Taksu Ubud, Ekspresi Seniman dalam Menyampaikan Perasaan pada Alam dan Pencipta

Oleh Liputan6.com pada 05 Jul 2021, 19:27 WIB
Diperbarui 05 Jul 2021, 19:27 WIB
Taksu Ubud
Perbesar
Taksu Ubud (dok.YouTube/Titimangsa Foundation)

Liputan6.com, Jakarta - Happy Salma dari Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia menginisiasi pementasan bertajuk 'Taksu Ubud'. Pementasan tersebut sebagai ekspresi seniman Ubud dalam menyampaikan perasaannya pada alam dan pencipta.

Acara tersebut didasari tak ada lagi pertunjukan seni budaya yang menjadi daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri. Padahal, seni, adat, dan tradisi Bali bukan hanya menjelma menjadi data tarik wisata, tapi juga pada awalnya adalah sarana bagi para pelakunya untuk berhubungan dengan semesta.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Hilmar Farid menjelaskan dengan melakukan kesenian, masyarakat Ubud berhubungan dengan Tuhannya dan membina hubungan baik juga dengans sesama manusia.

Adat dan tradisi masyarakat Ubud ini yang juga menarik wisatawan lokal dan dunia untuk datang ke Ubud dan melihat serta merasakan taksu-nya Ubud.

"Berkesenian bagi masyarakat Bali, khususnya Ubud, bukan hanya menjadi kerja kebudayaan, tetapi juga berlaku sebagai ibadah kepada Tuhan-nya, sebuah identitas diri dan masyarakat serta pengejawantahan dari taksu--jiwa--masyarakat Ubud itu sendiri," ungkap Hilmar dalam rilis yang diterima Liputan6.com.

‘Taksu Ubud’ adalah sebuah pertunjukan seni drama, tari, dan musik yang menampilkan Ubud sebagai bagianp entingdari wajah Bali. Melalui kisah yang sederhana, ‘Taksu Ubud’ merupakan buah dari keinginan untuk menyatukan sebagian kecil keindahan seni Ubud.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kisah Pemuda Ubud

Taksu Ubud
Perbesar
Taksu Ubud (dok.YouTube/Titimangsa Foundation)

Pertunjukan ini adalah sebuah inisiatif kecil untuk mengadakankembali ruang bagi sebagian pelaku seni Ubud untuk membangun kembali suasana Ubud yang sarat akan adat dan tradisi Bali. Ubud sebagai benteng pertahanan dalam pelaksanaan adat dan tradisi leluhur masyarakat Bali.

Hampir seluruh masyarakat Ubud hidup dekat dengan adat dan tradisi. Pada siang hari mereka bekerja sebagai petani, pedagang, pengajar, dan lain-lain. Malam hari mereka hidup sebagai pelaku kesenian di Ubud. Pendapatan yang mereka hasilkan dari pekerjaan harian mereka, dikembalikan untuk pengembangan adat.

Taksu Ubud berkisah tentang pemuda Ubud, Umbara, yang sejak kecil tinggal jauh dari Ubud dan ibunya. Tiba-tiba sang ibu meminta Umbara untuk pulang ke Ubud dan seketika Umbara berhadapan dengan delima. Haruskah kenyamanan dan kemudahan ia peroleh selama di perantauan ia tinggalkan demi ibu dan Ubud, sebuah tempat leluhur yang asng baginya?

Taksu Ubud menampilkan tarian, tetabuh, dan mekidung yang melibatkan banyak kelompok penari dan penabuh, seperti Gamelan Yuganada, Yayasan Bumi Bajra Sandhi, Kertha Art Performance, Sanggar Cudamani, Ubud Performing Art, Napak Tuju, Swaradanta, dan Yayasan Janahirta Mandala Ubud, dan lain-lain. Taksu Ubud menghadirkan aktor-aktor Indonesia, yaitu Reza Rahadian dan Christine Hakim.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Energi Kerja Kolaborasi

Taksu Ubud
Perbesar
Taksu Ubud (dok.YouTube/Titimangsa Foundation)

Happy Salma yang bertindak sebagai produser pementasan menjelaskan bahwa Taksu Ubud terinspirasi dari alam, gerak, tutur, dan rasa ikhlas yang tidak berputus asa dari teman-teman di Bali, khususnya Ubud yang memang dekat di hatinya secara pribadi. Kesenian di Bali selalu menjadi jendela keindahan Indonesia.

Pada masa sekarang ini rasanya penting memberi ruang untuk para pelakunya mengekspresikan perasaannya. Upaya kecil tapi penting untuk dilakukan.

"Poin utama dalam proses ini adalah menyatukan energi kerja kolaborasi. Rasa yang menurut saya perlu dimiliki dalam situasi serba sulit seperti sekarang ini. Menyatukan perasaan kebersamaan dengan penuh tanggung jawab dan menghadirkan energi optimisme dan rasa saling mendukung untuk sebua kreatif yang dalatangnya dari hati karena bakti dan kecintaan pada seni, adat, dan tradisi," jelas Happy.

Pentas ‘Taksu Ubud’ telah direkam beberapa waktu lalu bertempat di Arma Museum, Ubud sebagai tuan rumah. Masyarakat dapat menikmati pementasan ‘Taksu Ubud’ secara daring yang ditayangkan perdana pada Selasa, 6 Juli 2021 pukul 19.00 WIB di kanal Youtube Budaya Saya. ‘Taksu Ubud’ dapat disaksikan secara bebas selama satu minggu hingga 12 Juli 2021.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis PPKM Darurat Jawa Bali 3-20 Juli 2021

Infografis PPKM Darurat Jawa Bali 3-20 Juli 2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis PPKM Darurat Jawa Bali 3-20 Juli 2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya