Berulang tahun ke-494 dan 13 Kali Ganti Nama, Simak 6 Fakta Menarik Jakarta

Oleh Liputan6.com pada 22 Jun 2021, 13:04 WIB
Diperbarui 22 Jun 2021, 13:14 WIB
FOTO: Menikmati Libur Paskah di Kawasan Kota Tua Jakarta
Perbesar
Pengunjung berjalan-jalan di kawasan wisata Kota Tua Jakarta, Minggu (4/4/2021). Libur panjang perayaan Paskah 2021 dimasa pemberlakuan PPKM Berskala mikro dimanfaatkan sejumlah warga untuk berwisata di kawasan Kota Tua Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta atau secara resmi bernama Daerah Khusus Ibukota Jakarta disingkat DKI Jakarta merupakan ibu kota negara Indonesia. Jakarta adalah satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi.

Letak Jakarta berada di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Jakarta memiliki luas wilayah sekitar 664,01 kilometer persegi. Kota ini merupakan kota terpadat di Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 11.100.929 jiwa pada 2020.  Wilayah metropolitan Jakarta yakni Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, adalah metropolitan terbesar di Asia Tenggara bahkan berada pada urutan kedua di dunia.

Jakarta juga mempunyai julukan 'The Big Durian' karena dianggap kota yang sebanding New York City yang disebut 'Big Apple'. Sebagai sentra bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya banyak kantor-kantor pusat seperti BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing. Jakarta juga menjadi tempat lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor sekretariat ASEAN berkedudukan.

Selain itu, masih banyak hal lain tentang Jakarta. Berikut enam fakta menarik tentang Jakarta yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. 13 Kali ganti nama

Sebelum dikenal luas dengan nama Jakarta, ternyata kota ini sudah sekitar 13 kali berganti nama. Awalnya pada abad ke-14 kota ini disebut Sunda Kelapa. Pada 1527 diganti nama menjadi Jayakarta oleh Fatahilah. Pada masa kolonial tahun 1621, Belanda untuk pertama kali membentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia, kemudian berubah menjadi 'Gemeente Batavia', dan Stad Gemeente Batavia.

Pada masa pendudukan Jepang sejak 1942, kota ini diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi. Setelah kemerdekaan secara berturut-turut, Jakarta berganti nama menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta, Stad Gemeente Batavia, Kota Praj'a Jakarta, Kota Praja Djakarta Raya, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Jakarta, dan kini menjadi DKI Jakarta.

2.  Maskot Jakarta yang sesungguhnya

Jakarta identik di mata masyarakat dengan tugu Monas. Tak heran, banyak orang mungkin mengira bahwa monumen ini merupakan maskot Jakarta. Namun, ternyata maskot sesungguhnya dari Jakarta adalah salak Condet dan elang bondol. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989 tentang Penetapan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai Identitas/Maskot DKI Jakarta yang ditandatangani oleh Gubernur Wiyogo Admodarminto.

Pemprov DKI Jakarta kala itu untuk menjadikan salak Condet dan elang bondol sebagai maskot karena keberadaanya yang langka. Tujuannya agar masyarakat lebih mengenal dan melestarikan flora dan fauna tersebut.

Salak Condet adalah tanaman endemik Jakarta dan jenis flora langka yang banyak ditemukan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Sementara elang bondol termasuk jenis satwa langka dan penyebarannya terbatas pada gugusan Kepulauan Seribu.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3. Nama pasar sesuai nama hari dalam sepekan

FOTO: Larangan Mudik Berakhir, Stasiun Pasar Senen Kembali Ramai
Perbesar
Calon penumpang KA Jarak Jauh antre lapor mandiri di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (18/5/2021). Stasiun Pasar Senen kembali beroperasi melayani keberangkatan dan kedatangan penumpang KA Jarak Jauh pasca berakhirnya masa pelarangan mudik Lebaran 2021. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Jakarta mempunyai nama-nama pasar sesuai dengan nama hari dalam sepekan. Bahkan, dari nama-nama hari tersebut yaitu Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Rebo, dan Pasar Jumat, kini menjadi nama sebuah daerah. Sedangkan, Pasar Selasa, Pasar Kamis, dan Pasar Sabtu, namanya tidak terdengar lagi, konon katanya karena terkalahkan oleh nama lainnya.

Pemakaian nama hari dalam sepekan pada pasar itu tidak lepas dari peraturan yang dikeluarkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada waktu itu, mereka hanya membolehkan sebuah pasar beroperasi satu kali dalam sepekan dengan alasan keamanan dan pengunjung pasar dapat lebih mengenal setiap pasarnya.  Karena itulah, penamaan pasar pun menyesuaikan waktu pasarnya dibuka dan melakukan kegiatan operasional.

4. Pekan Raya Jakarta

Untuk memperingati ulang tahun Jakarta biasanya akan berlangsung Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair. Acara tersebut adalah pameran tahunan terbesar di Indonesia. Walaupun namanya pekan, biasanya acara ini berlangsung selama satu bulan penuh dari pertengahan Juni sampai pertengahan Juli untuk memperingati hari jadi kota Jakarta dan tak pernah sepi pengunjung.

PRJ pertama kali digelar di Monas pada 5 Juni sampai 20 Juli 1968 dan dibuka oleh Presiden Soeharto. PRJ pertama itu disebut DF singkatan dari Djakarta Fair.  Lama kelamaan ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Pekan Raya Jakarta sampai sekarang.

Ide PRJ muncul pertama kali oleh Syamsudin Mangan alias Haji Mangan, ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) saat itu. Ia mengusulkan suatu ajang pameran besar untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri yang kala itu mulai bangkit pasca G30S/1965 kepada Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin.

Ide ini kemudian disambut baik oleh Pemerintah DKI karena mereka juga ingin membuat suatu pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu lama. Setiap tahunnya PRJ juga akan dimeriahkan oleh pentas musik per hari nonstop, pesta kembang api spektakuler, pemilihan Miss Jakarta Fair, dan stand-stand pameran yang berjejeran. Sejak 1992, PRJ pindah ke kawasan Kemayoran sampai saat ini.  Namun sejak tahun lalu PRJ tidak diselenggarakan karena pandemi masih melanda.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5. Punya ratusan mal

FOTO: Tak Boleh Mudik, Warga Jakarta Liburan Lebaran ke Mal
Perbesar
Warga berfoto saat berlibur di salah satu mal di Jakarta, Sabtu (15/5/2021). Libur Lebaran dimanfaatkan sebagian warga Jakarta yang tidak dibolehkan mudik untuk berekreasi ke mal. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebagai kota metropolitan, banyak mal-mal megah berdiri di Jakarta. Untuk memenuhi gaya hidup penduduk Jakarta yang modern, kota ini memiliki lebih dari 170 mal. Hal itu membuat Jakarta menjadi salah satu kota dengan jumlah mal terbanyak di dunia.

Beberapa sumber mengatakan rata-rata orang Jakarta menghabiskan waktu sekitar tiga jam setiap kali pergi ke mal. Tercatat, Jakarta Selatan memiliki jumlah mal paling banyak dibandingkan wilayah Jakarta lainnya.

6.  Punya banyak museum

Bukan hanya mal, Jakarta ternyata juga punya puluhan museum. kota ini tetap mempertahankan nilai sejarah dan budayanya lewat 47 museum yang tersebar di penjuru kotanya. Selain dikelola pemerintah, ada juga beberapa museum yang dimiliki oleh swasta dengan bergaam koleksi yang unik dan menarik.

Jika Anda bertandang ke Jakarta jangan lupa mengunjungi museum-museum menarik di sini. Ada Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Layang-layang, Museum Fatahillah, Museum Gajah, Museum Tekstil dan masih banyak lagi.  (Jihan Karina Lasena)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Jakarta Terancam Genting Covid-19

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya