Layanan Toko Serba Ada di India yang Bantu Pasangan Kawin Lari

Oleh Asnida Riani pada 27 Jul 2021, 03:03 WIB
Diperbarui 27 Jul 2021, 03:03 WIB
Ilustrasi Pernikahan India
Perbesar
Ilustrasi pernikahan India. (dok. Pixabay.com/rajeshkoiri007)

Liputan6.com, Jakarta - "Toko serba ada" penyedia layanan semi-hukum bagi pasangan kawin lari di India tengah booming. Dalam layanannya, mereka tercatat menyediakan pengacara, agen, dan pendeta, lapor SCMP, Senin, 26 Juli 2021.

Rohit dan Neha, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu pasangan yang memanfaatkan jasa tersebut. Tidak mengantongi restu dari keluarga Neha membuat mereka nekat menikah dalam kondisi tidak biasa.

"Kami kawin lari ke Meerut dan menikah melalui agen yang mengorganisir seorang pengacara dan pendeta seharga sekitar 250 dolar Amerika Serikat (AS) (Rp3,6 juta). Kami berharap memiliki kehidupan lebih baik bersama setelah pengadilan memberi kami surat-surat yang relevan," kata Neha.

Layanan ini dideskripsikan "sangat sibuk" di negara bagian Uttar Pradesh, Punjab, dan Haryana di bagian utara India. Kehidupan sosial masyarakat di wilayah itu didominasi kasta dan komunitas. Menikah karena cinta dapat dianggap sebagai pemberontakan.

Ini mengarah pada keterasingan, bahkan "pembunuhan demi kehormatan" dalam beberapa kasus jika ketidaksetujuan keluarga berubah jadi kekerasan. Pratiksha Parikh, pengacara hak-hak sipil yang berbasis di Delhi, telah mewakili banyak pasangan yang menentang norma-norma masyarakat untuk menikah. 

Ia membantu pasangan mendapatkan akta nikah yang membuat ikatan mereka sah. Prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan tanpa fasilitator seperti Parikh dan sertifikat tersebut diwajibkan hukum sebelum pasangan dapat hidup bersama secara sah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tudingan Tumbuhnya Intoleransi

Ilustrasi Pernikahan India
Perbesar
Ilustrasi pernikahan India. (dok. Pixabay.com/Free-Photos)

Menurut Parikh, "pernikahan terlarang" ini jadi lebih umum di bawah pemerintahan Perdana Menteri India, Narendra Modi, karena pernikahan beda agama, terutama yang melibatkan Muslim, bertentangan dengan agenda Hindutva. Parikh menggambarkan "tumbuhnya intoleransi" yang telah menciptakan "iklim ketakutan."

"Beberapa selebritas Hindu, termasuk Kareena Kapoor Khan, telah 'dipermainkan' karena menikahi pria Muslim," katanya. "Supaya tidak menarik perhatian dan kecaman yang tidak diinginkan, banyak pasangan semakin memilih kawin lari dan melakukan pernikahan rahasia."

Tergantung jenis pernikahan, apakah antar kasta, antaragama, atau melibatkan non-penduduk India, broker menawarkan berbagai paket seharga mulai dari tujuh ribu sampai 21 ribu rupee (Rp1,4 juta--Rp4 juta). Ram Sevak, seorang agen dari Panchkula, telah menyelenggarakan pernikahan semacam itu selama lebih dari 10 tahun.

Pesanannya datang "dari mulut ke mulut," dan ia beroperasi sendiri, tanpa perusahaan, situs web, atau staf. "Kami mengadakan 70--80 pernikahan dalam sebulan dan mengelola semuanya dalam dua hari karena memiliki semua kontak yang kami butuhkan," ucapnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ada Fasilitas Rumah Persembunyian

Ilustrasi pernikahan
Perbesar
Ilustrasi pernikahan (dok.unsplash/Khadija Yousaf)

Paket paling dasar dari "toko serba ada" ini meliputi upacara di kuil lokal. Paket yang lebih mahal termasuk fotografi dan pengacara untuk membantu pasangan mendapat sertifikat pernikahan sebelum mengajukan permohonan perlindungan.

Untuk sedikit tambahan, beberapa broker menyediakan akomodasi di rumah persembunyian, tempat pengantin baru dapat bersembunyi dari kerabat sampai dokumen hukum selesai. Permintaan untuk "pernikahan rahasia" ini telah tumbuh begitu kuat sehingga banyak tempat penampungan yang dikelola pemerintah kewalahan dan terpaksa menolak pasangan.

Meski beberapa pengadilan tinggi telah mempertanyakan keabsahan akta nikah yang dikeluarkan untuk pasangan kawin lari, praktik ini terus berlanjut karena permintaan. Geeta Luthra, seorang advokat senior di Mahkamah Agung India, menyalahkan legalitas negara yang kompleks dan budaya patriarki yang mendorong pasangan untuk mencari bantuan dari fasilitator di "wilayah hukum abu-abu."

"Tidak mengizinkan orang dewasa menikah tidak hanya tidak demokratis, tapi juga melanggar hak asasi manusia … Pengadilan Tinggi bahkan telah memerintahkan bahwa jika polisi setempat tidak melindungi pasangan tersebut, mereka akan dianggap terlibat dalam pelecehan. Tapi, jelas tidak banyak yang berubah," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Bedanya Kartu Nikah dengan Buku Nikah

Infografis Bedanya Kartu Nikah dengan Buku Nikah
Perbesar
Infografis Bedanya Kartu Nikah dengan Buku Nikah. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya