Formappi: Alun-alun Demokrasi Hanya Modus DPR

Oleh Silvanus Alvin pada 21 Mei 2015, 18:13 WIB
Diperbarui 21 Mei 2015, 18:13 WIB
Gedung DPR
Perbesar
Gedung DPR

Liputan6.com, Jakarta - DPR akan menyediakan area terbuka di kompleks parlemen yang disebut 'Alun-alun Demokrasi'. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menilai, peresmian alun-alun demokrasi DPR, yang bertujuan untuk menampung aksi demonstrasi masyarakat, sebagai modus belaka‎.

"Saya kira hanya modus saja, itu alasan paling tepat untuk menipu akal sehat publik. Saya tidak melihat ada perubahan positif dalam berhubungan dengan konstituen," kata peneliti Formappi Lucius Karus, di Jakarta, Kamis (21/5/2015).

Peneliti Formappi lainnya, ‎Tommy Legowo mengatakan, DPR justru makin membentengi diri terhadap masyarakat. Ia menyesalkan keberadaan pengamanan dalam (Pamdal) DPR menjadi batas pemisah antara masyarakat dan anggota dewan.

"Kita tahu kalau Pamdal itu selalu yang pertama (jadi batas pemisah). Masyarakat mau bertemu anggota dewan harus lewat Pamdal dulu," ujar dia.

Selain mengkritisi pembangunan alun-alun demokrasi, Formappi juga memberikan kritik terhadap wacana pembangunan ‎Gedung DPR. Ia menuturkan pola pikir DPR saat ini sudah keliru.

"Saya lihat ada cara pikir keliru dari DPR terkait upaya mereka untuk perbaiki kinerja DPR. Konsep berpikir DPR mulai dari penataan atau pembaruan fasilitas jadi mewah baru pikir bagaimana kerja dan jalankan fungsinya, itu cara pikir salah," tandas Lucius.

Alun-alun demokrasi akan dibangun di sisi kiri Kompleks Parlemen. Para pimpinan DPR hadir dalam acara peresmian tersebut. Hadir pula Sekjen DPR Winantuningtyastiti dan Ketua Badan Urusan Rumah Tangga DPR Roem Kono. (Mvi/Ali)