Ahok Minta Polisi Pimpin Penggusuran Berikutnya

Oleh Ahmad Romadoni pada 25 Agu 2015, 11:47 WIB
Diperbarui 25 Agu 2015, 11:47 WIB
20150820-Kampung-Pulo
Perbesar
Petugas kepolisian dan Satpol PP saat menertibkan lokasi penggusuran Kampung Pulo, Jakarta, Kamis (20/8/2015). Penggusuran pemukiman Kampung Pulo dilakukan oleh 2.200 personel gabungan untuk normalisasi Sungai Ciliwung. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah menggusur kawasan Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berencana menyasar 2 lokasi lain, yakni Bidaracina dan Bukit Duri. Untuk menghindari bentrok seperti di Kampung Pulo, Gubernur yang akrab disapa Ahok itu akan menata kembali prosedur relokasi.

Dalam hal ini, Ahok ingin di penertiban selanjutnya, sudah dipastikan siapa pemimpinnya, yaitu polisi. Dengan penentuan ini, diharapkan tidak lagi terjadi salah komunikasi (miscommunication) saat bertugas.

"Kita minta polisi yang pimpin. Kita sudah rapat dengan Polda Metro Jaya," tegasĀ Ahok di Balaikota, Jakarta, Selasa (25/8/2015). Menurut Ahok, koordinasi ini sangat penting. Sehingga saat penertiban dan mendapat perlawanan warga, semua dapat bertindak di bawah satu komando.

"Satpol PP di bawah komando siapa? Ini semua nembak, semua maju. Arah angin salah, nembakin gas air mata, ya kena teman. Polda akan pimpin," lanjut Ahok.

Sebelum menertibkan Bidaracina dan Bukit Duri, Ahok akan bernegosiasi agar tidak terjadi bentrokan. Sebab, penertiban di kedua wilayah terbilang mendesak.
"Seperti waktu kita bereskan Taman Burung. Yang pasti Bidaracina dan Bukit Duri harus kita bereskan untuk sodetan.

Sejatinya, penertiban dan penegakan peraturan daerah berada di tangan Satpol PP. Tapi, untuk menghadapi kerusuhan massa, Satpol PP tidak memiliki kemampuan untuk itu. Karena itu, polisilah yang bisa menangani konflik masa seperti itu. (Sun/Yus)