Sisi Lain Luhut Binsar Pandjaitan dan Keluarga, Kelola Yayasan untuk Kembangkan Pendidikan Berkualitas

Oleh Dinny Mutiah pada 31 Mei 2021, 16:03 WIB
Diperbarui 31 Mei 2021, 16:04 WIB
Sisi Lain Luhut Binsar Pandjaitan dan Keluarga, Kelola Yayasan untuk Kembangkan Pendidikan Berkualitas
Perbesar
Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Del Luhut Binsar Pandjaitan, pendiri dan pembina Yayasan Del Devi Simatupang, dan Ketua Pengurus Yayasan Del Patuan P. Simatupang dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, 31 Mei 2021. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menampilkan sisi lain dirinya bersama keluarga, yakni kiprah membangun pendidikan berkualitas di semua jenjang bagi anak-anak daerah. Yayasan Del, yang didirikannya pada 2001, kini sudah menaungi enam afiliasi di ulang tahun ke-20.

Awalnya, ia tak terpikir mendirikan yayasan yang namanya diambil dari bahasa Ibrani itu. Setelah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Luhut hanya ingin membuka sekolah agar kualitas manusia, terutama yang berada kampung halamannya di Toba, meningkat. Ternyata, mendirikan sekolah perlu dinaungi oleh yayasan.

"Saat di Singapura, saya mempelajari bahwa negara itu bisa maju karena pendidikan. Setelah krisis moneter 1998, mereka lakukan pembangunan politeknik dan infrastruktur ... Di Indonesia, pendidikan masih terbelakang. Saat itu saya ingin bikin kecil aja, suatu politeknik," tutur Luhut dalam Media Luncheon Ulang Tahun ke-20 Yayasan Del di Jakarta, Senin (31/5/2021).

Sekolah pertama yang didirikannya adalah Politeknik Informasi Del. Kampus itu fokus pada dua bidang, yakni teknologi informasi dan bioteknologi. Saat itu, ia meyakini kedua bidang tersebut akan jadi tumpuan di masa datang. Ia menggandeng sejumlah dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memformulasikan kurikulum bagi calon mahasiswa sekaligus meminta mereka mengajar di sana.

"Ternyata memang dua bidang itu kita butuhkan sekarang. Saya baru pulang dari Korea, di sana diperlihatkan bagaimana bioteknologi merasuk ke kehidupan kita. Bidang pertanian, kesehatan," ujar dia.

Setelah politeknik yang kini berganti nama jadi Institut Teknologi Del, Yayasan Del kemudian membuka Sekolah Noah. Sekolah itu dikelola anak pertama Luhut Binsar Pandjaitan. Kisahnya dipicu rasa frustasi sang anak saat disuruh mengelola bisnis ayahnya. Kini, sekolah tersebut tersedia dari jenjang TK hingga SMP.

"Setiap pulang ke rumah, dia nangis jengkel karena jiwanya bukan di bisnis, tapi pendidikan. Dari kecil, dia memang kepingin jadi guru. Lalu, kita ada rumah di Cijantung yang kosong. Saya suruh bikin sekolah untuk anak-anak sekitar. Bikinlah Sekolah Noah, dimulai dari preschool, sekarang dilengkapi dengan SD dan SMP," jelas Devi Pandjaitan, sang istri.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Warisan untuk Anak Cucu

Sisi Lain Luhut Binsar Pandjaitan dan Keluarga, Kelola Yayasan untuk Kembangkan Pendidikan Berkualitas
Perbesar
Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Del Luhut Binsar Pandjaitan, pendiri dan pembina Yayasan Del Devi Simatupang. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Yayasan makin berkembang dengan membuka SMA Unggul Del yang merupakan sekolah berasrama pada 2012. Lokasinya tetap di daerah Toba. 

Pada 2013, sang cucu pertama, Faye Hasian Simanjuntak, mengusulkan untuk membuat rumah aman bagi anak-anak korban perdagangan manusia di Batam. Hingga kini, 136 anak sudah diselamatkan.

Tak berhenti di situ, pada 2018, Yayasan Del juga meresmikan Radio Del FM dan TobaTenun yang fokus pada pelestarian tradisi leluhur, khususnya ulos. Saat ini, Luhut mengaku hampir semua afiliasi sudah bisa mandiri dalam menghidupi operasionalnya. Kalau pun ada yang masih perlu disubsidi, angkanya tak sebesar dulu.

"Mungkin 2023, (IT Del) enggak disubsdi lagi, tapi mereka ada dana abadi. Dari mana sumbernya? Itu berasal dari keuntungan tiap tahun perusahaan saya, dikasihkan ke endowment," jelas dia. 

Walau terkesan mulus-mulus saja, Luhut mengaku juga menghadapi hambatan, termasuk soal birokrasi, saat mengembangkan yayasan dan institusi pendidikan tersebut. "Birokrasi kita masih sangat feodal. Dalam menjadi menteri kan tugasnya harusnya melayani. Kenapa? Karena kita digaji rakyat, tapi sekarang sudah mulai terbalik," ucap dia.

Luhut dan istri sengaja melibatkan anggota keluarga mereka dalam mengelola yayasan dengan enam afiliasi tersebut. Ia ingin meninggalkan warisan tradisi bila sudah meninggal nanti. Di samping, mengembangkan yayasan tak bisa sendiri, harus bekerja sama dengan tim yang punya passion yang sama agar maju. 

"Ini kontribusi kami sekeluarga, walau kecil tapi kuat. Saya imbau orang berada untuk bentuk semacam ini kalau mau bangsa ini maju," ucap Luhut.

Maka itu, perayaan ulang tahun ke-20 Yayasan Del mengangkat tema "From Heritage to Legacy." Devi berharap bisa meninggalkan pemikiran bahwa pendidikan untuk orang lain itu sangat perlu. "Walau anak kami empat, kami selalu bilang anak kami itu ada lima. Yang ke-5 itu Del. Semua diperlakukan sama dan setara. Kalau kami check-out suatu hari nanti, kami sudah bilang yang ada itu nanti dibagi lima," imbuh Luhut.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Misi di Balik Permintaan Luhut ke Anies

Infografis Misi di Balik Permintaan Luhut ke Anies
Perbesar
Infografis Misi di Balik Permintaan Luhut ke Anies (Liputan6.com/Triyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓