Ketahui Macam-Macam Penyebab Alergi, Tidak Hanya dari Makanan

Oleh Elly Purnama pada 04 Okt 2022, 06:31 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 06:31 WIB
[Fimela] alergi
Perbesar
ilustrasi alergi | pexels.com/@olly

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, mungkin belum terlalu mengetahui perbedaan alergen dengan alergi. Guru Besar Ilmu Gizi IPB University sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Hardinsyah menerangkan alergen memiliki banyak bentuk, dari yang berupa bahan, berbentuk asam amino, hingga partikel debu. 

Alergen pada dasarnya adalah bahan pangan atau senyawa yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada individu tertentu yang memiliki hipersensitivitas terhadap senyawa tersebut. Sumber alergen pangan dapat berasal dari kacang, susu, telur, ikan, kerang, gandum, bahan tambahan pangan atau bahan terbuat dari pangan tersebut,” ujar Prof. Hardin di acara Ngobrol Baik bareng ABC, beberapa waktu lalu  di Jakarta.

"Selama penggunaannya tidak melebihi ambang batas yang ditentukan oleh lembaga yang berwenang dan keberadaannya dikomunikasikan dengan jelas, maka produk tersebut aman untuk dikonsumsi,” sambungnya.  Ia menambahkan, kalau direspons oleh antibodi kita, tidak sesuai dengan kondisi normal, mengeluarkan histamin namanya.  "Kalau histamin kita cukup baik, maka kita bisa melawannya, tetapi kalau kita mencegah kurang (histamin), kita bisa ke dokter minta disuntik histamin,” ujar Prof. Hardin mengenai reaksi alergi.

Penyebab Reaksi Alergi

Prof. Hardin mengatakan untuk mengatasi reaks alergi, disuntik itu lebih ampuh dibanding diusap-usap. Diusap barang kali membutuhkan waktu yang lama baru akan hilang, tetapi disuntik, dalam waktu sekitar 15 menit ruam, bintik merah, dan sebagainya dapat langsung hilang.

Dalam penuturannya, Prof. Hardin menjelaskan ada senyawa yang oleh tubuh kita tidak bisa direspon dengan baik. Hanya orang-orang tertentu yang imunitasnya tidak baik sehingga menimbulkan bintik merah, bisa gatal, bisa bengkak, bahkan tidak hanya karena makanan, ada karena udara dingin langsung bengkak bagian tertentu.

“Tidak perlu khawatir, ilmu semakin berkembang, kalau memang ada alergi langsung konsul saja, ada yang tidak bisa diterapi lagi karena sudah kadaluwarsa, antibodinya, tetapi kalau masih kecil itu masih bisa dilakukan upaya-upaya,” jelasnya.

“Jadi, alergen itu tidak hanya makanan, di selimut tempat tidur juga bisa ada, di udara tercemar juga ada, dan masing-masing kita rasanya ada punya pengalaman seperti itu,” tambah Prof. Hardin.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Penyebab Alergi yang Paling Sering Dijumpai

Alergi karena Debu
Perbesar
Ilustrasi Alergi Debu Credit: pexels.com/Jean

Mengutip kanal Hot Liputan6.com, berikut beberapa penyebab alergi yang paling sering dijumpai atau didiagnosis, yaitu:

1. Kutu debu

Organisme mikroskopis ini hidup pada debu rumah. Debu rumah adalah campuran dari bahan-bahan yang berpotensi penyebab alergi, seperti:

a. Serat dari kain yang berbeda-beda.

b. Kulit hewan yang mengelupas.

c. Bakteri.

d. Spora jamur atau cendawan.

e. Partikel-partikel makanan.

f. Bagian-bagian tanaman.

g. Kulit mati.

Kutu debu biasanya berkumpul di karpet, kasur, atau bantal. Kotoran mereka dapat menyebabkan reaksi elergi pada kulit yang hipersensitif. Kutu debu bisa memengaruhi 90 persen orang yang menderita alergi.

2. Serbuk sari bunga

Penyebab alergi yang selanjutnya adalah serbuk sari bunga. Serbuk sari bunga dan pohon bisa memicu reaksi alergi pada 70 persen orang yag menderita alergi.

3. Hewan peliharaan

Hewan peliharaan adalah penyabab terbesar ketiga dari reaksi alergi. Ternyata, 40 persen anak penderita asma dilaporkan alergi terhadap protein yang dikeluarkan kelenjar minyak kulit hewan maupun protein pada air seni dan air liur hewan.

4. Jamur

Penyebab alergi yang lainnya yaitu jamur. Jamur yang dimaksud di sini adalah fungi yang berukuran mikroskopis dengan spora yang dapat melayang-layang di udara seperti serbuk sari. Jamur lebih sering terdapat pada musim gugur dan dapat menyebabkan serangan asma yang parah.


Makanan Penyebab Alergi

Bahan pangan atau makanan yang paling sering menjadi penyebab alergi, antara lain yakni:

a. Susu

b. Cokelat

c. Telur

d. Ikan

e. Kacang

f. Kerang

g. Udang

h. Gandum

Pewarna dan pengawet makanan dapat juga memicu reaksi alergi.

6. Obat

Beberapa orang mengalami reaksi alergi terhadap obat-obatan tertentu. Terapi terbaik untuk mengatasi alergi obat adalah menghindari obat-obatan tersebut. Ada sejumlah bahan dalam produk kosmetik dan parfum yang dapat memicu alergi pada beberapa orang. Selain itu, ada juga obat-obatan yang menjadi penyebab alergi, seperti krim antigatal atau antibiotik.

7. Gigitan serangga

Alergi gigitan serangga bisa menjadi penyebab gejala seperti bengkak pada area yang cukup luas di sekitar tempat yang terkena gigitan, gatal di seluruh tubuh, batuk, dada terasa sesak, hingga kesulitan bernapas. Gigitan ini bisa dari lebah atau tawon.

8. Dermatitis atopik

Ini merupakan kondisi alergi pada kulit yang sering disebut eksim. Pada kondisi ini, kulit akan terasa gatal, kemerahan, atau bersisik. Kondisi alergi pada kulit bisa jadi akibat sesuatu yang dikonsumsi atau alergen yang kontak dengan kulit, contohnya lateks pada sarung tangan, atau alergi dengan bahan perhiasan tertentu.


Jadi Konsumen Cerdas

Ngobrol Baik bareng ABC
Perbesar
Suasana kegiatan Ngobrol Baik bareng ABC. (Liputan6.com/Elly Purnama)

Menurut Prof. Hardin, pangan mengandung alergen tidak berbahaya bagi masyarakat kecuali bagi yang memiliki riwayat alergi yang perlu waspada dalam memilih pangan untuk dikonsumsi. Pada pangan berlabel, produsen mencantumkan senyawa alergen dalam komposisi/daftar bahan atau informasi khusus pada label.

Selain itu, dijelaskan pula manfaat Bahan Tambahan Pangan (BTP). BTP sendiri merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk memengaruhi sifat atau bentuk pangan. Contoh penggunaan BTP ini untuk mengawetkan pangan, memberikan warna, mencegah tengik, dan meningkatkan rasa (kualitas pangan).

Penggunaan BTP yang tepat sesuai takaran batas aman akan memberikan manfaat teknologi terhadap kualitas pangan. Penggunaan BTP yang melebihi takaran yang aman dapat membahayakan kesehatan.

Prof. Hardin juga mengajak untuk menjadi konsumen yang cerdas. Mengecek terlebih dahulu produk yang akan kita beli.

Cara mudah bagi masyarakat untuk lebih mengenali produk-produk pangan olahan yang hendak dikonsumsi menurut Prof. Hardin dapat dilakukan dengan cara cek “KLIK”. Pastikan (K) Kemasan produk dalam kondisi baik. Baca informasi produk yang tertera pada (L) Label. Pastikan memiliki (I) Izin edar dari BPOM RI dan pastikan belum melewati tanggal (K) Kedaluwarsa.

“Sebagai perusahaan makanan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, kami juga memiliki tanggung jawab untuk ikut mengedukasi publik untuk menjadi konsumen yang semakin cerdas dan paham akan produk yang mereka konsumsi,” ujar Andrew Hallatu, Sr. Manager Corporate Affairs Kraft Heinz Indonesia & Papua Nugini.

Andrew menambahkan, kegiatan “Ngobrol Baik bareng ABC” akan hadir secara berkala dan selalu diisi oleh para pakar dibidangnya. Kegiatan ini rencananya akan membawakan topik-topik hangat dan menarik di seputar industri makanan minuman olahan.

“Ini adalah acara kita yang pertama kali kita luncurkan bersama-sama dengan teman-teman media di sini bernama “Ngobrol Baik bareng ABC”, ini temanya akan kita pakai selalu kedepannya,” ujar Mira Buanawati selaku Head of Legal, Corporate & Regulatory Affairs Kraft Heinz Indonesia.

Infografis 12 Cara Sehat Hadapi Stres Era Pandemi Covid-19
Perbesar
Infografis 12 Cara Sehat Hadapi Stres Era Pandemi Covid-19 (Liputan6.com/Niman)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya