Selamat Hari Tempe Nasional, Begini Sejarah dan Keunikan Makanan Kesukaan Sukarno

Oleh Liputan6.com pada 06 Jun 2021, 17:31 WIB
Diperbarui 06 Jun 2021, 17:31 WIB
Produksi Tempe Kembali Menggeliat
Perbesar
Perajin memproduksi tempe di kawasan Sunter, Jakarta, Senin (4/1/2021). Perajin tempe setempat berupaya mengurangi kerugian akibat melonjaknya harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran tempe dan menaikan harga jual kisaran Rp1.000 - Rp2.000 per potong. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Tempe merupakan makanan khas Indonesia yang terbuat dari fermentasi biji kedelai. Kabarnya, makanan tradisional ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, dalam budaya masyarakat Suku Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta.

Banyak makanan tradisional berbahan baku kedelai berasal dari China. Sebut saja tahu, kecap, tauco. Tidak seperti makanan itu, tempe tidak berasal dari China tapi diyakini berasal dari Indonesia. Belum jelas benar kapan pertama kali tempe mulai dibuat. Namun kabarnya, makanan tradisional ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu dalam budaya masyarakat suku Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta.

Dalam manuskrip Serat Centhini ditemukan bahwa masyarakat Jawa pada abad ke-16 telah mengenal “tempe”. Kata tempe disebutkan sebagai hidangan bernama jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan.

Pada masyarakat Jawa Kuno terdapat makanan olahan berwana putih yang terbuat dari tepung sagu yang biasa disebut tumpi. Makanan tersebut terlihat memiliki kesamaan dengan tempe segar yang juga berwarna putih. Bisa jadi, ini menjadi asal muasal dari mana kata “tempe” berasal.

Dikutip dari laman BSN: Tempe: Persembahan dari Indonesia untuk Dunia, Minggu, (6/6/2021), Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50 persen dari konsumsi kedelai Indonesia digunakan untuk memproduksi tempe, Sementara sisanya 40 persen menjadi tahu, dan 10 persen dalam bentuk produk lain, seperti tauco, kecap, dan lain- lain.

Saat ini, konsumsi tempe rata-rata per tahun di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 6,45 kg. Umumnya, masyarakat Indonesia mengonsumsi tempe sebagai lauk pendamping nasi.

Tempe kini mulai berkembang dan banyak diolah sebagai aneka penganan siap saji yang diproses dan dijual dalam kemasan, misalnya keripik tempe.

Untuk membuatnya bisa terbilang tidak terlalu sulit, karena bahan utamanya hanya tempe dan tepung. Anda bisa membuatnya dengan cara masak digoreng. Biasanya rasa dari olahan tersebut gurih dan renyah, jadi cocok untuk dijadikan camilan. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tempe di Eropa dan Amerika

[Bintang] Sambal Tempe Kecap Pedas
Perbesar
Sambal Tempe Kecap Pedas, menu yang pas untuk sahur. foto: nandang wuyung/vemale.com

Penyebaran tempe telah meluas menjangkau berbagai kawasan. Masyarakat Eropa sudah cukup lama mengenal tempe yang diperkenalkan para imigran asal Indonesia yang menetap di Belanda. Melalui Belanda, keberadaan tempe menyebar ke negara Eropa lain seperti Belgia dan Jerman.

Tercatat, tempe cukup populer di beberapa negara Eropa sejak 1946. Di Amerika Serikat, tempe populer sejak pertama kali dibuat oleh Yap Bwee Hwa pada 1958. Yap Bwee Hwa merupakan orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, tempe diteliti sejak 1926 dan mulai diproduksi secara komersial sekitar 1983.

Sejak 1984, sudah ada beberapa perusahaan tempe di Eropa, Amerika,Serikat dan Jepang. Di beberapa negara seperti Selandia Baru, India, Kanada, Australia, Meksiko, dan Afrika Selatan, tempe juga dikenal meski baru di kalangan terbatas

Tempe juga akan jadi bagian diplomasi kuliner Indonesia, terutama setelah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan pihaknya akan menjadikan tempe sebagai bagian dari promosi kuliner Indonesia di dunia internasional. Tempe juga sedang diajukan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO dan harus melalui sejumlah tahapan. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cara Tradisional

Keripik tempe di Sentra Industri Tempe Sanan Malang
Perbesar
Perajin di salah satu rumah mengemas keripik tempe di Sentra Industri Tempe Sanan Malang, Jawa Timur (Liputan6.com/Zainul Arifin)

Selain itu, tempe memiliki keunikan lain. Contohnya, proses produksi tempe umumnya menggunakan cara-cara yang tradisional, artinya, masih belum menerapkan teknologi modern.

Pada dasarnya, cara membuat tempe terdiri dari dua bagian besar, yaitu proses pemasakan kedelai dan dilanjutkan dengan proses fermentasi. Meski diproduksi secara tradisional, bukan tak mungkin untuk menghasilkan tempe yang higienis.

Masyarakat Indonesia pun gemar mengonsumsi tempe karena higeinis dan bergizi. Kandungan gizi dalam tempe juga jauh lebih tinggi dibandingkan daging ayam dan kambing.

Para peneliti terhadap nilai gizi tempe mentimpulkan bahwa tempe mengandung elemen yang berguna bagi tubuh, seperti asam lemak, vitamin, mineral, dan antioksidan. Dengan nilai gizi yang baik, mengonsumsi tempe dapat berdampak positif bagi kesehatan.

Dikutip dari kanal Bola Liputan6.com, tempe punya banyak manfaat tuntuk kesehatan tubuh, seperti menurunkan kolesterol, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dapat menangkal kanker dan lain-lain. Tempe juga memiliki tekstur yang empuk, membuatnya menjadi pengganti yang baik untuk produk daging. Harga tempe juga termasuk murah apalagi dibandingkan produk daging.  (Muhammad Thoifur)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

Infografis Diplomasi Lewat Jalur Kuliner
Perbesar
Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓