Cap Masuk Kuba di Paspor Gugurkan Program Bebas Visa Amerika Serikat

Oleh Dyah Ayu Pamela pada 03 Okt 2022, 09:02 WIB
Diperbarui 03 Okt 2022, 09:02 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi paspor. (dok. pexels/Taryn Elliott)

Liputan6.com, Jakarta - Program Bebas Visa Amerika Serikat (VWP) mengizinkan warga dari 40 negara partisipan melakukan perjalanan ke Negeri Paman Sam untuk bisnis atau pariwisata dalam masa tinggal hingga 90 hari tanpa visa. Kendati demikian, aturan itu bisa gugur ketika didapati cap masuk Kuba terhitung sejak tahun lalu.

Dikutip dari The Sun, Jumat 23 September 2022, hal ini terjadi karena Kuba ditambahkan ke daftar Negara Sponsor Terorisme AS pada Januari 2021. Kuba bergabung dengan negara-negara, seperti Suriah dan Korea Utara, dalam daftar tersebut dan belum dihapus pemerintahan Presiden Joe Biden.

Merujuk aturan tersebut, Sistem Elektronik untuk Otorisasi Perjalanan (ESTA) pelancong yang memiliki cap masuk Kuba di paspor mereka akan ditolak. ESTA adalah sistem otomatis berbasis internet yang dikembangkan untuk meningkatkan keamanan VWP.

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menjelaskan di situs web, "Jika seorang pelancong diketahui telah mengunjungi negara yang ditetapkan sebagai Negara Sponsor Terorisme, pelancong tersebut tidak lagi memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam VWP dan harus mengajukan permohonan visa untuk masuk Amerika Serikat."

Penolakan ESTA dapat mempersulit Anda mendapatkan visa AS di masa mendatang. Adapun mengenai VWP, Indonesia tidak masuk dalam negara partisipan program bebas visa Amerika Serikat. Seperti yang tertera di laman situs resmi Kedutaan Besar Amerika, WNI perlu mengajukan visa kunjungan sesuai prosedur selama ini.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Keluhan Turis

New York Menyambut Kembali Turis Asing
Perbesar
Maskot Panda Raksasa terlihat di Times Square, New York pada 9 November 2021. Turis asing yang mendatangi Amerika Serikat disambut kembali ke New York City untuk pertama kalinya dalam 20 bulan setelah pembatasan perjalanan pandemi Covid-19 dicabut. (TIMOTIUS A. CLARI / AFP)

Mengutip Independent, sejumlah turis Inggris telah mengeluh karena tidak bisa mengakses program VWP. Seorang warga Inggris mengataka,  mereka dilarang naik pesawat dari Paris ke San Francisco karena "baru-baru ini mengunjungi Kuba."

Sementara, pasangan lain mengatakan bahwa ESTA mereka yang sebelumnya disetujui berubah jadi ditolak setelah mengunjungi Kuba. Satu orang menulis awal bulan ini, "Saya mengunjungi Kuba selama seminggu dari Spanyol minggu lalu dan ESTA saya dicabut dua hari sebelum penerbangan ke Florida."

Pengalaman warga lainnya menambahkan, "Saya terbang dari Havana ke Bahama melalui Miami, dan saat di Miami, saya diberitahu bahwa ESTA saya telah dibatalkan." 

Situs web Kantor Luar Negeri Inggris belum memperbarui saran perjalanan saat ini untuk menanggapi hal tersebut dan menyatakan bahwa penerbangan antara Inggris dan Kuba "tidak terpengaruh undang-undang AS." 

Sementara itu, harga ESTA naik tahun ini dari 14 dolar AS setara Rp210 ribu jadi 21 dolar AS setara Rp315 ribu, meski mereka berlaku selama dua tahun. 

 


Pembatasan Visa Rusia

Ilustrasi visa dan paspor.
Perbesar
Ilustrasi visa dan paspor. (iStockphoto)

Mengenai pembatasan negara tertentu untuk masuk suatu wilayah, belakangan juga dialami warga Rusia sejak berperang dengan Ukraina. Melansir Global Liputan6.com, para menteri luar negeri Uni Eropa telah setuju menangguhkan perjanjian visa dengan Moskow, sehingga mempersulit warga Rusia masuk ke blok tersebut.

Dilansir BBC, Ukraina dan beberapa negara anggota menyerukan larangan total, tapi yang lain seperti Prancis dan Jerman masih menentang. Lebih dari 1 juta warga Rusia telah melakukan perjalanan ke UE sejak invasi negara itu ke Ukraina pada Februari lalu.

Beberapa negara Uni Eropa timur yang berbatasan langsung dengan Rusia diperkirakan akan memberlakukan pembatasan lebih lanjut. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Glushko mengungkap, Uni Eropa "menembak dirinya sendiri" dan langkah itu tidak akan terjawab.

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengkritik keputusan itu sebagai "tindakan setengah-setengah." "Berkenaan dengan Rusia (ini) adalah persis apa yang menyebabkan invasi besar-besaran pada 24 Februari (2022)," katanya.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan, peningkatan substansial dalam penyeberangan perbatasan dari Rusia membuatnya perlu menangguhkan perjanjian tersebut. "Ini telah jadi risiko keamanan bagi negara-negara tetangga," katanya. 


Langkah Serupa oleh Finlandia

Ilustrasi visa Amerika Serikat.
Perbesar
Ilustrasi visa Amerika Serikat. (Sumber Wikimedia Commons/Zboralski)

Sementara itu, Finlandia juga memangkas jumlah visa yang dikeluarkan untuk warga Rusia jadi sepersepuluh dari jumlah yang biasa dikeluarkannya. Hal ini jadi langkah yang dipandang sebagai tanda solidaritas pada Ukraina.

Finlandia, yang berbagi perbatasan terpanjang dengan Rusia dari semua negara anggota Uni Eropa, mengumumkan keputusan tersebut pada Agustus 2022 di tengah meningkatnya tekanan dari politisi dan warga biasa untuk membatasi pergerakan turis Rusia melalui negara Nordik itu saat Moskow melanjutkan perangnya di Ukraina.

Mulai 1 September 2022, Finlandia hanya mengizinkan orang Rusia mengajukan permohonan visa turis seminggu sekali dan hanya di empat kota Rusia. yaitu Moskow, St. Petersburg, Murmansk, dan Petrozavodsk, yang semuanya dekat dengan perbatasan Finlandia.

Haavisto mengatakan, ia terutama mengkhawatirkan "rute turis'' Rusia melalui Bandara Helsinki yang sudah digunakan ribuan orang Rusia sebelum serangan Moskow di Ukraina pada 24 Februari 2022, seperti dikutip dari laman VOA Indonesia.

Infografis Menyiapkan Jalan Mulus Menuju Endemi Covid-19
Perbesar
Infografis Menyiapkan Jalan Mulus Menuju Endemi Covid-19 (Liputan6.com/Trie Yas)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya