Perempuan Hong Kong Bikin Film Pendek dari Pengalamannya Merasa Kesepian Saat Isolasi Mandiri

Oleh Liputan6.com pada 01 Jun 2021, 18:02 WIB
Diperbarui 01 Jun 2021, 18:04 WIB
Kitamura memerankan seorang gadis pemalu bernama Annie, yang mendapati dirinya di tengah pandemi.
Perbesar
Kitamura memerankan seorang gadis pemalu bernama Annie, yang mendapati dirinya di tengah pandemi. (dok Foto: Katie Lau/Muhammad Thoifur)

Liputan6.com, Jakarta - Seorang perempuan bernama Yuyu Kitamura berjuang menghadapi kesehatan mental saat menjalani isolasi pandemi Covid-19.  Perempuan berdarah Jepang yang tinggal di Hong Kong dan berkarier di Amerika Serikat itu kembali dari New York pada September lalu. Namun, ia belum siap untuk merasa kesepian selama dua minggu menjalani isolasi mandiri.

Kitamura baru saja menyelesaikan gelar di bidang teater dan akting di New York University. Sebelum kembali ke Hong Kong, ia sempat berpikir punya kesempatan untuk menenangkan diri selama isolasi. Namun, ia tak mengira menghadapi hal yang sangat buruk terutama dalam hal kesehatan mental.

"Itu lebih sepi dari yang saya kira, saya pikir orang akan saling mengecek satu sama lain. Saya tahu sulit untuk mengharapkan hal itu ketika semua orang menghadapi kesulitan sendiri. Saya harus mengatasi kecemasan dan depresi," kata Kitamura seperti dikutip dari laman South China Morning Post, Senin, 31 Mei 2021.

Ia mengungkapkan bahwa masa pandemi membuat rasa kesepiannya bertambah, terutama saat menjalani karantina mandiri. Hal itu dituangkannya menjadi dasar cerita dari sebuah karya film pendek, berdurasi 20 menit.

Film ini menceriakan tentang seorang gadis pemalu bernama Annie yang diperankan sendiri oleh Kitamura.  Annie mendapati dirinya di tengah pandemi dan menyadari ia sangat kesepian. Selain itu, film pendek berjudul ‘Invited In’ ini menyoroti kecemasan dan ketakutan yang banyak dihadapi anak muda saat ini.

Akibat merasa sepi, Annie dipaksa untuk keluar dari zona nyamanya dan membuat teman online melalui jaringan media sosial. Namun ia kemudian menyadari bahwa pertemanan online terkadang menjadi persahabatan yang palsu.

"Pertemaman online bisa merusak kesehatan mental, terutama kaum muda karena sering memberika harapan yang tidak masuk akal," jelasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pengalaman Positif

Merasa Rendah Diri dan Tidak Berharga
Perbesar
Ilustrasi Kesepian Credit: unsplash.com/Anthony

Yuyu Kitamura mengaku terkejut dengan kecepatan interaksi sesama manusia di media sosial. "Saat saya masih remaja, satu-satunya media sosial adalah Facebook, tetapi sekarang kita bisa terhubung dengan berbagai platfrom, media sosial mulai dari TikTok hingga Instagram," katanya.

Ketika berselancar di media sosial, ia memiliki pengalaman positif saat pandemi. Selain itu, Kitamura sempat membaca buku tentang bagaimana orang-orang paling sukses dunia meluncurkan karier mereka.

"Lebih dari 50 hari saya mulai berteman dengan orang asing di seluruh dunia dan sekarang mereka adalah orang-orang di hidup saya yang benar saya kagumi dan anggap sebagai teman, Hal paling positif yang keluar dari pandemi bagi saya adalah mengetahui ada orang di luar sana yang peduli pada Anda," kata Kitamura.

Sementara itu, proyek karya film pendek ini diharapkan membantu orang-orang yang ingun memulai percakapan tentang cara terhubung dan berinteraksi satu sama lain secara online.

"Ada sesuatu yang lebih asli dan jujur tentang interaksi, saya berharap orang-orang muda bisa lebih sadar akan hal itu dan menghargai bahwa kehadiran media sosial tidaklah autentik," tutupnya.  (Muhammad Thoifur)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

6 Tips Isolasi Mandiri di Rumah

Infografis 6 Tips Isolasi Mandiri di Rumah. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 6 Tips Isolasi Mandiri di Rumah. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓