Deklarasi Hari Santri 22 Oktober Juga Dihadiri Jokowi

Oleh Oscar Ferri pada 19 Okt 2015, 16:47 WIB
Diperbarui 19 Okt 2015, 16:47 WIB
20151019-Pencanangan Hari Santri-Jakarta
Perbesar
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin memberikan keterangan pers di Gedung Kemenag, Jakarta, Senin (19/10). Konferesi pers tersebut membahas pencanangan Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - ‎Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan 22 Oktober ditetapkan menjadi Hari Santri. Deklarasi akan dilaksanakan pada Kamis 22 Oktober 2015 mendatang di Masjid Istiqlal.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin, menjelaskan deklarasi Hari Santri akan dihadiri Menag Lukman Hakim dan Komisi VIII DPR. Selain mereka, hadir pula Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Selain Presiden, deklarasi Hari Santri juga akan dihadiri Menteri Agama dan menteri terkait, Komisi VIII DPR, dan duta besar negara sahabat," kata Kamaruddin di Kemenag, Senin (19/10/2015).

Komaruddin menjelaskan, ‎deklarasi tersebut juga akan diisi sejumlah acara, seperti zikir bersama masyarakat. Dia pun mempersilakan warga yang ingin menghadiri deklarasi tersebut.

"Karena ini perisitwa historis dan sangat bersejarah bagi Indonesia, bahkan dunia," ujar dia.

Menurut Kamaruddin, deklarasi Hari Santri menunjukkan bentuk komitmen pemerintah terhadap para santri. Sebab, deklarasi ini merupakan upaya formal negara mengafirmasi kepada santri, mengingat kaum santri saat ini masih termarjinalkan.

"Deklarasi Hari Santri akan membawa santri kepada poros peradaban. Sehingga ke depan santri harus paham Indonesia merupakan negara yang plural. Karena itu santri harus mempromosikan demokrasi, dan perbedaan di Indonesia," tegas dia.

Hari Santri, kata Komaruddin, juga tidak lepas dari proses sejarah di Tanah Air. Menggapai kemerdekaan RI dicapai tidak hanya dengan mengangkat senjata, tapi juga karena adanya ketulusan para pahlawan santri, seperti Hasyim Asyari, Achmad Dahlan, dan HOS Cokroaminoto. Mereka adalah mahasantri yang memiliki nilai ke-Islaman, namun berdarah merah putih.

"Mereka mahasantri yang memiliki ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang luar biasa," pungkas Kamaruddin. (Rmn/Yus)