Tertarik Bisnis Luar Angkasa, Jepang Berencana Membuat Makanan Berkelanjutan di Bulan

Oleh Henry pada 13 Agu 2021, 10:01 WIB
Diperbarui 13 Agu 2021, 10:01 WIB
FOTO: Wahana Antariksa China Chang'e-5 Bawa Sampel dari Bulan
Perbesar
Foto simulasi berikut menunjukkan wahana antariksa Chang'e-5 meluncur dari permukaan Bulan. Ini merupakan wahana antariksa pertama milik China yang lepas landas dari objek luar angkasa. (Xinhua/CNSA)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah dan Badan Antariksa Jepang akan berkolaborasi dengan perusahaan teknologi dan makanan untuk meluncurkan riset tentang cara memproduksi makanan berkelanjutan di bulan. Menurut sumber yang sangat dekat dengan rencana tersebut, hal itu dilakukan untuk mendorong sektor swasta agar tertarik menggeluti bisnis luar angkasa.

Dilansir dari laman Japan Today, Kamis, 12 Agustus 2021, studi kerja sama perusahaan pemerintah dan swasta itu kemungkinan akan dimulai pada Maret 2022. Kabarnya, proyek tersebut akan dipimpin oleh Space Foodsphere.

Grup peneliti makanan luar angkasa yang berbasis di Tokyo ini membawahi perusahaan seperti Badan Penjelajahan Antariksa Jepang, perusahaan bumbu masak Ajinomoto Co, dan perusahaan jasa dan konsultasi teknologi NTT Data Corp. Perusahaan rintisan seperti Euglena Co juga termasuk dalam partisipan proyek yang akan didanai oleh pemerintah tersebut.

Tujuan utama dari riset itu adalah agar bisa memenuhi permintaan suplai makanan di bulan untuk misi dalam waktu lama dan melibatkan banyak kru. Dengan sistem yang ada saat ini, mengirimkan makanan secara berkala dari Bumi bukanlah hal praktis.

Dalam beberapa tahun ke depan, perjalanan ke luar angkasa, terutama ke bulan, diprediksi akan semakin meningkat. Hal itu sudah dilakukan oleh China, Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara lainnya. Jepang juga terlibat dalam program Artemis dari NASA (Badan Antariksa AS).

Program tersebut fokus pada membangun keberadaan yang berkelanjutan di Bulan, meletakkan dasar bagi perusahaan swasta untuk membangun ekonomi bulan. Proyek kerja sama pemerintah dan swasta Jepang itu akan memulai riset di berbagai fasilitas di dalam negeri lebih dulu. Setelah itu, mereka kemungkinan akan pindah ke lokasi yang dianggap lebih mendekati situasi di bulan, seperti Antartika.

Riset mereka diharapkan bisa mengembangkan teknologi untuk bisa mengoperasikan produksi tanaman serta usaha pertanian dalam ruangan di bulan. Kesulitan utamanya adalah temperatur di bulan yang sangat dingin, yaitu sekitar minus 100 derajat Celcius dan nyaris tak ada air maupun udara yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Perjalanan ke Luar Angkasa

Melihat Makanan Para Astronot NASA di Luar Angkasa
Perbesar
Makanan yang dikonsumsi oleh para astronot disajikan dengan memperhatikan standar gizi khusus dan dikemas lebih awet. (Foto: Amusing Planet)

Kalau teknologi tersebut bisa dikembangkan, penerapannya tak hanya di bulan, tapi juga bisa dilakukan untuk mengatasi masalah pertanian di bumi seperti degradasi lahan dan perubahan iklim. Mereka juga akan mempelajari bagaimana menjaga kesehatan mental serta kondisi fisik manusia saat harus terisolasi di luar angkasa untuk waktu lama.

Sebelumnya, pihak swasta sudah berhasil bepergian ke luar angkasa. Salah satunya adalah Jeff Bezos.  Pendiri dan mantan CEO Amazon Jeff Bezos berhasil berwisata singkat ke ruang angkasa. Bersama dengan tiga kru lain, Bezos sukses menembus ruang angkasa dengan roket Blue Origin buatan perusahaan miliknya sendiri, dan kembali ke Bumi dengan selamat.

Pengusaha Jepang Yusaku Maezawa juga berencana pergi ke bulan. Ia akan terbang bersama badan perjalanan luar angkasa swasta pertama di dunia yaitu perusahaan SpaceX dari AS pada 2023 mendatang.

Industri perjalanan luar angkasa global diperkirakan akan melonjak drastis. sepertinya sangat menarik perhatian pemerintah Jepang. Menurut laporan Morgan Stanley, dari pendapatan sekitar 350 juta dolar AS atau setara Rp5 triliun di tahun ini akan menjadi lebih dari 1 triliun dolar AS atau setara Rp14,5 kuadriliun pada 2040.


Makanan Astronaut

Blue Origin
Perbesar
Teman perjalanan Jeff Bezos dalam penerbangan ke luar angkasa. (Kredit: Blue Origin)

Saat ini, para astronaut yang terbang ke laur angkasa, memakan banyak hidangan yang serupa di bumi. Meski makanan masih perlu didehidrasi atau disiapkan dengan cara khusus, pesawat ulang-alik masa kini memiliki dapur lengkap dengan air panas dan oven.

Astronaut juga dapat menggunakan bumbu, seperti saus tomat, mustard, dan mayones, dalam paket khusus untuk menambah rasa. Minuman juga didehidrasi dan disimpan dalam bentuk bubuk di kantong khusus dilengkapi sedotan atau nosel khusus, yang memungkinkan para astronaut meneguknya langsung, karena gravitasi membuat minum dari gelas adalah ide yang buruk.

Untuk memastikan makanan mereka tidak mengapung, para astronaut menempelkan wadah makanan dan peralatan mereka ke nampan khusus dengan pengencang Velcro. Baki juga dipasang di pangkuan mereka, sehingga mereka bisa menikmati makanan sambil duduk.


Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja

Infografis Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya