Soekarwo: Kasus Tambang, Keterlibatan Pejabat Jatim Masih Dicek

Oleh Oscar Ferri pada 03 Okt 2015, 02:49 WIB
Diperbarui 03 Okt 2015, 02:49 WIB
Gubernur Soekarwo: UU Pilkada Bukan Salah Demokrat
Perbesar
Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Antara/Suryanto)

Liputan6.com, Jakarta - Penganiayaan berujung kematian aktivis Salim Kancil di Lumajang, Jawa Timur mendapat perhatian khalayak ramai. Penganiayaan diduga bermula dari penolakan para aktivis menolak aktifitas tambang pasir liar di Desa Selo Awar-Awar.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengakui, kalau para penambang liar merupakan sekelompok orang yang dipimpin Kepala Desa Selo Awar-Awar, Hariyono. Penambangan liar itu dilakukan di tengah penghentian penambangan oleh PT IMMS.

"Kepala desa ngangkut untuk dijual. Mereka itu perkumpulan orang-orang kampung," kata Soekarwo di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2015).

Tak cuma itu, dugaan adanya pejabat di Jawa Timur yang turut 'bermain' dari aktifitas penambangan pasir itu juga disoroti pria yang akrab disapa Pakde Karwo ini. Namun, soal dugaan itu, Sukarwo mengaku masih ditelusuri. "Masih dicek (pejabat terlibat)," ujar Sukarwo.

Salim Kancil tewas setelah diduga dianiaya segerembolan preman pada Sabtu (16/9/2015) di desanya, sedangkan rekannya Tosan, terluka parah. Peristiwa ini diduga bermula dari sikap para petani yang bergabung dalam Forum Petani Anti-Tambang Desa Selo Awar-Awar, menolak aktifitas penambangan di Pantai Watu Pecak, Desa Selo Awar-Awar.

Salim dan puluhan petani lainnya pun mengajukan permohonan unjuk rasa penolakan penambangan kepada pihak berwenang. Namun penyampaian pendapat belum terlaksana, Salim dan Tosan sudah diduga diculik segerombolan preman di rumahnya. (Ron/Nda)