6 Fakta Menarik Kabupaten Nagekeo, Jantungnya Pulau Flores

Oleh Henry pada 19 Mei 2022, 08:02 WIB
Diperbarui 19 Mei 2022, 08:02 WIB
ritual tolak bala
Perbesar
Foto :Warga Kabupaten Nagekeo, NTT saat menggelar ritual tolak bala untuk melindungi kampung dan warganya dari wabah covid-19 (Liputan6.com/Dion)

Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Nagekeo atau Nage Keo adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Hasil pemekaran Kabupaten Ngada ini terbentuk berdasarkan UU No. 2 Tahun 2007. Peresmiannya dilakukan pada 22 Mei 2007 oleh Penjabat Mendagri Widodo A. S. dan Elias Djo ditunjuk sebagai penjabat bupati.

Pusat pemerintahan Kabupaten Nagekeo berlokasi di Aesesa Selatan. Luas wilayah 1.416,96 km persegi dan berpenduduk 144.414 jiwa pada 2018. Topografi kabupaten di Pulau Flores ini sebagian besar berbukit, bergunung, dan berlembah serta memiliki lereng-lereng yang curam yang umumnya terletak di daerah pantai.

Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Nagekeo. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Nagekeo yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Atraksi Budaya Etu

Atraksi budaya ‘Etu” biasanya dilakukan kaum pria masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo dan Ngada, Flores, NTT. Tradisi tinju adat atau Etu ini bisa dilihat di 31 kampung adat dan dilakukan sepanjang bulan setiap tahunnya.

Untuk menunjang atraksi tersebut sebagai daya tarik wisata, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do bersama Dinas Pariwisata NTT tengah menata ulang semua sistem pendukung wisata, seperti kerajinan, penerapan Sapta Pesona di Kampung Adat, penataan lingkungan, dan mengembangkan kamar di rumah penduduk yang layak sewa.

Etu dalam bahasa Keo berarti tinju adat. Etu yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kabupaten Nagekeo dan Ngada sangat berbeda dengan tinju modern. Dalam tinju modern ada kalah dan menang, sedangkan dalam tinju adat atau Etu ini tidak ada yang kalah atau menang.

Tradisi ini untuk harmonisasi persaudaraan dan ikatan kekeluargaan sesama warga Nagekeo dan Ngada yang punya hubungan keluarga. Bahkan, Etu ini sangat unik dibanding tinju modern. Tinju modern memakai sarung tangan, sedangkan Etu menggunakan alat tradisional yang sangat unik dan langka yang terbuat dari ijuk pohon enau.


2. The Heart of Flores

Kabupaten Nagekeo di Flores, NTT
Perbesar
Kabupaten Nagekeo di Flores, NTT.  foto: Instagram @wisatanagekeo

Kabupaten Nagekeo yang berada di tengah pulau Flores kaya akan pesona wisata. Bupati Don pun meluncurkan tagline "Nagekeo The Heart of Flores" atau Nagakeo Jantungnya Pulau Flores sebagai upaya memperkenalkan daerahnya ke dunia internasional, pada Desember 2021.

Pada acara peluncuran "Nagekeo The Heart of Flores", sejumlah produk ditampilkan kepada para pengunjung. Produk unggulan tersebut berasal dari desa-desa di sejumlah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, Beberapa di antaranya adalah kopi leder dari Desa Legu Deru, kopi ebulobo lajawajo, keripik pisang, sirup lala dari Pajoreja, keripik talas dari Wuliwalo, aneka keripik dari ubi, aneka olahan daun kelor dari Marapokot, dan minyak kemiri dari Lewangera.

Don menyebut peluncuran tagline "Nagekeo The Heart of Flores" tidak sekadar seremonial dan gegap gempita. Sudah ada kajian secara seksama, baik secara ilmiah, budaya, dan sejarah atau historis selama dua tahun.

Nagekeo juga punya sejumlah kampung adat yang masih terjaga kearifannya dan keasliannya dengan segala filosofi dan kebudayaannya. Selain itu, ada gunung berapi di sisi selatan yang subur dengan aneka rempah dari pala, cengkih, buah, serta sabana dengan ternaknya seperti sapi dan domba di bagian utara.


3. Kampung Kawa

Kampung Kawa di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi destinasi wisata unggulan. (Foto Istimewah)
Perbesar
Kampung Kawa di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi destinasi wisata unggulan. (Foto Istimewa)

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 2021 telah menetapkan Kampung Kawa sebagai salah satu tujuan pariwisata di Nagekeo.  Kampung Kawa masih sangat tradisional dengan warga yang menjunjung tinggi adat istiadat setempat. Secara geografis, Kampung Kawa terletak di bagian barat Desa Labolewa dengan jarak tempuh kurang lebih 10 kilometer dari Desa Labolewa dan 15 km dari Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Kampung ini berada persis di punggung Gunung Amagelu dengan landskap berlatar belakang Gunung Ebulobo. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbangda) Nagekeo Kasmir Dhoy menyatakan, tantangan besar memasukkan Nagekeo ke dalam rencana perjalanan wisatawan di Flores-Daratan telah membuahkan hasil.

Bila sebelumnya hanya menjadi tempat lewat wisatawan menuju Ende dan Ngada, kini Kawa sudah menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan. Komponen pariwisata dinilai sangat lengkap, ada wisata alam, wisata gunung, dan trekking.

Kawa juga sangat potensial untuk nomadic tourism seperti camping dan touring. Namun, ada tiga catatan dari Kemenparekraf terkait aksesibilitas, amenitas pariwisata, dan sanitasi (kebutuhan air). Pihaknya kini tengah berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar itu.


4. Budaya Literasi

Literasi Nagekeo NTT
Perbesar
Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat yang diselenggarakan Perpusnas dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagekeo di Aula Kabupaten Nagekeo, pada Kamis (25/3/2021). (Liputan6.com/ Ist)

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mendukung upaya percepatan peningkatan kesejahteraan di Kabupaten Nagekeo, melalui literasi. Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyatakan dukungan diberikan karena melihat komitmen tinggi dari Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do terhadap peningkatan literasi masyarakat.

Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan perguruan tinggi, ujar Syarif, harus dilakukan untuk mengubah Nagekeo dan menyusun format pembangunan melalui literasi di NTT.  Sejumlah fasilitas bebas biaya sudah disediakan Perpusnas untuk mendukung hal tersebut yakni layanan daring iPusnas, e-Resources, dan Khastara.

Para pelajar dan mahasiswa di Nagekeo didorong agar memanfaatkan fasilitas buku dan jurnal elektronik yang tersedia. Saat ini, sekolah-sekolah di Nagekeo sudah memiliki pojok baca yang menyediakan buku bacaan, tidak hanya buku pelajaran.

Sementara untuk masyarakat, pihaknya mendistribusikan bahan bacaan melalui fasilitas perpustakaan yang disediakan di desa dan kelurahan. Selain itu, inisiatif individu yang melakukan gerakan literasi juga didukung agar masyarakat mendapatkan pengetahuan.


5. Kampung Wisata Pajoreja

kelompok ibu-ibu Dasawisma Teratai di Kampung Wisata Pajoreja Desa Ululoga, Kabupaten Nagekeo, NTT, sedang mengolah buah pala, menjadi sirup dan manisan pala. (Foto Istimewah)
Perbesar
kelompok ibu-ibu Dasawisma Teratai di Kampung Wisata Pajoreja Desa Ululoga, Kabupaten Nagekeo, NTT, sedang mengolah buah pala, menjadi sirup dan manisan pala. (Foto Istimewa)

Kampung Wisata Pajoreja berlokasi di Desa Ululoga, Kecamatan Maumponggo, Kabupaten Nagekeo. Desa wisata ini mulai dikenal pada 2019 sebagai sentra kuliner olahan pala, mulai dari manisan pala, minuman dari sari buah pala, hingga camilan lainnya. Pala merupakan tanaman rempah yang terkenal hingga penjuru dunia.

Bijinya bisa digunakan untuk penyedap masakan, sedangkan kulit buah pala yang sudah tua dapat dijadikan manisan dan sirup. Kulit buah pala yang rasanya sepat dapat diolah menjadi minuman dan snack dengan rasa yang khas, sebagai oleh-oleh bagi pengunjung yang menginap di Homestay Pajoreja ketika datang mengunjungi Kampung Pajoreja.

Manisan pala memiliki rasa yang khas, yaitu perpaduan antara manis dan asam segar. Ketika dikunyah, teksturnya renyah dan aroma khas pala yang mencuat memberikan sensasi tersendiri.

Sedangan, minuman sirup khas buah pala biasa disebut warga Desa Ululoga dengan nama Arak Pala. Bahan baku buah pala sangat mudah didapatkan di desa mereka. Para ibu hanya tinggal petik di kebun mengingat tempat tinggal mereka merupakan salah satu penghasil buah pala.


6. Kuliner Khas Nagekeo

[Bintang] Nusa Tenggara
Perbesar
Ikan kuah asam, kuliner Labuan Bajo, Flores, NTT. (Sumber Foto: nunungmartiani/Instagram)

Kabupaten Nagekoe tidak hanya menyimpan kekayaan alam, budaya, dan juga sumber daya kelautan yang unik, tetapi juga kuliner lezat yang tidak boleh kalian lewatkan jika berkunjung ke sana. Salah satunya adalah Ikan Kuah Asam. Makanan khas Nagekeo ini berisi sayuran mentah seperti labu siam, wortel, dan daun seledri. Proses memasak ikan kuah asam spesial ini pun tergolong unik karena tidak menggunakan minyak dan hanya mengandalkan bumbu dari rempah-rempah rebusan.

Selain itu ada Aelame atau Tabha Lame.  Dalam bahasa Nagekeo, ae bermakna air sedangkan lame berarti santan kelapa. Makanan berbentuk bubur ini mengandung banyak air dengan bahan utamanya beras, jagung, atau ubi-ubian. Campurannya bermacam-macam, seperti bayam, kangkung, sawi, daun singkong, kemangi, dan melinjo.

Ada juga Muku Loto yang selalu disajikan dalam pesta adat atau kenduri. Kuliner khas lainnya adalah Moke, Domba Kuah Asam, Sate Domba, Emuk Jagung, dan Arak Pala.

Infografis Destinasi Wisata Berkelanjutan di Indonesia dan Dunia
Perbesar
Infografis Destinasi Wisata Berkelanjutan di Indonesia dan Dunia (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya