Bagaimana Pandemi Covid-19 Memengaruhi Gaya Kencan Saat Ini?

Oleh Dinny Mutiah pada 04 Agu 2021, 10:01 WIB
Diperbarui 04 Agu 2021, 10:01 WIB
Cara Kenali Jebakan Predator Seks di Aplikasi Kencan Daring
Perbesar
Ilustrasi kencan online. (dok. Unsplash/ Yogas Design)

Liputan6.com, Jakarta - Sebelum pandemi, berkencan mungkin tidak terlalu menyulitkan. Kehadiran aplikasi kencan telah mempermudah banyak orang berkenalan dengan orang baru untuk berjanji bertemu di lain kesempatan. Namun, situasi pandemi Covid-19 mengubah pendekatan sebagian orang tentang cara berkencan sekarang.

Jennifer Sherlock, seorang konsultan PR di New Jersey, mengakui berkencan saat ini menjadi sesuatu yang aneh. Tidak hanya karena harus bermasker, menjaga jarak, dan bertemu di ruang terbuka, tetapi juga saat ia diundang ke tempat tinggal teman kencannya. Pasalnya, ia merasa tak wajar bila membuka masker di rumah orang yang baru dikenalnya.

"Jadi, apakah kita tidak aman berada di luar tanpa masker, tetapi akan aman di tempatnya tanpa masker?" ujarnya, dilansir ABCNews, Selasa, 3 Agustus 2021.

Berangkat dari pengalaman itu, ia mulai menyeleksi orang-orang. Ia memilih melakukan kontak video sebelum setuju bertemu langsung dengan siapa pun. Ia berpikir akan terus melakukannya setelah pandemi berakhir.

Sherlock tidak sendirian. Pandemi banyak mengubah cara orang menggunakan aplikasi kencan dan berujung munculnya beragam fitur baru. Tinder, contohnya, yang meluncurkan cara baru pada bulan lalu untuk memfasilitasi penggunanya mengenal orang lain lebih baik via daring.

Pengguna kini bisa menambah video di profil mereka dan dapat berkomunikasi dengan pengguna lain sebelum memutuskan matching dengan mereka. "Awalnya, konsumen enggan terhubung via video karena mereka tidak merasa membutuhkannya," kata Jess Carbino, ahli kencan profesional dan sosiolog yang bekerja untuk Tinder dan Bumble.

Namun, situasi berbeda saat pandemi. Orang-orang mulai mengharapkan tingkat seleksi yang lebih tinggi. "Aplikasi kencan seperti Tinder melihat ke arah itu," ucapnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hubungan yang Dalam

Tantan
Perbesar
Ilustrasi aplikasi kencan. Dok: Tantan

Carbino mengatakan, pengguna aplikasi kini juga cenderung mencari hubungan yang lebih dalam, tidak lagi sekadar senang-senang. Seperti yang terjadi pada Maria del Mar, seorang insinyur luar angkasa, yang tak menyangka bisa menemukan pasangan setelah cocok dengan seseorang di awal pandemi tahun lalu.

Ia mulai ngobrol dengan pria yang jadi kekasihnya kini via aplikasi pada April 2020 saat lockdown diterapkan penuh di Spanyol. Lantaran bosan saat kembali ke rumah orangtuanya di Leon, ia memutuskan menggunakan aplikasi tersebut. Keputusannya ini membuka jalan menemukan pasangan.

Setelah berminggu-minggu ngobrol virtual, mereka akhirnya berkencan fisik dengan menjaga jarak, setelah pembatasan dilonggarkan pada Mei 2020. Kini, keduanya memutuskan tinggal bersama. "Bila tidak karena aplikasi (kencan), mungkin kami tidak akan pernah bertemu," ujarnya.

Tinder, dan aplikasi kencan lainnya, seperti Hinge, OkCupid, dan Bumble, bermitra dengan pemerintah Inggris dan AS untuk menambahkan pin khusus bagi pengguna yang telah divaksinasi. Meski begitu, tidak ada proses verifikasi di dalamnya sehingga orang yang memasang bisa jadi berbohong.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menghemat Waktu

Penipuan
Perbesar
Ilustrasi Penipuan Aplikasi Kencan Online Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Sementara, Sherlock memprediksi perilaku kencannya di masa pandemi akan tetap terbawa setelah pandemi usai. Ia baru-baru ini memutuskan melakukan kontak video sebelum bertemu secara langsung, sesuatu yang tidak akan dilakukannya sebelum pandemi.

"Dunia kencan di luar sana gila, jadi menghemat waktu itu sangat penting," ucapnya.

Hampir separuh pengguna Tinder juga menggunakan fitur video chat dengan 'match'-nya selama pandemi. Sebanyak 40 persen di antaranya berencana melanjutkannya setelah pandemi.

Tinder juga mengungkap, kebanyakan pengguna saat ini didominasi Gen Z yang merupakan remaja akhir dan usia 20an awal. Lalu, mayoritas penggunanya di Inggris, yakni 69 persen, juga menyatakan akan melanjutkan kencan virtual setelah pandemi.

Hal ini jadi bukti bahwa orang-orang tetap ingin terhubung dengan dunia luar meski mereka terisolasi. Tinder melaporkan bahwa 2020 merupakan tahun tersibuk. Tetapi tahun ini, penggunaannya sudah menciptakan dua rekor per Januari--Maret. Pendapatan pun meningkat tiga kali lipat dari 2019--2020, dan perusahaan menargetkan angkanya meningkat dua kali lipat dari angka itu di tahun ini.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

11 Aplikasi untuk Konsultasi Online

Infografis 11 Aplikasi untuk Konsultasi Online dan Obat Gratis Pasien Isolasi Mandiri Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 11 Aplikasi untuk Konsultasi Online dan Obat Gratis Pasien Isolasi Mandiri Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya