Implementasi Komnas Perempuan Guna Pastikan Transportasi Online Aman Bagi Wanita

Oleh stella maris pada 24 Jan 2022, 22:58 WIB
Diperbarui 24 Jan 2022, 23:14 WIB
Komnas Perempuan melakukan upaya-upaya kolaboratif dan strategis dengan beberapa perusahaan termasuk para penyedia layanan ride-hailing
Perbesar
Komnas Perempuan melakukan upaya-upaya kolaboratif dan strategis dengan beberapa perusahaan termasuk para penyedia layanan ride-hailing/Istimewa.

Liputan6.com, Jakarta Kehadiran transportasi online memang memudahkan aksesibilitas dalam melaksanakan aktivitas harian masyarakat dengan mobilitas tinggi. Di samping memberi manfaat dalam segi efisiensi waktu dan biaya, namun transportasi online juga harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan bagi para pengguna. 

Namun kenyamanan dan kemudahan yang ditawarkan penyedia layanan ride-hailing tak lantas membuat layanan ini bebas risiko. Beberapa kasus kekerasan seksual pada penumpang perempuan dan mitra pengemudi masih dijumpai, khususnya di perkotaan. 

Belum lagi jika berkaitan dengan tingginya mobilitas masyarakat hingga malam hari yang  memungkinkan terjadinya tindak kekerasan seksual. Berkaitan dengan hal tersebut, Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menilai bahwa perempuan masih menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap tindak kekerasan fisik, psikis, maupun kekerasan seksual, seperti pencabulan dan pemerkosaan. 

Tanpa disadari pelecehan seksual bahkan sering terjadi dengan cara berkomentar tentang tubuh, bersiul, hingga menggoda. Hal itu sering terjadi karena minimnya kesadaran dan pemahaman masyarakat. Oleh karena itu perusahaan teknologi ride-hailing harus melakukan langkah serius melalui kebijakan dan kode etik pelayanan. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Upaya Kolaboratif dan Pencegahan Grab

Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang
Perbesar
Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang/Istimewa.

Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang mengatakan, pihaknya terus memberikan masukan kepada pelaku bisnis, dalam menciptakan kebijakan dan mengimplementasikan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual pada perempuan.

Selain itu, upaya-upaya kolaboratif dan strategis dengan beberapa perusahaan termasuk para penyedia layanan ride-hailing juga dilakukan. Mulai dari terkait pencegahan, penyusunan kebijakan, pembekalan Tim Penanganan Kasus, hingga pelatihan anti-kekerasan seksual. 

"Kami berharap transportasi online dapat memastikan perlindungan terhadap penumpang dan mitra pengemudi khususnya perempuan termasuk rasa aman terhindar dari kekerasan seksual," ujar Veryanto Sitohang. 

Meski upaya tersebut sudah dilakukan Komnas Perempuan, namun sejumlah pihak mempertanyakan bagaimana penyedia layanan ride-hailing memastikan keamanan penggunanya. Sejauh mana teknologi bisa melindungi mereka dari segala kemungkinan tindakan kriminal. 

Maka dari itu, Grab sebagai penyedia layanan ride-hailing ikut ambil bagian dalam mengemban tanggung jawab besar dalam menangani sembilan juta mitra pengemudi dan puluhan juta pengguna di Asia Tenggara. 

Director of Central Public Affairs Tirza R. Munusamy menjelaskan, sejak awal berdiri Grab menempatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan penumpang sebagai prioritas utama. Grab akan terus memperkuat protokol keamanan melalui teknologi pendukung keamanan pada aplikasi, seleksi mitra pengemudi secara ketat, pencegahan sejak dini dan penanganan melalui pembekalan dan pelatihan anti-kekerasan seksual.  

Tak hanya itu saja, Grab secara aktif berkomunikasi dan bekerja sama dengan Komnas Perempuan untuk mendapatkan masukan dan bertindak nyata, dalam upaya-upaya keselamatan bagi penumpang dan mitra pengemudi perempuan. 

"Masukan-masukan itulah yang menjadi acuan kami dalam membuat kebijakan dan kode etik, setidaknya ada 40 kode etik mitra pengemudi GrabBike dan GrabCar beserta dengan sanksi yang diterapkan jika melanggar, misalnya sopan santun dan etika berkendara dan keamanan penumpang," tambah Tirza. 

Sejak hadir di Indonesia, Grab berkomitmen menginvestasikan kembali pendapatan perusahaan yang diperoleh dari mitra pengemudi dan pengguna untuk menunjang keselamatan, keamanan dan kenyamanan penumpang dan mitra pengemudi. 

Hal itu dilakukan melalui empat pilar strategi yang terintegrasi  pada layanan Grab, di antaranya teknologi pendukung keamanan pada aplikasi Grab, seleksi mitra pengemudi yang ketat, pencegahan (melalui pembekalan dan pelatihan), serta sistem penanganan insiden yang berspektif korban.

Selain memberikan pembekalan dan pelatihan mengenai anti kekerasan seksual secara berkala, proses seleksi mitra pengemudi serta pengawasan dari perusahaan penyedia layanan ride hailing juga sangat penting untuk pencegahan kekerasan sejak, karena mitra pengemudi menjadi garda terdepan dalam memberikan layanan berkualitas serta perlindungan kepada penumpang perempuan.  

Mengenai penyeleksian yang dilakukan Grab, Kevin Tambalaen selaku Mitra Pengemudi Taksi Online mengaku, untuk bergabung dengan Grab tidaklah mudah. Kevin harus mengikuti beberapa tahap pembekalan sebelum resmi menjadi mitra Grab. 

"Bekerja menjadi pengemudi GrabCar itu nggak gampang. Pas masuk ada pembekalan, topiknya banyak, termasuk pencegahan kekerasan seksual. Ada kode etik dan sanksi tegas dari perusahaan kalau melanggar. Kalau saya dapat rejeki dari penumpang, otomatis saya juga harus melindungi penumpang, apalagi perempuan. Ya sama aja kayak saya melindungi keluarga, ke penumpang juga gitu," jelas Kevin yang menjadi Mitra Grab selama tujuh tahun. 

Apa yang dilakukan Kevin, menurutnya menjadi caranya untuk berempati dengan penumpang. Jika dia ada diposisi keluarga perempuan, Kevin mengatakan dengan tegas, kalau dia juga tak mau saudaranya mendapatkan pengalaman tak menyenangkan. 

"Saya dan teman-teman driver GrabCar melindungi penumpang karena saya juga nggak mau keluarga saya mengalami kekerasan, apalagi kekerasan seksual. Selain itu, di Grab, kami juga dilatih gimana caranya kalau mengalami kekerasan, ada fitur Pusat Bantuan di aplikasi Grab, jadi penumpang dan driver terlindungi," jelas Kevin. 

Dengan bekal materi yang diberikan Grab, Kevin pun meyakini bahwa jika terus memberikan pelayanan terbaik kepada penumpang, dia juga akan mendapat ‘imbalan’ yaitu memberi review yang bagus. 

"Prinsipnya, kalo penumpang memilih pakai layanan GrabCar, mereka menaruh kepercayaan sama kami untuk bisa membawa mereka sampai ke tujuan dengan selamat. Iitu yang kami jaga, jangan sampai penumpang kecewa, apalagi sampai ada kekerasan," ujarnya. 

Teknologi canggih pada layanan ride-hailing dirancang untuk memudahkan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat, namun mewujudkan transportasi online yang aman, khususnya untuk perempuan memerlukan langkah serius dan keterlibatan banyak pihak, baik perusahaan teknologi penyedia layanan ride-hailing, pemerintah, lembaga terkait, mitra pengemudi hingga masyarakat umum. 

 

(*)

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya