6 Fakta Menarik Kabupaten Berau yang Pernah Jadi Wilayah Kekuasaan Kesultanan

Oleh Liputan6.com pada 29 Jul 2021, 09:02 WIB
Diperbarui 29 Jul 2021, 09:23 WIB
6 Fakta Menarik Kabupaten Berau yang Pernah Jadi Wilayah Kekuasaan Kesultanan
Perbesar
Istana Kesultanan Gunung Tabur, pecahan dari Kesultanan Berau. (dok. kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Berau merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yang beribu kota di Tanjung Redeb. Luas wilayahnya mencapai 36.962,37 kilometer persegi yang terbagi menjadi 13 kecamatan.

Tidak hanya berada di daratan Pulau Kalimantan, Kabupaten Berau total terdiri dari 52 pulau besar dan kecil. Populasinya per September 2020 mencapai 248.035 jiwa dengan persentase penduduk usia produktif sebanyak 70,40 persen. Hal ini menggambarkan besarnya peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Kabupaten Berau memiliki banyak daerah pesisir sehingga perkebunan kelapa tumbuh subur di sini. Tidak heran bila komoditas itu menjadi yang terbesar di sana.

Masih banyak hal menarik lainnya yang jarang orang ketahui tentang Berau. Berikut ini enam fakta menarik dari Kabupaten Berau yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Asal-mula Kabupaten Berau

Kesultanan Berau didirikan pada abad ke-14 dengan raja pertama bernama Baddit Dipattung. Raja tersebut bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma yang didampingi oleh istrinya Baddit Kurindan yang bergelar Aji Permaisuri.

Pusat pemerintahahan Kesultanan Berau berada di Sungai Lati. Raja Aji Raden Surya Nata Kesuma memerintah dari 1400 hingga 1432. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh anak cucunya secara turun temurun hingga abad ke-17.

Kondisi kesultanan baru goyah ketika VOC masuk ke wilayah itu pada abad 18. Kamar dagang Belanda di Indonesia menggunakan taktik devide et impera alias politik adu domba yang mengakibatkan Kesultanan Berau terbelah dua menjadi Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

Pada saat bersamaan, masuk pula ajaran agama Islam ke Berau yang dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Sukan. Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung adalah Raja Alam yang bergelar Alimuddin (1800 – 1852), sedangkan Kesultanan Gunung Tabur memiliki sultan pertama bernama Sultan Muhammad Zainal Abidin (1800 – 1833). Wilayah Ksultanan Gunung Tabur kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Berau.

2. Suku Punan

Suku Punan dapat dikatakan sebagai suku asli penduduk Kalimantan Timur. Istilah “Punan” merupakan sebutan bagi kelompok masyarakat pemburu yang hidupnya berpindah-pindah di hutan Kalimantan Timur, termasuk yang berada di Berau.

Sesuai maknanya, hutan di daerah Kalimantan menjadi tempat tinggal utama mereka. Mereka menggantungkan hidupnya pada sumber daya hutan seperti kayu, makanan obat-obatan, hingga rumah. Namun, karena deforestasi yang masif, tempat tinggal Suku Punan menyusut.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3. Upacara Adat Bebanir Bangun

Kampung Merabu
Perbesar
Untuk menghindari terjangkit Covid-19, warga Kampung Merabu, Kabupaten Berau mengungsi ke pondok-pondok yang berada di sekitar kebun mereka. (foto: istimewa)

Upacara Adat Bebanir Bangun merupakan tradisi khas Suku Benua yang ada di Berau. Acara dua tahunan itu digelar penduduk setempat untuk mempererat tali silaturahmi, khususnya dengan desa-desa tetangga. Dalam acara yang biasanya berlangsung kurang lebih tiga hari itu, mereka menggelar atraksi budaya dan olahraga dengan kawasan didekorasi sedemikian rupa.

Dari sederet atraksi budaya yang ada, ritual Bagawai Uwat lah yang terpopuler. Arti nama tradisi itu membuat obat, tetapi yang dilakukan warga adalah membuat perahu kuning kecil dan menaruh beberapa makanan kecil di atasnya, antara lain pisang, nasi, telur, dan ketan. Mereka lalu melarung perahu itu ke Sungai Bangun dan berharap membawa keselamatan bagi semua penduduk desa.

Saat ritual dimulai, seorang tetua akan memimpin prosesi dan mengumpulkan lebih banyak orang di salah satu rumah setempat. Mereka bekerja sama membuat perahu dan menaruh makanan ringan di atasnya. Tetua itu dirasuki arwah selama proses ritual berlangsung, tanpa diketahui alasannya.

4. Seni Kerajinan

Kabupaten Berau memiliki seni kerajinan tenun. Salah satu sentra penenun berada di Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau. Selain motifnya yang terinspirasi dari alam Berau, perajin juga menggunakan pewarna alami, seperti daun jambu, kullit kayu jati, dan jahe. Produksi tenun itu harus melewati 18 tahapan, dari awal sampai bisa dijual.

Selain tenun, Berau juga memiliki kerajinan rotan yang sebagian besar diproduksi oleh masyarakat Suku Dayak. Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, merupakan salah satu kampung di Kabupaten Berau yang memiliki potensi sumber daya rotan yang cukup besar yang tersebar di 135,61 kilometer persegi luas daratan.

Produk kerajinan rotan KUB Keraajinan Rotan Teluk Sumbang diproduksi oleh perempuan masyarakat Dayak Basap. Meskipun terlihat sama dengan produk kerajinan rotan lainnya, produk kerajinan rotan dari Teluk Sumbang ini memiliki kekhasan dan bentuk anyaman beraneka ragam. Keunggulan produk kerajinan Teluk Sumbang dengan kerajinan lainnya yang paling mencolok adalah ketahanan produk.

Berau pun memiliki kerajinan batik yang bernama batik cawul dengan motif busak kangkung. Ada pula batik rutun yang berasal dari tumbuhan paku-pakuan yang muncul pada zaman dahulu.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5. Objek Wisata Laut

Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur
Perbesar
Kepulauan Derawan, Gorontalo. (dok. Instagram @hvtrip/https://www.instagram.com/p/B2rDOAMgwuI//Adhita Diansyavira)

Kabupaten Berau dikenal dengan objek wisata alam bawah laut yang indah, khususnya Pulau Derawan dan Pulau Sangalaki. Kedua pulau ini memiliki taman laut yang menawan. Menurut para ahli, keindahan taman laut dan biota laut yang ada di Kepulauan Derawan menduduki peringkat ketiga di dunia, seperti dikutip dari buku Informasi Pariwisata Nusantara milik Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (sekarang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif).

Pulau Maratua yang juga menjadi objek wisata unggulan. Pulau yang terletak di bagian luar Kalimantan Timur serta berbatasan dengan Filipina Selatan dan Malaysia Timur memiliki daya tarik wisata bahari dengan mengusung keindahan pantai, biota laut seperti berbagai jenis ikan dan penyu serta keindahan bawah laut.

Pulau Maratua dihiasi dengan pantai pasir putih, ikan baracuda, dan penyu sisik hijau. Selain itu, di perairan sekitar pulau terhampar pemandangan pulau karang laut serta berbagai jenis ikan hias. Di antaranya terdapat ikan duyung, kepiting kenari, dan mutiara alam. Objek wisata bawah laut ini tidak hanya dinimati oleh turis lokal tetapi juga turis mancanegara.

5. Danau Labuan Cermin

Danau Labuan Cermin menjadi salah satu objek wisata unik di kawasan Kecamatan Biduk-biduk, Kabupaten Berau. Air yang berada di danau ini sangat jernih sehingga dasarnya bisa nampak dari daratan.

Sebutan Labuan Cermin dikarenakan di tempat itu memiliki lapisan yang mana dapat memantulkan cahaya matahari. Pantulan tersebut dikarenakan air yang berada pada atas danau merupakan air asin sedangkan pada bagian dasar terasa tawar.

Seringkali, masyarakat juga menyebutnya Danau Dua Rasa. Danau ini memiliki kedalaman 4 hingga 5 meter saja dengan luas sekitar dua hektare. (Gabriella Ajeng Larasati)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Wisata Ramah Lingkungan

Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Perbesar
Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya