Rumput Laut Bisa Membantu Atasi Krisis Sampah Plastik Dunia?

Oleh Asnida Riani pada 06 Jan 2022, 05:03 WIB
Diperbarui 06 Jan 2022, 05:03 WIB
Ilustrasi sampah plastik (pexels)
Perbesar
Prancis akan malarang penggunakan kemasan plastik untuk mayoritas jenis buah dan sayur demi mengurangi sampah plastik. (pexels)

Liputan6.com, Jakarta - Adalah Notpla, start-up berbasis di London, Inggris yang merancang pengganti kemasan plastik sekali pakai berbahan dasar rumput laut. Didirikan pada 2014, perusahaan menutup putaran pembiayaan Seri A senilai 10 juta pound sterling bulan lalu, yang dipimpin perusahaan VC Horizons Ventures, untuk meningkatkan dan mengembangkan lini produknya.

Produk Notpla dimaksudkan untuk dikomposkan atau dilarutkan setelah digunakan, meski beberapa juga dapat dimakan, lapor CNN, Rabu, 5 Januari 2022. Penawaran saat ini termasuk kemasan saset untuk bumbu dan air; bungkus produk dapur atau kamar mandi, seperti kopi atau tisu toilet, serta kotak takeaway.

Direktur desain Notpla, Karlijn Sibbel, mengatakan mereka melihat alam sebagai inspirasi "untuk kemasan yang ideal," seperti kulit pada buah. "Kulit pada akhirnya akan digunakan (sebagai nutrisi) secara alami, menghilang, dan jadi bagian dari siklus," katanya.

Pendekatan ini dinilai sebagai "salah satu solusi dari efek produksi plastik yang tak terkekang selama beberapa dekade." Menurut PBB, 300 juta ton sampah plastik diproduksi secara global setiap tahun, dan dari perkiraan 8,3 miliar ton plastik yang diproduksi sejak awal 1950-an, sekitar 60 persennya telah dibuang atau ditimbun di luar ruangan.

Mikroplastik, partikel kecil yang sering kali merupakan hasil penguraian plastik lebih besar, telah mencemari laut, udara, dan tubuh manusia. Selama beberapa tahun terakhir, ada gerakan yang berkembang melawan plastik sekali pakai karena banyak ahli berpendapat bahwa produk tersebut tidak perlu dan berbahaya.

Bisnis juga mendapat kecaman karena menggunakannya secara berlebihan seperti pada 2019 ketika Whole Foods dikupas dan jeruk yang dibungkus satu per satu jadi viral. "Semakin jelas seberapa besar masalah plastik itu," kata Sibbel.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Target Berbagai Kemasan Produk

Ilustrasi sampah plastik
Perbesar
Ilustrasi sampah plastik (dok.unsplash/ Nick Fewings)

Sibbel berkata, "Produsen menggunakan bahan yang bertahan selama ribuan tahun untuk produk yang hanya digunakan untuk beberapa menit. Ketidaksesuaian itu adalah sesuatu yang perlu kita selesaikan."

Pendiri Notpla, Rodrigo García González dan Pierre Paslie, awalnya memandang rumput laut sebagai solusi masalah plastik dunia karena melimpah, tumbuh cepat, tidak bersaing dengan tanaman darat, dan menyerap karbon dari udara, jelas Sibbel. Juga, ada banyak spesies rumput laut yang berbeda, dan dapat dipanen atau dibudidayakan.

"Rumput laut tidak menggunakan lahan, tidak menggunakan pestisida," kata Sibbel. "Itu bisa tumbuh di lautan dan samudra, sebenarnya memiliki banyak manfaat positif sehingga bisa menciptakan ekosistem baru bagi organisme lain untuk berkembang."

Sejak didirikan, start-up ini telah mendapat hibah dari lembaga pemerintah Inggris Innovate UK dan yayasan ekonomi sirkular Ellen MacArthur Foundation untuk produk pertamanya, saset Ooho, yang menampung satu porsi cairan. Putaran pembiayaan baru akan digunakan untuk meningkatkan produksi lapisan Ooho dan Notpla.

Juga, mengembangkan lebih lanjut kertas rumput laut dan pembungkus multiguna mereka. Kertas terbuat dari serat yang tersisa dari pembuatan produk Notpla lain dan dapat digunakan untuk membuat barang-barang seperti bungkus kado atau label pakaian, sedangkan bungkus multiguna menyasar sebagian besar barang kering atau basah dengan kadar air rendah.

Untuk bahan makanan, seperti pasta, mereka bahkan bereksperimen dengan menambahkan rasa pada kemasannya, sehingga melarutkan kantong berarti menambah bumbu. "Anda bisa memasak dengannya, dan Anda benar-benar bisa mulai memikirkan kembali apa yang bisa kita lakukan dengan bahan-bahan ini," jelasnya.


Rantai Pasokan Lebih Luas

Ilustrasi rumput laut
Perbesar
Ilustrasi rumput laut. (Photo by nevillevlogz on Pixabay)

Beberapa produk Notpla telah tersedia secara online, tapi perusahaan juga telah menjalin beberapa kemitraan besar di Inggris dan seluruh Eropa Barat. Ini termasuk menyediakan minuman di festival seperti DGTL di Amsterdam dan Glastonbury di Somerset. Pada 2019, Notpla mendistribusikan 36 ribu Oohos yang diisi dengan minuman energi selama London Marathon.

Pihaknya juga tercatat menyediakan kapsul Glenlivet yang dapat dimakan di London Cocktail Week. Tahun lalu, mereka menguji 30 ribu kotak takeaway di berbagai restoran Inggris, bekerja sama dengan layanan pemesanan makanan online Just Eat, dan sedang menawarkan kotak di seluruh Eropa.

Nantinya, tim Notpla berharap rumput laut dapat menggantikan plastik sekali pakai dalam rantai pasokan secara lebih luas, kata Sibbel. Berkaca pada volume plastik yang digunakan di seluruh dunia, ia paham seberapa besar tugas itu. "Saya tidak berpikir satu bahan (atau) satu solusi akan menyelesaikan semuanya, tapi kami pikir rumput laut benar-benar cocok," katanya.

Memikirkan kembali kapan dan mengapa manusia menggunakan plastik akan sangat penting bagi Notpla untuk masuk ke industri lain, kata Sibbel. "Plastik bisa melakukan banyak hal," tambahnya. Tapi ini tentang bertanya, "Apakah itu benar-benar diperlukan untuk aplikasi ini?"

Ia menunjuk ke kemasan untuk produk seperti tomat, yang memiliki lubang untuk membiarkan makanan bernafas. "Tidak harus plastik. Mengapa kita menggunakan plastik?" tanya Sibbel. "Saya sangat berharap untuk melihat industri bergerak dan merangkul (perubahan) dengan cara yang positif."


Infografis Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat

Infografis Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat
Perbesar
Infografis Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya