Hari Santri 22 Oktober, NU Ucapkan Terima Kasih pada Jokowi

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 22 Okt 2015, 14:33 WIB
Diperbarui 22 Okt 2015, 14:33 WIB
20150806-Said Aqil Siraj Terpilih Kembali Jadi Ketua Umum PBNU-Jombang
Perbesar
Rois Am PBNU terpilih, KH Ma'ruf Amin (kiri), Ketua PBNU terpilih, KH. Said Aqil Siradj (tengah) dan Ketua Panitia Daerah Muktamar NU ke-33 Saifullah Yusuf saat penutupan Muktamar NU di Jombang, Jawa Timur, Kamis (6/8/2015). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo akan menghadiri deklarasi Hari Santri di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pendeklarasian tersebut adalah bagian dari janji kampanye Jokowi dan Jusuf Kalla pada Pemilihan Presiden Juli 2014.

Hari Santri ditetapkan untuk menghormati perjuangan kelompok santri yang tak lepas dari upaya meraih kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan ketika itu tak hanya dengan mengangkat bambu runcing, tetapi juga melalui perjuangan tokoh-tokoh Islam seperti Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, dan HOS Cokroaminoto.

Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Presiden Jokowi, karena menjadikan Hari Santri bertepatan dengan hari resolusi jihad.

"Kita berterima kasih kepada Pak Presiden yang menerima usulan untuk menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri bertepatan dengan resolusi jihad. Jangan lupa bahwa jihad itu adalah membela Tanah Air," ujar Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ma'ruf Amin di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Menurut Ma'ruf, bagi santri membela Tanah Air itu sudah dari kecil dan prinsip hubbul wathan minal iman (cinta Tanah Air sebagian dari iman).

"Ketika negara, tantangan dan bahaya, dengan seruan, maka santri sudah tidak memperhitungan hidup atau mati untuk jihad (membela Tanah Air)," ungkap dia.

Sementara itu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar memuji langkah pemerintah tersebut. "Tentu kita berterima kasih kepada Pak Jokowi, pemerintah menghargai sejarah dan mengakui eksistensi para pejuang santri," tutur pria yang akrab disapa Cak Imin itu.

Cak Imin mengatakan, walaupun ada yang menolak Hari Santri, banyak juga menyetujui adanya hari tersebut.
"Bukan banyak (yang menolak). Hanya 1 yang menolak. Seluruh ormas Islam mendukung semua," pungkas Muhaimin. (Mvi/Sun)*