6 Fakta Menarik Pringsewu, Punya Tugu Gajah Barbel dan Banyak Lahirkan Atlet Angkat Besi Nasional

Oleh Henry pada 09 Mei 2022, 07:02 WIB
Diperbarui 09 Mei 2022, 07:02 WIB
20161221-Angkat-Besi-Lampung-AFP
Perbesar
Foto ini diambil pada November 7, 2016 menunjukkan patung gajah mengangkat barbel di kota Pringsewu, Kabupaten Lampung, Sumatera Selatan. Dari tempat inilah banyak melahirkan legenda atlet angkat besi dan angkat berat Indonesia. (AFP Photo/GOH Chai Hin)

Liputan6.com, Jakarta - Pringsewu adalah salah satu kabupaten yang berada di provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten ini disahkan dalam Rapat Paripurna DPR tanggal 29 Oktober 2008, sebagai pemekaran dari Kabupaten Tanggamus. Pringsewu terletak sekitar 37 kilometer sebelah Barat kota Bandar Lampung, Ibu kota provinsi Lampung, 270 kilometer Barat Jakarta, serta 330 kilometer Timur Laut Kota Palembang.

Hingga akhir Juni tahun 2021, jumlah penduduk di kabupaten Pringsewu sebanyak 410.864 jiwa. Kabupaten Pringsewu merupakan wilayah heterogen terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, dengan masyarakat Jawa yang cukup dominan, disamping masyarakat asli Lampung, yang terdiri dari masyarakat yang beradat Pepadun (Pubian) serta masyarakat beradat Saibatin (Peminggir).

Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Pringsewu. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Pringsewu yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Sejarah Pringsewu

Sejarah Kabupaten Pringsewu diawali dengan berdirinya sebuah perkampungan (tiuh) bernama Margakaya pada 1738 yang dihuni masyarakat asli suku Lampung-Pubian yang berada di tepi aliran sungai Way Tebu.

Pada 1925, sekelompok masyarakat dari Pulau Jawa, melalui program kolonisasi oleh pemerintah Hindia Belanda, juga membuka areal permukiman baru dengan membabat hutan bambu yang cukup lebat di sekitar tiuh Margakaya tersebut.

Karena begitu banyaknya pohon bambu di hutan yang mereka buka tersebut, oleh masyarakat desa yang baru dibuka tersebut dinamakan Pringsewu, yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya Bambu Seribu.

Selanjutnya, pada 1936 berdiri pemerintahan Kawedanan Tataan yang beribu kota di Pringsewu.  Dalam sejarah perjalanan berikutnya, Kecamatan Pringsewu bersama sejumlah kecamatan lainnya di wilayah Lampung Selatan bagian barat yang menjadi bagian wilayah administrasi Pembantu Bupati Lampung Selatan Wilayah Kotaagung, masuk menjadi bagian wilayah Kabupaten Tanggamus berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1997, hingga terbentuk sebagai daerah otonom yang mandiri.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


2. Daerah Pertanian

Sawah - Vania
Perbesar
Ilustrasi Sawah/https://unsplash.com/Vivek VK

Sebagai daerah yang masih agraris, struktur perekonomian Kabupaten Pringsewu masih didominasi oleh sektor pertanian dengan komoditas yang dominan adalah padi sawah dan padi ladang, padi organik, jagung dan juga komoditas sayur mayur serta ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah dan juga kacang hijau.

Total luas areal pertanian untuk padi organik di Kabupaten Pringsewu adalah 193 hektare dengan produksi rata-rata sekitar 770 ton/tahun.  Sentra padi organik terdapat di Kecamatan Pagelaran dan Gadingrejo, yang sebagian besar dikembangkan dengan menggunakan pupuk kompos dan pestisida nabati sehingga memiliki cita rasa dan harga jual lebih tinggi sekitar 30-40 persen dibandingkan dengan padi pada umumnya.

Kabupaten Pringsewu memiliki ketersediaan lahan yang luas dan subur sehingga sangat potensial untuk pengembangan tanaman palawija seperti, tomat, cabe, sayur mayur dan tanaman palawija lainnya. Komoditas tanaman palawija ini, menjadi komoditas yang cukup handal yang pemasarannya tidak saja di Kabupaten Pringsewu dan Provinsi Lampung, tetapi telah merambah keluar Lampung, seperti Jakarta dan Palembang.


3. Bendungan Way Sekampung

Bendungan Way Sekampung
Perbesar
Proyek pembangunan Bendungan Way Sekampung (Sukoharjo) di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. (Foto: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR)

Pada September 2021, Presiden Jokowi meresmikan Bendungan Way Sekampung yang ada di Desa Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran dan Desa Banjarejo Kecamatan Banyu Mas, Kabupaten Pringsewu. Pembangunan Bendungan Way Sekampung merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air dan irigasi untuk mendukung produksi pertanian berkelanjutan.

Menariknya, tak hanya berpotensi sebagai air baku, energi, pengendalian banjir saja, tapi sekaligus tempat untuk menumbuhkan ekonomi lokal termasuk di bidang pariwisata. Tempat ini juga menyediakan ruang terbuka hijau serta bangunan-bangunan yang memiliki desain arsitek simbol Lampung seperti kopiah dan siger.

Selain mendukung kebutuhan irigasi air di Provinsi Lampung, Bendungan Way Sekampung juga dapat dimanfaatkan sebagai penyedia air baku untuk Kota Bandar Lampung, Kota Metro dan Kabupaten Lampung Selatan.


4. Gerbang Ikan Desa

Ilustrasi ikan bandeng
Perbesar
Ilustrasi ikan bandeng. (Gambar oleh aybanreyes dari Pixabay)

Bupati Pringsewu Sujadi meresmikan Pekon Lugusari Kecamatan Pagelaran sebagai Desa Model Gerbang Ikan Desa sekaligus meluncurkan aplikasi gerbang ikan desa di wisata Ledeng Pendem (Lependem) Belanda Pekon Lugusari, pada Oktober 2021.

Sujadi mengatakan, penetapan aplikasi gerbang ikan desa sebagai sarana pendukung dan sumber informasi bagi para pelaku sentra perikanan untuk mengembangkan usahanya.

Desa ini sudah dikenal sebagai sentra budidaya ikan air tawar. Pada 2018, Pekon Lugusari menerima kunjungan delapan Duta Besar dari berbagai negara sehingga terpilih sebagai desa model yang nantinya diharapkan akan menjadi percontohan pekon-pekon lain yang ada dikabupaten Pringsewu. Pemkab Pringsewu sendiri juga telah menetapkan Pekon Lugusari sebagai sentra ikan air tawar.


5. Wisata Pringsewu

[Bintang] Lampung
Perbesar
Bukit Pangonan, Pringsewu, Lampung. (Sumber Foto: rifawiyo/Instagram)

Ada berbagai destinasi wisata menarik di Pringsewu. Contohnya, tempat wisata ziarah berupa Makam KH Ghalib dan wisata religi umat Katolik Goa Maria Padangbulan, bangunan bersejarah peninggalan Belanda berupa Talang, kawasan Bukit Bintang yang kesemuanya berlokasi di sekitar ibu kota Kabupaten Pringsewu.

Selain itu terdapat potensi wisata lainnya seperti Goa Selapan di Kecamatan Pardasuka, Telaga Gupid dan bangunan Pura Bukit Hindu yang berada di Kecamatan Gadingrejo, serta masih banyak lokasi-lokasi menarik yang memiliki prospek untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai kawasan wisata, yang belum tergali secara maksimal.

Ada pula Taman BMJ (Bina Jaya Mandiri) dengan menonjolkan konsep alam tradisional yang ditujukan untuk wisata keluarga. Suasananya menyatu dengan alam sekitar, hal ini tampak dari kursi-kursi kayu dan pohon-pohon yang tumbuh tertata rapih hingga terlihat estetik.

Ada juga Bukit Pangonan, sebuah objek wisata alam di ketinggian dengan berbagai spot foto dan pemandangan yang menarik. Yang tak kalah menarik adalah Tugu Gajah Barbel atau Patung Gajah Angkat Besi. Tugu ini melambangkan Kabupaten Pringsewu sebagai tempat lahirnya atlet angkat besi nasional dengan prestasi internasional, seperti Imron Rosyadi, Jadi Setiadi, hingga Lisa Rumbewas.


6. Kuliner khas Pringsewu

[Bintang] 8 Hidangan Es Tradisional yang Wajib Kamu Santap di September
Perbesar
Es Sop Durian (Via: arifsetiawan.com)

Tak hanya memiliki destinasi wisata yang menarik, Pringsewu juga terkenal dengan beragam kuliner khas yang lezat dan menggugah selera.  Salah satunya adalah Mie Teluk yang bertekstur lembut. Ciri khas kuliner ini ada pada kuah dan sambalnya.Kuah Mie Teluk hanya diracik dari bumbu rempah-rempah tanpa menambahkan penyedap rasa.

Sedangkan sambalnya punya cita rasa khas dengan tingkat kepedasan yang pas. Sebagai pelengkap, biasanya disajikan dengan sayuran, ayam cincang, bakso, dan tahu bakso. Ada pula Es Krim Batok. Seperti namanya, es krim ini disajikan di dalam batok kelapa.

Seporsi es krim batok terdiri dari es krim, roti, potongan buah, jelly, ketan hitam, susu kental manis, dan keju. Kuliner khas Pringsewu lainnya adalah Sop Durian, Pecel Ulek, Pecel Siram, Mie Khodon, dan Kopi Khaja.

Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Perbesar
4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya