Kisah Remaja Ukraina Minta Diterima Bersekolah Usai Kabur karena Invasi Rusia

Oleh Putu Elmira pada 05 Apr 2022, 12:02 WIB
Diperbarui 05 Apr 2022, 12:03 WIB
[Fimela] ilustrasi sekolah
Perbesar
ilustrasi sekolah | unsplash.com/@flpschi

Liputan6.com, Jakarta - Invasi Rusia ke Ukraina menyisakan beragam kisah menyentuh. Salah satunya datang dari seorang remaja Ukraina yang kabur dari tanah kelahirannya ke Hungaria.

Sebelum perang melanda negerinya, remaja Ukraina bernama Alla Renska itu sedang belajar sebagai persiapan ujian masuk perguruan tinggi di kota kelahirannya, Kiev. Ia berencana menjadi penerjemah bahasa Inggris dan Turki. 

Namun sayang, invasi Rusia ke Ukraina telah mengubah cita-cita Renska. "Kami mendengar ledakan dan rumah kami bergetar," kata Renska.

Dikutip dari CNN, Selasa (5/4/2022), orangtuanya lalu memutuskan mengirimnya ke tempat aman di luar negeri. Renska masih tidak percaya betapa cepat hidupnya berubah sejak invasi Rusia. "Ini abad ke-21, ini Ukraina, ini Eropa, mengapa?" tambahnya.

Orangtua Renska mengatur agar dia tinggal bersama teman-teman baik di Hungaria. Orangtuanya tetap tinggal di Ukraina untuk merawat neneknya yang sudah lanjut usia, yang terlalu lemah untuk bepergian.

Tak membuang waktu, ia lantas berkemas dengan cepat. "Saya tidak akan pernah melupakan hari itu," katanya sembari mengingat kerumunan orang yang berlindung di kereta bawah tanah untuk perlindungan dari jatuhnya artileri. "Ya Tuhan, begitu banyak orang di sana!" lanjutnya.

Renska kemudian datang membawa ransel merah mudanya dari kelas ke kelas di Korosi Baptist High School, Budapest, Hungaria. Saat hari sekolah itu, para siswa ada yang tengah belajar, mempresentasikan tugas kelas, dan tertawa bersama teman-teman.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Babak Baru

Hari ke-25 Invasi Rusia, Penghormatan untuk Korban Tewas
Perbesar
Seorang ibu memeluk putranya yang melarikan diri dari kota Mariupol yang terkepung dan tiba di stasiun kereta api di Lviv, pada 20 Maret 2022. Pada Hari 25 perang Rusia di Ukraina, kehidupan yang kacau, perpisahan yang pahit tertangkap dalam foto-foto Associated Press. (AP Photo/Bernat Armangue)

Ketika Renska tiba di stasiun kereta api, himpitan massa menghalanginya mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya dan ia didorong ke kereta. "Saya menangis," kenang Renska, "Mungkin sepanjang malam."

Tidak lama setelah kereta berangkat, sirene serangan udara berbunyi. Ayahnya harus tidur di stasiun, tidak tahu apakah keretanya aman. Ia tidak akan mendengar kabar darinya sampai tiba di Hungaria.

Renska mengambil beberapa foto selama perjalanan. Dalam perjalanan kereta api itulah dia memutuskan untuk menulis email ke Korosi Baptist High School, salah satu sekolah terbaik di Hungaria. Ia menulis tentang perang dan menjelaskan apa yang terjadi padanya. Renska juga memberi tahu mereka tentang pencapaiannya.

"Saya memenangkan kompetisi dalam sejarah Ukraina, bahasa Ukraina, dan sastra asing," tulis Renska. "Dan saya sudah menulis tiga makalah ilmiah di Small Academy of Sciences cabang Kyiv pada 2020, 2021."

Ia mengakhiri emailnya dengan permohonan, "Saya benar-benar ingin pergi ke sekolah dan terus belajar!!! Saya mohon bantuan Anda." Renska memberi tanggal pada surat itu, "Hari ke-10 perang di Ukraina."


Bantuan Sekolah

ilustrasi sekolah/unsplash element-digital
Perbesar
ilustrasi sekolah/unsplash element-digital

Pejabat sekolah meluncurkan seruan kepada orangtua dari komunitas sekolah, mengumpulkan sekitar 90 dolar AS (Rp1,2 miliar) untuk mengubah beberapa kontainer pengiriman cadangan menjadi kamar asrama dengan kamar tidur, kamar mandi, dan dapur kecil di luar gedung sekolah utama. Tempat ini kini menjadi tempat Renska tidur dan belajar.

Ia menghabiskan hari-harinya di kelas dan belajar bahasa baru, yakni bahasa Hungaria. Malam dihabiskan di kamar asrama dengan beberapa remaja perempuan lainnya yang juga baru saja meninggalkan Ukraina dan disambut oleh sekolah.

Renska mengatakan dia suka tinggal begitu dekat dengan sekolah dan memiliki kesempatan untuk bertemu siswa lain dari Ukraina. "Di Ukraina saya memiliki kelas mengagumkan dan guru yang luar biasa. Dan di sini juga ada orang-orang luar biasa," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka adalah "orang-orang luar biasa yang telah menjadi keluarga saya."

Kepala Sekolah Korosi Baptist High School mengatakan sekarang memiliki cukup ruang untuk menampung 12 siswa lagi dari Ukraina dalam beberapa minggu mendatang. Sekolah juga menyediakan psikolog, seorang perempuan Rusia, yang membantu mereka mengatasi trauma yang mereka alami.


Tetap Tabah

Ilustrasi kerja keras, belajar
Perbesar
Ilustrasi belajar. (Photo by bruce mars on Unsplash)

Terlepas dari trauma itu, Renska mengatakan dia mencoba untuk tetap tabah. "Saya mencoba untuk tidak menangis dan saya mencoba jadi kuat karena orangtua saya. Saya tahu bahwa ketika saya menangis, itu membuat mereka merasa tidak baik."

Kekuatan itu terlihat saat video Renska menelepon orangtuanya. Semuanya tersenyum saat dia memberi tahu mereka tentang sekolah dan pekerjaan. Ibunya, Indira Renska, mengatakan bahwa dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya dengan putrinya yang begitu jauh. "Terlalu menyakitkan (untuk dibicarakan)," kata Indira. "Saya sangat mencintainya. Bahwa dia aman sekarang adalah (hal) utama bagi saya."

Setelah panggilan berakhir dan ibunya menutup telepon, wajah berani Renska memudar dan dia mulai menangis. "Sangat tidak adil bahwa saya harus berada di sini dan orangtua saya di sana," katanya.

Meski begitu, dia bertekad untuk tetap optimis. "Saya hanya ingin kehidupan normal," kata Renska, percaya bahwa suatu hari dia akan dapat kembali ke Ukraina. 


Infografis Rusia Serang Ukraina dan Dalih Vladimir Putin

Infografis Rusia Serang Ukraina dan Dalih Vladimir Putin. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Rusia Serang Ukraina dan Dalih Vladimir Putin. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya