Tradisi Munggahan Jelang Ramadhan yang Penuh Makna

Oleh Komarudin pada 02 Apr 2022, 03:03 WIB
Diperbarui 02 Apr 2022, 08:24 WIB
Ilustrasi makan bersama di atas daun pelepah pisah yang dilakukan anggota TNI-Polri, merupakan salah satu kegiatan dalam tradisi munggahan menjelang Ramadan
Perbesar
Ilustrasi makan bersama di atas daun pelepah pisah yang dilakukan anggota TNI-Polri, merupakan salah satu kegiatan dalam tradisi munggahan menjelang Ramadan (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi munggahan jadi salah satu kegiatan yang banyak dilakukan umat Islam menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan tersebut berupa kumpul bersama sambil menyantap makanan yang disiapkan.

Di Karang Tengah, Tangerang, Banten, tradisi mungghan masih eksis hingga saat ini. Tradisi tersebut biasanya dilakukan seorang pemilik rumah dengan mengundang sejumlah tetangga untuk kumpul bersama.

Dengan mengundang tokoh masyarakat setempat, seperti kiai atau ustaz, mereka kumpul dengan membacakan doa untuk para anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Setelah itu, mereka menyantap makan yang disediakan oleh tuan rumah.

Tak hanya di Banten, tradisi munggahan juga dilaksanakan di daerah Jawa, dengan menyebutnya sebagai "punggahan". Tradisi tersebut masih bertahan hingga sekarang.

Di banyak tempat mereka kemudian berziarah dan membersihkan makam-makam anggota keluarga. Mereka juga saling maaf-memaafkan agar puasa berjalan lancar.

Tradisi munggahan memang tak bisa diabaikan begitu saja. Tradisi tersebut sudah turun-temurun dilakukan masyarakat.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Makna Munggahan

Ilustrasi puasa Ramadhan
Perbesar
Ilustrasi puasa Ramadhan (dok.unsplash/ Artur Aldyrkhanov)

Dilansir dari beberapa sumber, munggah berasal dari kata "unggah" yang berarti naik undakan untuk masuk, misalnya ke rumah atau ke masjid yang dulunya masih berbentuk panggung. Namun, dalam lidah orang Sunda, kata unggah sering diawali dengan huruf "m" hingga biasa dilafalkan dengan kata "munggah".

Munggah dalam menghadapi puasa, karena "naik ke bulan yang lebih tinggi derajatnya". Dari kata munggah tersebut tersirat perubahan, baik secara lahirian maupun batiniah. 


Lahiriah dan Batiniah

Ilustrasi puasa Ramadhan
Perbesar
Ilustrasi puasa Ramadhan (dok.unsplash/ Positive Moslem Attitude)

Secara lahiriah, misalnya, kita harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Jadwal makan berubah dari biasanya, tapi yang lebih penting perubahan perilaku lahir dan batin menjadi lebih baik lagi.

Beragam amalan maupun anjuran bisa dilaksanakan selama Ramadhan. Tentu itu perlu kesiapan lahir dan batin untuk menunaikannya. Munggahan merupakan ungkapan rasa syukur dan bahagia umat Islam dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.


Megengan

Tradisi Megengan di Festival Ramadan Masjid Agung Surabaya
Perbesar
Ada gunungan kue Apem di Festival Ramadan Masjid Agung Surabaya sebagai sebuah tradisi yang dinamakan Megengan.

Di luar Jawa Barat dan Banten, tradisi tersebut dikenal dengan megengan. Itu adalah tradisi masyarakat Jawa yang pada umumnya terdapat di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur dalam menyambut bulan Ramadhan.

Megengan berasal dari kata megeng yang berarti menahan. Artinya, manusia diajak untuk menahan diri dari melakukan perbuatan yang dapat membatalkan puasa.

 


Infografis Hilal Ramadhan

Infografis Hilal Ramadhan (Liputan6.com/Deisy Rika)
Perbesar
Infografis Hilal Ramadhan (Liputan6.com/Deisy Rika)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya