6 Fakta Menarik Probolinggo, dari Bromo hingga Patung Kuda Terbesar Kedua di Dunia

Oleh Liputan6.com pada 23 Jun 2021, 08:31 WIB
Diperbarui 04 Jul 2021, 10:22 WIB
Gunung Bromo Masih Jadi Destinasi Primadona bagi Wisatawan
Perbesar
Seorang wisatawan mengambil gambar Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (8/7). Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara dan 375 juta pergerakan wisatawan Nusantara pada 2020. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Liputan6.com, Jakarta Probolinggo merupakan daerah di Provinsi Jawa Timur yang terletak sekitar 100 km sebelah tenggara Surabaya, berbatasan dengan Selat Madura. Berdasarkan jumlah penduduk, Kota Probolinggo merupakan kota terbesar keempat di Jawa Timur setelah Surabaya, Malang, dan Kediri.

Pada 2018, jumlah penduduk kota ini sebanyak 235.0211 jiwa. Kota ini terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur dan menjadi jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali.

Sejak digulirkannya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, perkembangan di Probolinggo semakin cepat dan pesat. Probolinggo telah mampu berdiri sebagai Kota Madya dengan Ibu Kota Probolinggo, sedangkan Kabupaten Probolinggo yang semula ikon ibu kotanya adalah Probolinggo, kini harus bergeser dengan membentuk ibu kota sendiri yakni Kraksaan sebagai ibu kota kabupatennya.

Kabupaten Probolinggo dikelilingi pegunungan Tengger, Gunung Semeru, dan Gunung Argopuro. Selain itu, masih banyak hal-hal menarik lainnya tentang Probolinggo. Berikut enam fakta menarik seputar Probolinggo yang dilansir dari beragam sumber.

1. Asal-usul Nama Probolinggo

Pada zaman Pemerintahan Hayam Wuruk, raja Majapahit IV (1350-1389), Probolinggo dikenal dengan nama “Banger”, nama sungai yang mengalir di tengah daerah Banger ini. Nama Banger dikenal dari buku Negarakertagama yang ditulis Empu Prapanca.

Pada 1743 seluruh daerah Banger berada dalam penguasaan VOC, untuk memimpin pemerintahan di Banger. Pada  1746 VOC mengangkat Kyai Djojolelono sebagai Bupati Pertama di Banger. Namun, pada 1768 Kyai Djojolelono menyadari politik adu domba VOC kemudian menyingkir, meninggalkan istana dan jabatannya sebagai Bupati Banger dan memilih untuk mengembara.

Sebagai pengganti, kompeni kemudian mengangkat Raden Tumenggung Djojonegoro sebagai Bupati Banger II. Nama Banger kemudian diubah oleh Tumenggung Djojonegoro pada 1770 menjadi “Probolinggo”.

Dalam bahasa Sanskerta “Probo” berarti sinar, sedangkan “Linggo” berarti tugu, badan, tanda peringatan atau juga tongkat. Dengan demikian, Probolinggo berarti sinar yang berbentuk tugu, gada atau tongkat. Nama tersebut kemungkinan merujuk pada penggambaran cerita kuno, yaitu jatuhnya sebuah benda bercahaya atau meteor. Tempat jatuhnya benda tersebut oleh raja-raja dahulu dipilih sebagai tempat untuk mendapatkan perdamaian dan mengakhiri perselisihan.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

2. Gunung Bromo

Bromo
Perbesar
Wisatawan berada di kawasan Gunung Bromo, Malang, Jawa Timur, (29/7). Ratusan wisatawan berbagai daerah setiap harinya memadati kawasan Bromo untuk berwisata melihat terbitnya matahari dan juga kawah Gunung Bromo. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Banyak yang mengira bahwa kawasan Gunung Bromo sepenuhnya termasuk dalam wilayah kabupaten Malang. Padahal, Gunung Bromo notabenenya masuk dalam empat wilayah kabupaten sekaligus yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur dengan ketinggian 2.329 meter di bawah permukaan laut (mdpl). Rute yang ditempuh untuk menuju puncaknya terbilang mudah dan tidak berbahaya, untuk mendakinya, wisatawan akan dimudahkan dengan adanya sekitar 250-an anak tangga. Asal nama Gunung Bromo dari Brahma, yakni salah satu dewa di agama Hindu. Dalam bahasa Tengger dieja sebagai Brama.

Di Bromo juga terdapat tradisi unik yakni upacara Yadnya Kasada, yang dilakukan rutin setiap 14 dan 15 pada bulan 10 (Kasodo) menurut penanggalan Jawa. Upacara ini merupakan wujud syukur kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu) dengan mengorbankan sebagian hasil sawah, ladang, dan ternak masyarakat sekitar dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3.Suku Tengger

Perayaan Waisak Suku Tengger
Perbesar
Sejumlah warga Suku Tengger, yang memeluk Buddha Jawa Sanyata, menghadiri upacara perayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2565 di Vihara Paramitta, Desa Ngadas, Poncokusumo, Malang, Jawa Timur, pada Rabu (26/5/2021) malam waktu setempat. (merdeka.com/Nanda F. Ibrahim)

Suku Tengger adalah suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo yang biasa dipanggil dengan Orang Tengger. Nama Tengger diambil dari nama tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhurnya, yakni Teng dari akhiran nama Roro Anteng dan Ger dari akhiran nama Joko Seger.

Masyarakat Suku Tengger percaya bahwa suku tersebut adalah keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Suku Tengger merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit. Umumnya, masyarakat Tengger memeluk agama Hindu.

Sehari-harinya mereka,  baik laki-laki maupun perempuan memakai sarung. Selain berfungsi untuk melindungi tubuh dari udara dingin pegunungan, sarung juga dipercaya berfungsi untuk mengendalikan perilaku dan ucapan masyarakat.

4. Punya Tarian Khas

Probolinggo tarian tradisional khas bernama Tari Glipang yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat saat masa penjajahan. Tari ini memiliki gerakan yang memadukan beberapa tari antara lain gerakan pada tarian Topeng Ghetak Madura, Rudhat, Seni Hadrah, samman, dan pencak silat.

Menurut beberapa sumber, Tari Glipang diciptakan oleh seorang pemuda asal Madura bernama Seno Truno yang datang dan tinggal di Desa Pendil, Kabupaten Probolinggo.  Sebelumnya, Seno bekerja sebagai mandor di sebuah pabrik gula milik Belanda. Tetapi, karena dirinya diperlakukan sewenang-wenang oleh kolonial Belanda, Seno memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya itu.

Setelah itu, ia menciptakan sebuah tarian tradisional sebagai bentuk perlawanannya terhadap Kolonial Belanda. Tarian itulah yang kemudian diberi nama Tari Glipang. Kesenian ini lalu diturunkan dari generasi ke generasi sehingga menjadi sebuah tradisi. Sampai sekarang Tari Glipang sering dipentaskan di berbagai acara seperti resepsi, hajatan, hingga acara-acara besar lainnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5. Punya Patung Kuda Terbesar Kedua di Dunia

Patung kuda
Perbesar
Patung kuda di Probolinggo, Jawa Timur (dok.jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id/Komarudin)

Kota Probolinggo mempunyai ikon baru yaitu patung kuda Cipta Wilaha berukuran raksasa. Patung itu terletak di kawasan wisata hutan mangrove BJBR (BeeJay Bakau Resort), tepatnya di Pelabuhan PPI Provinsi Jawa Timur, di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Patung tersebut mendapat pengakuan rekor Muri sebagai patung kuda tertinggi di Indonesia bahkan Asia, dan secara global menjadi yang tertinggi nomor dua di dunia setelah Turki.

Patung ini memiliki tinggi 11,5 meter dan panjangnya 12 meter yang terinspirasi dari sosok kuda Troya pada legenda Yunani Kuno. Material yang digunakan di sekujur tubuh patung kuda ini merupakan potongan kayu pohon kelapa, dengan pondasi beton dan kerangka baja.

Pengunjung juga bisa masuk ke dalam patung raksasa ini karena di dalam patung tersebut terdapat dua lantai untuk pengunjung berfoto-foto. Lantai pertama berada pada perutnya dan lantai kedua berada pada punggungnya. Di dalamnya mampu menampung sekitar 300-400 orang pengunjung.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

6. Penghasil Mangga dan Anggur

Probolinggo Hadirkan Berbagai Olahan Jajanan Berbahan Utama Buah Mangga
Perbesar
Probolinggo Hadirkan Berbagai Olahan Jajanan Berbahan Utama Buah Mangga. (Laporan6.com/Dian Kurniawan)

Mangga Probolinggo telah dikenal banyak orang dengan rasanya yang manis dan segar. Saat musim mangga tiba pada Mei sampai Oktober, mangga Probolinggo akan membanjiri pasar hingga ke kota-kota besar.

Di Probolinggo sendiri terdapat 12 kecamatan sebagai sentra mangga. Varietas mangga yang dikembangkan seperti Arumanis, Gadung, dan Manalagi. Mangga Probolinggo terutama varietas Arumanis sangat populer dan sudah dipasarkan di dalam maupun luar negeri seperti Singapura.

Probolinggo juga terdapat buah unggulan dan khas yakni anggur. Di daerah tertentu, buah anggur bahkan tumbuh subur di pekarangan rumah penduduk. Salah satu daerah yang terkenal dengan kualitas anggur terbaiknya yakni di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo.

Kota Probolinggo juga sukses mengembangkan anggur dengan baik, khususnya jenis Prabu Bestari yang saat ini sedang dikembangkan secara besar-besaran. Prabu Bestari adalah varietas hasil pengembangan dari jenis anggur Probolinggo Super yang bentuknya sedikit lebih besar dari Probolinggo Super dan cita rasanya lebih manis. (Jihan Karina Lasena)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Skenario Tekan Covid-19 di Jawa Timur

Infografis Skenario Tekan Covid-19 di Jawa Timur
Perbesar
Infografis Skenario Tekan Covid-19 di Jawa Timur (Liputan6.com/Triyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓