Dinilai Asal-Asalan, Jokowi Sebut Kegagalan Asemka Terkait Bisnis

Oleh Luqman Rimadi pada 30 Apr 2014, 20:47 WIB
Diperbarui 30 Apr 2014, 20:47 WIB
Resmi Berkoalisi, Surya Paloh Jadi Bakal Cawapres Jokowi?
Perbesar
Soal koalisi dengan Partai Nasdem, menurut Gubernur DKI Jakarta itu sudah sampai tahap akhir. Sehingga tak ada yang perlu dibicarakan lagi.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh sempat menilai mobil nasional Esemka yang pernah dipopulerkan mantan wali kota Solo Joko Widodo atau Jokowi tidak berdasarkan penelitian dan dinilai asal-asalan. Hal itu menyebabkan produksi mobil Esemka gagal produksi.

Jokowi mengatakan, kegagalan produksi Esemka bukan karena mobil dibuat asal-asalan. Melainkan karena faktor bisnis semata. "Sebetulnya hanya masalah bisnis aja. Karena basic riset sama apply risetnya sudah selesai. Kalaupun nanti masuk ke bisnis, biasanya yang paling penting  innovation research," kata Gubernur DKI Jakarta itu di Jakarta, Rabu (30/4/2014). 

Dia menjelaskan, innovation research yang meliputi desain, cat, dan kemasan mobil sangat penting agar Esemka punya brand yang baik. "Sebenernya tugasnya adalah itu," ucap Jokowi

Jokowi juga menjelaskan, kegagalan produksi Esemka bukan menjadi wewenangnya sebagai walikota. Melainkan menjadi wewenang PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK).

"Itu sudah masuk ke bisnis, masuknya innovation research. Kalau pemerintah tugasnya ke basic dan apply research. Apply research juga kadang-kadang diambil alih oleh swasta. Kalau boleh ya, kalau mau saya jalanin. PT-nya saya ambil aja. Saya kerjain sendiri ya jadi," kata dia.‎

Jokowi pun membantah riset dan pengembangan mobil Esemka tidak serius. Sebab, pihaknya telah melakukan riset. Misalnya uji emisi selama beberapa kali. "Itu sudah 5 tahun lebih. Sudah bolak balik gonta ganti gonta ganti sampai lulus uji emisi. Semua yang namanya ‎research, mau masuk bisnis, harus melalui uji emisi, dan esemka sudah melalui itu semua," ucap Jokowi. ‎

M Nuh beberapa saat lalu membandingkan Esemka dengan mobil listrik buatan Institut Teknologi Surabaya (ITS). Nuh menilai pembuatan Esemka tidak serius sehingga sampai saat ini mobil tersebut tidak bisa diproduksi. ‎

"Terus terang, kami (Kemendikbud dan ITS) tidak mau gegabah membuat mobil berbasis tenaga listrik, seperti mobil Esemka yang dilakukan pembuatan dulu, baru diperkenalkan. Sementara mobil yang dibuat oleh tim perguruan tinggi ITS  dilakukan research dulu, uji coba, lalu evaluasi. Jadi tidak gegabah, seperti kecelakaan pembuatan mobil Esemka," ujar Nuh. (Mvi)