Menelusuri Jejak Sejarah Pengucapan Sumpah Pemuda pada 1928 di Kramat Raya 106

Oleh Liputan6.com pada 28 Okt 2021, 07:32 WIB
Diperbarui 28 Okt 2021, 07:32 WIB
Menelusuri Saksi Bisu Pengucapan Sumpah Pemuda pada 1928 di Kramat Raya 106
Perbesar
Diorama suasana Kongres Pemuda II yang seakan-akan pengunjung turut hadir dalam kongres tersebut. (dok. Liputan6.com/Gabriella Ajeng)

Liputan6.com, Jakarta - Tak lengkap rasanya memperingati Hari Sumpah Pemuda tanpa bertandang ke Museum Sumpah Pemuda. Museum itu menjadi saksi bisu saat para pemuda-pemudi berikrar untuk bersatu sebagai warga Indonesia pada 28 Oktober 1928. Momen itu adalah kritikal dalam upaya pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Lokasi yang dijadikan tempat pengucapan Sumpah Pemuda itu merupakan Gedung Kramat Raya 106 Jakarta milik warga Tionghoa bernama Sie Kong Liong. Oleh Jong Java, gedung ini disewa pada 1925 sebagai tempat kesenian “Langen Siswo” dan sebagai tempat diskusi politik. Pada 1926 beralih fungsi menjadi kantor redaksi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI).

Pada 21 Oktober 2021, Liputan6.com sempat menyambangi Museum Sumpah Pemuda tempat digelarnya pembukaan International Coaching Summit (ICS) 2021 oleh International Coaching Federation (ICF). Museum ini disewakan untuk acara tersebut sehingga tidak ada pengunjung umum.

Dari halaman depan menuju ke pintu masuk, pengunjung akan melewati ruang pengenalan yang berisi diorama suasana Batavia pada 1920. Terdapat patung tiga pemuda yang sedang belajar dan berdiskusi di Gedung Kramat Raya 106. Pada tahun tersebut gedung ini merupakan tempat kumpul mahasiswa yang bersekolah di STOVIA dan RHS.

Dari pintu masuk ke arah kiri terdapat ruang organisasi sebelum sumpah pemuda. Pada ruangan ini ditampilkan penjelasan proses munculnya organisasi-organisasi pemuda setelah berdirinya Budi Utomo. Organisasi tersebut antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan Pemoeda Kaoem Betawi.

Di tengah-tengah ruangan terdapat etalase bendera organisasi, salah satunya Jong Java yang memiliki lambang keris. Para pemuda pada saat itu ingin terbebas dari para penjajah walaupun mereka masih mengutamakan sifat-sifat kedaerahan.

Berikutnya menyusuri Ruang Kongres I yang menampilkan penjelasan terjadinya peristiwa Kongres Pemuda I dan terbentuknya organisasi pemuda pada 1926, salah satunya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Terdapat pula diorama pelajar yang sedang mendengarkan radio pada zaman tersebut.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Teks Lagu hingga Biola

Menelusuri Saksi Bisu Pengucapan Sumpah Pemuda pada 1928 di Kramat Raya 106
Perbesar
Potret Biola WR Supratman. (dok. Liputan6.com/Gabriella Ajeng)

Ruang selanjutnya merupakan Ruang Kongres II yang merupakan tempat pembacaan teks Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Ditampilkan pula diorama Kongres Pemuda II, pahatan di dinding keputusan Kongres Pemuda II, dan teks lagu Indonesia Raya tiga stanza yang saat itu masih berjudul Indonesia. Replika para pemuda yang mengikuti Kongres Pemuda II dibuat sangat realistis sehingga saya merasa ikut hadir dalam kongres tersebut.

Berikutnya, saya menuju Ruang Organisasi Setelah Sumpah Pemuda yang memamerkan proses pembentukan organisasi Indonesia Muda. Terdapat diorama yang memperlihatkan dua orang pemuda yang sedang membaca koran Benih Merdeka. Koran ini menjadi bacaan para pemuda pada 1930-an.

Di sebelah ruangan itu terdapat ruangan yang menampilkan Sejarah Lagu Indonesia Raya. Pertama kalinya saya melihat langsung biola WR Supratman yang digunakan untuk menciptakan lagu Indonesia Raya. Pengunjung dapat memindai barcode yang ada dalam etalase biola untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

Pada belakang rumah terdapat ruang kepanduan yang agak terpisah dari ruangan sebelumnya. Ruang kepanduan ini menampilkan sejarah kepanduan di Indonesia. Terdapat diorama yang menampilkan baju kepanduan (sekarang bernama Pramuka) serta etalase yang berisi dasi kepanduan, ikat pinggang, serta kotak P3K.

 

 

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Belum Dibuka untuk Umum

Menelusuri Saksi Bisu Pengucapan Sumpah Pemuda pada 1928 di Kramat Raya 106
Perbesar
Pesan Ki Hajar Dewantara yang ada di Ruang Perenungan, Museum Sumpah Pemuda. (dok. Liputan6.com/Gabriella Ajeng)

Ruangan terakhir yang disambangi adalah Ruang Perenungan. Di sini terdapat pesan-pesan dari Ki Hajar Dewantara dan Sukarno serta puisi karya Mohammad Yamin yang berjudul Tanah Air. Dalam ruangan ini terdapat sebuah kursi sebagai simbol perenungan.

Abdul Latif, salah satu petugas satpam Museum Sumpah Pemuda mengatakan bahwa sejak pandemi, museum ini belum dibuka untuk umum, hanya digunakan untuk acara-acara dan kegiatan penelitian saja. "Iya (tutup) dari sejak pandemi. Kemungkinan tahun depan kali (bukanya)," ujar Abdul.

Abdul menyebutkan harga tiket masuk ke museum untuk orang dewasa Rp 2.000, sementara untuk anak-anak dihargai sebesar Rp 1.000. Sebelum memasuki area museum, pengunjung diharuskan untuk mengukur suhu. Liputan6.com tidak melihat adanya cairan pembersih tangan, tetapi imbauan untuk selalu menggunakan masker dan menjaga jarak terpampang di spanduk di depan museum.

Selanjutnya, pengunjung perlu memindai barcode yang tersedia di depan pintu masuk museum dengan menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Secara otomatis pengunjung terdaftar sedang mengunjungi Museum Sumpah Pemuda. Liputan6.com mendapatkan kabar bahwa Museum Sumpah Pemuda akan dibuka terakhir pada bulan ini karena pihak museum berencana untuk merombak bagian dalam museum hingga tahun depan. (Gabriella Ajeng Larasati)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

7 Pemuda Penggerak Kemajuan Bangsa

INFOGRAFIS: Inilah 7 Pemuda Penggerak Kemajuan Bangsa di Ajang SATU Indonesia Awards
Perbesar
7 pemuda berprestasi penerima apresiasi 9th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards.
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya