Memulihkan Pariwisata Indonesia dengan Membangun Desa Wisata

Oleh Asnida Riani pada 18 Jun 2021, 09:02 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 09:02 WIB
Wisata Garut
Perbesar
Desa Wisata Sindangkasih, Garut, Jawa Barat. (dok. Instagram @desawisatasindangkasih/instagram.com/p/CNSap4IlLFY/)

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 memaksa sektor pariwisata tiarap sejak tahun lalu. Namun, dengan ragam adaptasi, rencana pemulihan mulai diusung. Menurut Panca Sarungu, Ketua Umum Masyarakat Sadar Wisata (MASATA), upaya itu bisa dilakukan dengan membangun desa wisata.

Dalam Wise Steps Tourism Forum bertajuk "Destination Recovery Guideline," hasil kerja sama Wise Steps Foundation dengan Travel Foundation, Panca menjabarkan target pengembangan desa wisata periode 2021--2024. Pada 2021, pengembangan ditargetkan pada 150 desa wisata.

Targetnya akan dinaikkan jadi 195 desa wisata pada tahun depan. Kemudian pada 2023, ditargetkan ada 220 desa wisata dan menyusul 205 desa wisata pada 2024.

"Desa-desa wisata ini kemudian dibagi lagi ke dalam tiga kategori, yaitu desa maju, desa berkembang, dan desa rintisan," katanya, Kamis, 17 Juni 2021.

Desa wisata rintisan, kata Panca, dikembangkan dengan membangun sumber daya manusia lokal jadi kelompok masyarakat yang mau berpartisipasi dalam pembangunan desanya. Kemudian, desa wisata maju yang menjadikan kelompok masyarakat yang mandiri dan mampu membangun tim kerja yang kuat. Juga, membangun kerja sama antar kelompok masyarakat dengan pihak lain.

"MASATA akan membantu dengan memastikan setiap DPD/DPC sudah berkontribusi dengan pihak pemerintah setempat dalam Program Pengembangan Desa Wisata," tuturnya.

Desa Wisata Maju

Wisata Desa Adat di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 bagi wisatawan yang berkunjung
Perbesar
Wisata Desa Adat di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 bagi wisatawan yang berkunjung. (Liputan6.com/Ika Defianti)

Desa wisata maju akan didampingi dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan sumber daya masyarakat (SDM) dalam mengembangkan produk dan pengelolaan desa wisata dari hulu ke hilir. Langkah selanjutnya adalah sertifikasi kompetensi SDM pariwisata dan meningkatkan kemampuan SDM tentang digitalisasi.

"Desa wisata maju ini kebanyakan bisa kita dapatkan di Bali," katanya.

Terkait ini, pihaknya berperan dalam memberi pelatihan pada pengurus DPD/DPC untuk memperbaharui berbagai agenda. Juga, mempromosikan daerahnya melalui aplikasi MASATA.

"Itu (aplikasi MASATA) saat ini sudah bisa diunduh di Play Store dan sedang dalam proses pengajuan ke App Store," ucap Panca.

Fokus Pengembangan Desa Wisata

Desa Wisata
Perbesar
Persawahan di Desa Bilebante, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). (dok. Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Dalam implementasinya, Panca menjelaskan beberapa poin yang jadi fokus utama dalam pengembangan desa wisata sebagai roda pemulihan sektor pariwisata. Pertama, implementasi Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) (CHSE).

Kemudian, menonjolkan keunikan produk, memahami pola perjalanan yang berubah karena pandemi COVID-19, dan menitikberatkan pada destinasi dengan akses langsung. Di samping itu, Mochamad Nalendra, founder, sekaligus CEO Wise Steps Consulting, mengatakan bahwa ada tiga kunci dalam pemulihan pariwisata secara umum.

Pertama, merespons tren. Kedua adalah memperkirakan dampak. Terakhir, menanggulangi ketakutan pelancong dengan mengomunikasikan pedoman perjalanan yang tepat.

Infografis 4 Risiko Mobilitas Saat Liburan untuk Cegah COVID-19

Infografis Yuk Kenali 4 Risiko Mobilitas Saat Liburan untuk Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Kenali 4 Risiko Mobilitas Saat Liburan untuk Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓