Menyiasati Ruang Bermain Anak yang Terbatas Selama Pandemi COVID-19

Oleh Asnida Riani pada 23 Jul 2021, 14:03 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 14:03 WIB
Balok Penyusun
Perbesar
Ilustrasi Anak Bermain Credit: pexels.com/cottonbro

Liputan6.com, Jakarta - Tidak berbeda dari orang dewasa, anak-anak juga menghadapi situasi sama menantangnya selama pandemi COVID-19. Keterbatasan moblitas di tengah upaya penanganan COVID-19 salah satunya berdampak pada ruang bermain buah hati. 

Ketua umum PP HIMPAUDI, Bundo Netti Herawati, mengatakan, sebagai langkah awal, perlu pemahaman yang benar tentang bermain. "Anak belajar melalui bermain. Tanpa permainan yang tepat, pelajarannya bisa saja tidak dipahami," katanya dalam program INSPIRATO Hari Anak Nasional 2021, Kamis, 22 Juli 2021.

Bundo Netti menyambung, bermain merupakan kegiatan positif yang dilakukan anak atas inisiatif sendiri. "Hakikatnya, anak-anak bisa bermain di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja," imbuhnya.

Syaratnya, orangtua bisa menyiapkan dua lingkungan, yakni fisik dan non-fisik. Secara fisik, harus tersedia sarana dan alat bermainnya. Kemudian, non-fisik, yakni bagaimana orangtua menciptakan kondisi yang memungkinkan anak bisa bermain tidak di bawah tekanan.

"Kalau anak mengikuti mau orangtua saat bermain, berarti anak bekerja, bukan bermain. Di sini orangtua harus menghargai pilihan anak. Jangan serba enggak boleh saat mereka sedang bermain," tuturnya.

Ketika lingkungan fisik dan non-fisik ruang bermain anak tidak kondusif, perkembangan sel otak tidak akan maksimal, sambung Bundo Hetti. "Jumlah sel otak anak saat dewasa bisa selisih 50 persen dari saat mereka berusia 0--6 tahun. Hilangnya ke mana? Itu merupakan sel otak yang tidak terstimulasi," paparnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3 Masalah Anak Selama Pandemi

karakter zodiak
Perbesar
ilustrasi ibu dan anak bahagia/Photo by cottonbro from Pexels

Life coach, Rani Moran menyebut tiga masalah utama pada anak yang teridentifikasi selama pandemi global. Pertama, anak merasa kesepian karena tidak ada komunikasi dengan teman sebaya.

"Kemudian, ada juga stres keluarga yang mungkin terjadi karena ketidakstabilan keuangan. Itu akhirnya berdampak secara psikologi pada anak. Ketiga, anak lebih sensitif, mereka mudah marah. Ini juga hasil tekanan di rumah," urainya.

Di samping, Rani mengatakan, ada juga rasa cemas anak yang takut tertular virus. Juga, rasa takut kehilangan orang yang mereka sayangi, dan ini melanda terutama anak yang orangtuanya merupakan pekerja medis.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Orangtua Berperan Vital

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi ibu dan anak. (dok. pexels/Ketut Subiyanto)

Karenanya, orangtua atau orang dewasa lain yang sehari-hari berada dekat anak punya peran vital di masa seperti sekarang. "Pertama, bagaimana menciptakan rasa aman dan stabilitas di rumah untuk mendukung kesehatan mental anak," katanya.

"Kemudian, membantu anak merasa aman, menjaga rutinitas sehat, juga mengelola emosi dan perilaku," imbuhnya. Yang paling penting, kata Rani, harus membentuk ekosistem komunikasi terbuka antara orangtua dan anak.

"Jangan overprotective, nanti anak bisa stres. Lalu, hati-hati menjalankan pola asuh. Dialognya harus konstruktif dan berusaha menghadirkan kegembiraan di rumah," ucapnya, menambahkan bahwa penting bagi orangtua untuk lebih sering mendengarkan anak.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Waspada Anak Tertular COVID-1

INFOGRAFIS: Waspada Anak Tertular COVID-19 (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
INFOGRAFIS: Waspada Anak Tertular COVID-19 (Liputan6.com / Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya