dinding rumah milik Awang (1KK, 3 jiwa) retak.

Menurut Sutopo, BPBD Kota Bogor bersama unsur lain dan masyarakat telah melakukan penanganan di lokasi. Memasuki musim penghujan, masyarakat diimbau selalu waspada, khususnya bencana longsor.

"Kenali lingkungan sekitarnya agar mengetahui tanda-tanda longsor atau dapat melakukan mitigasi. Puncak hujan diperkirakan Januari dan potensi longsor akan makin meningkat," imbau Sutopo.


Waspada Banjir dan Longsor

Sutopo mengatakan, hujan yang melanda sebagian wilayah mengindikasikan musim kemarau berganti penghujan. Sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan memasuki musim hujan, sebagian lainnya, seperti Jawa, diperkirakan awal musim penghujan mulai akhir November hingga awal Desember.

"Adanya El Nino berpengaruh mundurnya musim penghujan. Bergantinya musim maka berganti pula jenis bencananya. Jika sebelumnya didera kekeringan dan bencana asap akibat karhutla (kebakaran hutan dan lahan), maka akan berganti dengan banjir, longsor, dan puting beliung," ujar dia.

Pemerintah dan Pemda harus segera mengantisipasi menghadapi banjir dan longsor. Ada 64 juta jiwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan sedang-tinggi dari banjir. Mereka tersebar di 315 kabupaten/kota.

"Sedangkan longsor, ada 41 juta jiwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan sedang-tinggi longsor di 274 kabupaten/kota. Pemerintah dan pemda harus melindungi masyarakat," imbau Sutopo.

Untuk itu, perlu segera dilakukan rapat koordinasi teknis antisipasi banjir dan longsor. BNPB dan BPBD perlu segera menyusun rencana kontinjensi menghadapi banjir longsor yang memuat kebijakan, strategi, peta bencana, komando, upaya, pengerahan sumber daya, dan lainnya.

"Rencana kontinjensi ini harus disepakati semua pihak, sehingga saat terjadi bencana dapat diaktivasi menjadi rencana operasi. Rencana kontinjensi akan memudahkan semua pihak melakukan upaya sesuai tupoksi masing-masing," ujar Sutopo.

Dia mengatakan, peringatan dini dari berbagai pihak seperti Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan lainnya agar dicermati, sehingga dapat memperoleh informasi yang terbaru.

"Sosialisasi dan gladi juga harus diintensifkan. Pola banjir dan longsor umumnya berlangsung selama penghujan dan puncaknya dari Desember, Januari, hingga Februari. Banjir dan longsor sesungguhnya adalah bencana yang dapat diantisipasi, karena dapat diprediksi dan dikenali sehingga korban dapat dihindari," tandas Sutopo. (Rmn/Ado)