Bocah 10 Tahun Ubah Nasib dari Pengungsi Jadi Pemegang Gelar Master Catur Nasional

Oleh Putu Elmira pada 14 Mei 2021, 02:02 WIB
Diperbarui 14 Mei 2021, 02:02 WIB
Tanitoluwa Adewumi
Perbesar
Tanitoluwa Adewumi saat menghadiri Tribeca Disruptive Innovation Awards selama Tribeca Film Festival 2019 di BMCC Tribeca PAC pada 3 Mei 2019 di New York City. (DIA DIPASUPIL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kisah inspiratif datang dari seorang bocah berusia 10 tahun bernama Tanitoluwa Adewumi. Ia berhasil memenangkan gelar Master Catur Nasional di Amerika Serikat (AS) pada 1 Mei 2021.

Dikutip dari laman People, Kamis, 13 Mei 2021, pencapaian bocah yang akrab disapa Tani ini menjadikannya orang termuda ke-28 di Negeri Paman Sam yang mencapai peringkat tinggi tersebut, demikian menurut Federasi Catur AS.

Kemampuan luar biasa Tani sebagai pemain catur membantunya dan keluarganya, pengungsi dari Nigeria, keluar dari penampungan tunawisma di New York City, menurut New York Times. "Saya sangat senang saya menang dan mendapatkan gelar. Saya sangat senang akhirnya mendapatkannya," katanya kepada NPR.

Tani mengungkapkan, ia berlatih catur setiap hari sepulang sekolah selama 10 atau 11 jam. Tujuan berikut sang bocah adalah menjadi grandmaster termuda di dunia, katanya kepada NPR.

New York Times melaporkan, Tani adalah pengungsi Nigeria yang akan berusia 11 tahun pada musim panas ini. Ia hanya memiliki waktu kurang dari dua tahun untuk mengambil gelar dari Sergey Karjakin.

Kemampuan Tani diakui pada 2019 setelah ia memenangkan kejuaraan catur negara bagian New York untuk kelompok usianya, tulis New York Times. Prestasi tersebut datang hanya setahun setelah dia belajar bermain catur di sekolah saat tinggal di penampungan tunawisma.

Keluarganya tidak mampu membayar keanggotaan program catur sekolahnya pada satu waktu, namun guru caturnya membebaskan biaya tersebut, seperti dilaporkan USA Today saat itu. Orang lain juga turun tangan untuk mendukung bakat Tani.

2 dari 4 halaman

Buat Buku

Ilustrasi catur
Perbesar
Ilustrasi catur. (Photo by Jani Kaasinen on Unsplash)

Ayah Tani membuat halaman di GoFundMe yang mengumpulkan dana sebesar 254.448 dolar AS atau setara Rp3,6 miliar. Hal tersebut memungkinkan keluarga mereka mendapatkan tempat tinggal dan kebutuhan lainnya.

"Kehidupan Tani berubah dalam 24 jam. Donor dan pendukung yang dermawan berkumpul di luar GoFundMe dan memberi kami perumahan, hukum, dan sumber daya pendidikan yang kami butuhkan," bunyi keterangan update di halaman tersebut pada April 2019.

Tani juga menulis buku bertajuk My Name Is Tani . . . and I Believe in Miracles. Buku itu lalu diadaptasi film Paramount dengan Trevor Noah sebagai produser, demikian Deadline melaporkan pada November 2019.

3 dari 4 halaman

Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya
Perbesar
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓