Mohamad Mangoendiprodjo, Pejuang Perang 10 November di Surabaya

Oleh Sunariyah pada 07 Nov 2014, 16:31 WIB
HR Mohamad Mangoendiprodjo di Sarang Sekutu Demi RI Berdaulat

Liputan6.com, Jakarta - Darah pejuang sudah mengalir di tubuhnya. Karena itu, tak heran Haji Raden Mohamad Mangoendiprodjo menghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk berjuang menjadikan bangsa ini sebagai negara berdaulat.

HR Mohamad Mangoendiprodjo pernah bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dari sinilah kisah hidupnya sebagai pejuang dimulai.

Tapi, meskipun jejak langkahnya dalam membebaskan tanah air dari bangsa penjajah terekam jelas, nama Mohamad tak banyak dikenal di lingkup nasional. Namanya mulai menjadi sorotan setelah Menteri Sosial Khofifah Indra Parawansa menyebutnya sebagai salah satu penerima gelar pahlawan nasional.

Gelar pahlawan nasional akan dianugerahkan kepada almarhum Mohamad siang hari ini, Jumat (7/11/2014). Gelar kehormatan dan pengakuan atas jasa-jasa Mohamad akan diberikan di Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Gelar itu akan diterima Mohamad bersama 3 pejuang kemerdekaan lainnya.

HR Mohamad Mangoendiprodjo lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 5 Januari 1905. Dia adalah cicit Setjodiwirjo atau Kyai Ngali Muntoha yang tak lain adalah keturunan Sultan Demak dan Prabu Brawidjaja.

Setjodiwirjo merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Keduanya memperluas pemberontakan melawan penjajah Belanda hingga ke daerah Kertosono, Ngawi, dan Banyuwangi, Jawa Timur.

Garis hidup sebenarnya memberi kesempatan kepada Mohamad Mangoendiprodjo untuk bisa hidup berkecukupan dengan menjadi wakil kepala jaksa dan kemudian asisten wedana, di Jombang, Jawa Timur, setelah lulus dari OSVIA pada 1927.

Namun, rasa kebangsaan dan keinginan membela negara lebih besar dari semua jabatan itu. Hingga akhirnya, pada 1944 ketika usianya 38 tahun, Mohamad Mangoendiprodjo memantapkan langkah menjadi pejuang dengan bergabung ke Tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Lulus pendidikan, Mohamad Mangoendiprodjo kemudian ditugaskan sebagai Daidancho atau Komandan Batalyon di Sidoardjo.

Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Bung Karno membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di seluruh Indonesia, termasuk Surabaya. Di TKR, Mohamad Mangoendiprodjo menjadi salah satu pemimpin.

Saat tentara sekutu bersama pemerintah Sipil Belanda (NICA) ingin kembali menjajah Indonesia dan melakukan pendaratan di Surabaya pada 25 Oktober 1945, Mohamad bersama para pemimpin TKR lainnya, yang telah dididik PETA, seperti Bung Tomo, Doel Arnowo, Abdul Wahab, Drg Moestopo, berperang melawan para penjajah baru itu.

Pada akhir Oktober, pertempuran antara pemuda dan tentara Sekutu, terjadi di seluruh kota Surabaya. Pimpinan sekutu meminta pertemuan untuk melakukan gencatan senjata dengan Bung Karno dan Bung Hatta pada 29 Oktober 1945, di Surabaya.

Pada pertemuan tersebut, Mohamad diangkat sebagai pemimpin seluruh TKR Jawa Timur dan sebagai kontak biro dengan pihak Sekutu. Surat pengangkatan ini ditanda-tangani oleh Jendral Oerip Soemomihardjo, seperti juga surat pengangkatan pemimpin TKR Jawa Tengah Jendral Soedirman.

Pada hari yang sama, 29 Oktober 1945 di sore hari, Mohamad bersama Brigadir Mallaby berpatroli keliling kota Surabaya untuk melihat progres gencatan senjata. Rombongan ini berhenti di Jembatan merah depan Gedung Internatio. Dalam gedung, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha, sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia di luar gedung untuk diminta menyerah.

Mohamad masuk ke dalam gedung yang dikuasai Inggris untuk negosiasi. Tanpa disangka, Mohamad kemudian disandera oleh tentara Ghurka dan terjadilah tembak-menembak antara tentara Inggris dan pemuda Surabaya. Mobil Mallaby meledak dan terbakar. Mallaby tewas di dalam mobil.

Meninggalnya Mallaby, yang merupakan Jendral Inggris pertama yang mati berperang di Indonesia, membuat Inggris marah dan menggemparkan dunia. Inggris mengultimatum rakyat Surabaya yang mempunyai senjata untuk menyerahkan senjata dan mengangkat tangan setinggi-tingginya.

Ultimatum ini tentunya ditolak oleh Mohamad dan jajaran TKR serta pemuda Surabaya, sehingga pada 10 November 1945, Surabaya dihancurkan Inggris melalui darat, laut, dan udara, dan pecahlah perang terbuka.

Pertempuran berlangsung selama 22 hari dan menewaskan 6.315 pejuang TKR. Mohamad walaupun terkena pecahan mortir di pelipisnya, terus memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu. Pertempuran ini menjadi titik awal yang menandai Indonesia sebagai negara berdaulat yang tidak mudah dijajah kembali.

Setelah pertempuran Surabaya, Mohamad dipromosikan menjadi mayor jenderal dan kemudian menjadi Kepala Staff TNI, yang surat keputusannya ditanda-tangani Presiden Soekarno.

Setelah mengakhiri karier militer, Mohamad menerima tugas dari Presiden Soekarno menjadi Bupati Ponorogo. Tugas Mohamad adalah mengamankan daerah Madiun setelah pemberontakan PKI Muso. Dia kemudian menerima tugas selanjutnya sebagai residen (gubernur) pertama Lampung, untuk juga mengendalikan keamanan di daerah ini.

Mohamad kemudian meninggal pada 13 Desember 1988, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung. (Mut)