Strategi Pengusaha Makanan Malaysia untuk Bertahan di Tengah Lockdown COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 21 Jul 2021, 06:30 WIB
Diperbarui 21 Jul 2021, 06:30 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi restoran. (dok. pexels.com/@davideibiza)

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 telah membuat banyak sektor bisnis berhadapan dengan situasi yang belum pernah ada sebelumnya, seperti lockdown. Mau tidak mau, adaptasi harus dilakukan demi tetap memastikan pesanan di tengah berbagai keterbatasan.

Sejumlah restoran di Malaysia, misalnya. Melansir South China Morning Post, Selasa 20 Juli 2021, restoran di Negeri Jiran mengandalkan bantuan dari pemerintah dan memanfaatkan teknologi, salah satunya beralih ke aplikasi pengiriman makanan, untuk bertahan di tengah pandemi global.

Salah satunya adalah restoran bernama Crackhouse Comedy Club. Berlokasi di kawasan kelas atas Taman Tun Dr Ismail di Kuala Lumpur, restoran itu terpaksa tidak menerima pengujung makan di tempat.

Rizal Van Geyzel, pemilik restoran, menjelaskan bahwa, semula, untuk bertahan dalam kondisi tersebut selama berbulan-bulan, mereka mengandalkan bantuan dari pemerintah. Namun, itu tidak jadi satu-satunya opsi.

"Kami punya dua pilihan. Beralih ke ranah digital, seperti yang dilakukan banyak orang, atau masuk ke bisnis makanan," kata Van Geyzel.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:


Beralih ke Bisnis Makanan

Solusi Tambahan Pemasukan bagi Pemilik Restoran yang Sepi Pengunjung
Perbesar
Ilustrasi dapur restoran. (Dok. Louis Hansel/Unsplash)

Di masa seperti sekarang, Van Geyzel menganggap lebih mungkin beralih ke bisnis makanan. Pasalnya, bahkan setelah pandemi berakhir, bisnis makanan akan tetap bertahan jika dikelolah dengan benar. Maka itu, ia berinovasi pada pengiriman makanan.

Dengan dominasi makanan Eropa, yakni pizza, ia menambahkan klip lelucon "satu menit gratis oleh headliners masa lalu" dengan setiap pesanan. Hasilnya, ada lonjakan permintaan dari para pembeli.

Van Geyzel menyebut, ada peningkatan hingga 60 persen peminat untuk makanan dibanding dengan penjualan tiket pertunjukan saat lockdown.

Inovasi bisnis pengirim pizza penuh waktu tak masuk akal secara finansial. Meski begitu, Crackhouse Comedy Club setidaknya dapat membayar tagihan untuk saat ini.

"Tak masalah berapa lama waktu yang dibutuhkan industri untuk pulih. Saat ini, kami hanya akan terus melakukan pengiriman karena setidaknya bisa membantu kami membayar listrik, air, dan menjaga oven tetap menyala,” kata Van Geyzel.

 


Restoran Lainnya

Pergelangan Tangan Cidera Akibat Memasak, Chef Irlandia Tuntut Restoran Tempat Kerjanya
Perbesar
Ilustrasi restoran. (dok. unsplash/Novi Thedora)

Sementara itu, bisnis makanan Ricotta yang berlokasi di pinggiran Damansara Heights Kuala Lumpur punya pelanggan berbeda. Pemilik restoran, Ivan Chong Han, menjelaskan bahwa bisnisnya tidak seperti beberapa restoran yang memiliki aliran pendapatan tetap.

Ketika lockdown, ia tidak punya pilihan selain merumahkan staf dan menjalankan seluruh operasi sendirian. Kemudian, ia memiliki masalah awal, yakni mencari kemasan untuk melindungi keju buatan yang lembut.

"Untuk mengatasinya, saya memasukkan 30 persen komisi pengiriman yang diambil penyedia layanan e-hailing Grab per pengiriman," kata Chong Han.

Pinjaman pemerintah pun telah membantu usahanya. Saat ini, usahanya beroperasi dengan model kemitraan masyarakat, dan berharap ke depan akan lebih baik. (Muhammad Thoifur)


Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari COVID-19

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya