PR Indonesia Sambut Hari Pangan Sedunia 2021, Punya Limbah Makanan Berlebih tapi Banyak Kekurangan Gizi

Oleh Liputan6.com pada 16 Okt 2021, 05:02 WIB
Diperbarui 16 Okt 2021, 05:18 WIB
Ilustrasi pria Lulusan S2 Kerap Dicibir Jadi Petani Jamur
Perbesar
Ilustrasi pria Lulusan S2 Kerap Dicibir Jadi Petani Jamur/unsplash d-ng-tri

Liputan6.com, Jakarta - Hari Pangan Sedunia yang jatuh setiap 16 Oktober menjadi momen pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi di Indonesia terkait pangan. Masalah yang kompleks itu harus diselesaikan bersama agar ketahanan pangan di negeri ini meningkat.

Berdasarkan Food Sustainability Index 2020, Indonesia menempati peringkat ke-60 dan 67 negara dalam hal keberlanjutan pangan menurut tiga indikator, yakni pemenuhan gizi, penerapan pertanian berkelanjutan, dan limbah makanan. Secara umum, itu berarti Indonesia memiliki pekerjaan rumah dari hulu hingga hilir yang belum terpecahkan.

Hernie Raharja, Direktur Foods & Refreshements PT Unilever Indonesia, Tbk, memetakan dari sisi pemenuhan gizi, ada tiga beban yang jadi sorotan. Pertama bahwa satu dari tiga anak di Indonesia menderita stunting. Hal ini menandakan bahwa mereka banyak yang mengalami kekurangan gizi.

Di sisi lain, satu dari tiga orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Mereka bisa jadi terlalu banyak makan atau makan tidak benar, ditambah gaya hidup yang kurang aktif. Ditambah, 40 persen orang Indonesia mengalami kekurangan gizi mikro yang berarti kekurangan asupan vitamin dan mineral dari makanan yang diasupnya.

Terkait tantangan pertanian, Indonesia menghadapi situasi menurunnya luasan lahan berkualitas dan mandegnya regenerasi petani. Kombinasi situasi ini membuat kita sebagai negara agraris kerap mengimpor banyak produk pangan dari luar negeri.

"Kita punya lahan luas tapi banyak produk diimpor dari luar negeri," ucap Hernie dalam diskusi virtual Peringatan Satu Tahun Komitmen “Future Foods” di Unilever Indonesia, Kamis, 14 Oktober 2021.

Hal terakhir yang jadi sorotan adalah jumlah limbah makanan di Indonesia yang mencapai 23-48 juta ton per tahun. Jumlah itu mendudukkan Indonesia di peringkat ke-2 negara pembuang makanan di dunia.

"Supply chain, terutama di masa pandemi jadi tantangan sometimes. Hasil pertanian jadi busuk di jalan sehingga harus dibuang. Belum lagi sisa makanan dari restoran. Selain itu, kita sering tidak sadari buang makanan di rumah sendiri," dia mengurai beberapa penyebab.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perubahan Pola Pikir

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi pertanian organik. (dok. pexels/Anna Tarazevich)

Hernie menyebut perubahan pola pikir masyarakat turut memengaruhi situasi ini. Dalam hal limbah, misalnya, lantaran makanan kini lebih mudah diperoleh secara instan, banyak orang tak lagi merasa sayang membuangnya. Padahal, proses penyiapannya hingga terhidang di rumah melewati rantai yang panjang.

"Untuk ketahanan masa depan, jangan bikin sisa makanan apapun," kata dia.

Di sisi lain, banyak generasi muda yang beranggapan profesi petani bukanlah pekerjaan yang menjanjikan. Kondisi petani yang kerap digambarkan hidup di bawah garis kemiskinan menjadi salah satu faktor yang melatarinya. Padahal, Indonesia sangat tergantung pada kerja keras petani untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Belum lagi soal masyarakat yang masih awam soal kalori. Makanan yang diasup sering tidak perhatikan komposisinya, meski di kemasan sudah tertera angka kalori masing-masing produk. Begitu pula dengan jenis makanan yang banyak disajikan. Menurut Hernie, 70 persen masakan Indonesia itu digoreng, baik deep fried maupun ditumis.

"Kalau bertahun-tahun dimakan, gorengan tidak baik juga, terlalu banyak lemaknya," sambung dia.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Butuh Kolaborasi

ilustrasi makanan berserat atasi sembelit/pexels
Perbesar
ilustrasi makanan berserat atasi sembelit/pexels

Hernie menyebut sejumlah solusi sudah dihadirkan perusahaannya lewat empat brand utama yang bernaung di Unilever, yakni Bango, Royco, Buavita, dan Walls. Bango, misalnya, pernah merancang program pemberdayaan petani, khususnya kedelai hitam dan gula kelapa. Mereka merancang agar terjadi regenerasi petani sekaligus memperpendek rantai distribusi sehingga petani mendapat harga yang adil.

Sementara, Royco berusaha menawarkan solusi mengentaskan masalah gizi dan limbah makanan dengan menghadirkan beragam resep praktis. Brand itu juga menggandeng kalangan pesantren untuk mengaplikasikan resep sekaligus cara mengelola limbah makanan yang lebih berkelanjutan.

Sementara, baik Buavita dan Walls menekankan soal edukasi gizi dengan pendekatan berbeda. Buavita misalnya, menekankan pentingnya asupan buah sehari-hari, sedangkan Walls mengajak agar anak lebih aktif bermain.

Unilever, sambung dia, tak bisa menyelesaikan masalah itu sendiri. Pihaknya menggandeng sejumlah partner yang memiliki visi serupa. Salah satunya dengan TaniHub untuk membantu petani menjual langsung hasil pertaniannya.

"Dengan jual ke ecommerce, mata rantai tidak terlalu panjang, lewati tengkulaknya dan harganya nggak boleh ditekan," kata dia.

"Banyak hal yang bisa dibereskan, kita harus kerjasama dengan Kementan dan badan-badan lain yang punya visi misi seimbang," ucapnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Apa Kabar Petani?

infografis hari tani nasional
Perbesar
jumlah petani indonesia turun sejak tiga tahun terakhir (liputan6/yasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya