Kisah Inspiratif Turun Berat Badan hingga 26 Kg, Susah Payah Atasi Kecanduan Gorengan dan Mi Instan

Oleh Komarudin pada 28 Mei 2021, 06:30 WIB
Diperbarui 28 Mei 2021, 06:30 WIB
Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Suatu keberhasilan sangat ditentukan oleh tekad yang kuat, termasuk dalam menurunkan berat badan. Hal itu pun dibuktikan oleh Maria Flora. Berawal mengikuti program tantangan sehat untuk wartawan yang dilakukan sebuah perusahaan farmasi sebelum pandemi, perempuan itu susah payah mengatasi kecanduan gorengan.

"Program itu bukan hanya untuk menurunkan berat badan, tapi juga bisa menaikkan berat badan. Sejak itu, aku mulai bertekad untuk menurunkan berat badan dan mengubah pola makan," ujar perempuan berusia 40 tahunan itu saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 27 Mei 2021.

Awal melakukan program tersebut, Maria butuh tekad yang kuat karena apa yang dijalani bukan hal yang mudah. Selama ini, ia sudah terbiasa "jorok" dalam mengonsumsi makanan.

"Aku itu "jorok" soal makanan karena biasa makan mi maupun gorengan. Kalau gorengan aku bisa beberapa kali makan, porsi nasinya juga sangat banyak. Tapi yang paling susah itu menghilangkan kebiasaan makan gorengan, seperti bakwan, tahu, tempe, yang dijual di pinggir jalan," tutur Maria.

Selama tiga bulan mengikuti program itu, Maria tak langsung menyingkirkan gorengan-gorengan itu. Ia masih kesulitan, terutama mi. Maklum, sebelumnya, ia bisa dua kali sehari menyantap mi goreng atau bakmi.

"Saat itu berat badanku 92 kilogram dan termasuk obesitas. Aku termasuk obesitas tingkat parah," ungkap Maria tertawa.

Pada bulan kedua ikut program itu, ternyata ada plak di rongga darah Maria, meskipun berat badannya sudah mulai turun.  Plak berupa lemak itu jika dibiarkan bisa mengganggu peredaran darah yang dapat mengakibatkan serangan jantung.

"Dari situ aku disarankan untuk mengonsumsi beras merah, karena beras putih itu kadar gulanya cukup tinggi. Banyak makan sayur dan lauk, dan mengurangi makanan yang berminyak. Aku juga harus mengonsumsi buah yang berserat tinggi, tapi aku pilih pepaya. Intinya, buah-buahan," katanya.

Jalan Kaki

jalan kaki
Perbesar
Ilustrasi Jalan Kaki. (Sumber: Pixabay)

Sejak mengikuti program itu, ia mulai mengurangi konsumsi nasi putih. Awalnya satu piring, Maria mengubah menjadi setengah piring. Ia juga mulai mengurangi makan mi, yang biasanya bisa dua kali sehari menjadi sekali atau dua kali dalam seminggu.

"Selama mengikuti program itu, aku masih makan mi dan gorengan, tapi porsinya sudah berkurang. Kalau gorengan paling hanya dua atau tiga gorengan saja," imbuh Maria tertawa.

Dua bulan mengikuti program itu, Maria sudah makin sedikit konsumsi nasi. Maria juga disarankan aktif berolahraga dan ia memilih jenis olahraga jalan santai.

"Dalam seminggu aku bisa empat mengelilingi lingkungan RW aku dan RW tetangga. Itu biasanya aku lakukan setiap pukul 05.30 atau pukul 06.00 pagi yang bisa mencapai 2.000 hingga 3.000 langkah," kata dia.

Maria juga rutin memilih jalan kaki ke dan dari Stasiun Gondangdia atau Cikini usai pulang kerja dari Gondangdia, Jakarta Pusat, untuk naik kereta menuju rumahnya di Depok, Jawa Barat.

"Aku usahakan nggak lagi menggunakan ojek online atau ojek pangkalan, tapi jalan kaki. Aku juga kadang-kadang keliling jalan kaki dekat kantor usai makan siang," imbuhnya.

Selesai mengikuti program itu selama tiga bulan, berat badan Maria turun drastis sekitar 14 kilogram. Awalnya, berat badan 94 kg berubah menjadi 80 kg.

Kini, Maria sudah selesai mengikuti program itu, tapi ia tetap menjaga berat badannya. Ia tetap juga tetap menjalani rutinitasnya jalan kaki setiap pagi dan menjaga pola makan.

"Sekarang saya sudah setop makan mi, makan nasi hanya beberapa sendok aja dan banyak konsumi sayur dan makanan yang serba direbus atau dikukus, seperti tahu rebus. Setiap jam enam sore, saya sudah skip apapun, kecuali makan buah pepaya. Sekarang berat badan aku sudah 68 kilogram," tandas Maria.

 

 

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓